Sunday, November 2

KEUTAMAAN SHALAWAT

جاءت امرأة إلى الحسن البصرى رضى الله عنه فقالت : إنه كانت لى ابنة شابة فماتت وأحببت أن أراها فى المنام فجئتك كى تعلمنى ما أستعين به على رؤيتها،
Seorang wanita mendatangi Imam Hasan Al-bashri RA., dan dia berkata : “Aku memiliki seorang Putri yang masih muda belia, Putriku itu sudah meninggal dan Aku ingin mimpi bertemu dengannya. Kali ini Aku mendatangimu agar Engkau mengajariku doa yang hendak Aku gunakan untuk bisa menemuinya dalam mimpi.

فعلمها فرأتها وعليها لباس من قطران، وفى عنقها الغل وفى رجلها القيد، فأخبرت الحسن بذلك فاغتم
Maka Imam Hasan mengajarinya. Singkat cerita, Wanita itu melihat Putrinya dalam mimpi dengan kondisi mengenaskan, dia mengenakan pakaian yang berupa aspal, lehernya di lilit oleh belenggu, dan kakinya di ikat rantai. Selepas dari mimpi tadi, sang wanita langsung memberi kabar kepada Imam Hasan mengenai kondisi Putrinya di alam kubur, mendengar itu Imam hasan turut bersedih.

ومضت مدة ثم رآها الحسن فى الجنة وعلى رأسها تاج فقالت يا حسن أما تعرفنى، أنا ابنة المرأة التى أتتك وقالت لك كذا، فقال لها : ما الذى صيرك إلى ما أرى؟
Selang beberapa hari kemudian, giliran Imam Hasan mimpi bertemu dengan Putri Wanita itu di surga, di atas kepalanya terdapat Mahkota Indah. Putri Wanita itu berkata : “Wahai Hasan, apa Kamu tidak mengenaliku? Aku adalah Putri seorang Wanita yang pernah menghampirimu dan bercerita tentang ini dan itu.”
Imam Hasan berkata : “Apa yang bisa membuat kondisimu berubah menjadi seperti yang Aku lihat kali ini?”

قالت : مر بنا رجل فصلى على النبى صلى الله عليه وسلم مرة، وكان فى المقبرة خمسمائة وخمسون إنساناً فى العذاب فنودى : ارفعوا العذاب عنهم ببركة صلاة هذا الرجل
Putri Wanita itu menjawab : “Pernah seseorang lelaki lewat perkuburan Kami, kemudian dia menyempatkan diri membaca salawat satu kali untuk Nabi Muhammad Saw., di tempat pemakaman kami terdapat 550 penghuni kubur yang di siksa, kemudian terdengar suara mengumandang, “Angkatlah siksa dari semua penghuni kubur itu, dengan berkah dari salawat seorang lelaki ini”.

بفضل صلاة هذا الرجل على سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم أصابتهم المغفرة فمن يصلى عليه منذ خمسين سنة أفلا يجد شفاعته يوم القيامة

(Renungan) hanya dengan keutamaan satu salawat seorang lelaki ini, seluruh penghuni kubur pada cerita di atas mendapatkan ampunan. Terus, seorang muslim yang rutin membaca salawat kepada Beliau Saw. semenjak 50 tahun, apa kiranya dia tidak mendapatkan syafaat dari Beliau Saw. kelak di hari kiamat?

Sumber: Kitab Mukasyafatu Al Qulub Lil Ghazali

Friday, October 24

TENTANG BIRR ALWALIDAIN.

Berkata Kiai Nawawi Banten, dlm kitab-nya Tanqihul Qaul, berkata Sahabat Anas bin Malik Ra:

Di era Zaman rosulullah, ada seorang laki-laki yang bernama AlQamah. Keadaanya banyak berijtihad, bersusah payah dalam mencari kebaikan dan dia juga banyak bersedekah.

Kemudian, suatu hari dia terjatuh sakit. Sakit yang sangat, dan bertambah parah sakitnya. Sehingga istri-nya mengirimkan utusan kpd Rosulullah Saw. (Sampai sekarang tradisi spt ini masih banyak dijumpai, ketika mengalami kerepotan, masyarakat pada umum-nya sowan kpd Kiai sekitar untuk diharapkan dapat mengurangi kerepotannya).

Berkata istri Alqamah, "Wahai rosulullah, sungguh.. suamiku dlm keadaan naza'.., aku berharap banyak, supaya engkau melihat keadaanya".

Kemudian, rosulullah-pun bersabda kepada para sahabat, "mari kita menjenguk, bagaimana keadaan-nya".

Lalu Sahabat Anas bin Malik, mengatakan juga: Ketika Rosulullah Saw memasuki rumahnya, beliau bersabda kpd-nya, "Wahai Alqamah, bagaimana keadaanmu?". Dia tdk mengatakan sepatah kata, beliau tahu kalaw dia lemah, tdk mampu berkata. Rosulullah men-talqin-nya, menuntun bacaan syahadat (ini juga dianjurkan ketika menjumpai seseorang yang naza'), akan tetapi Alqamah tdk mampu mengikuti talqinrosulullah, yang dilakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan beliau mengulanginya beberapa kali.

Beliau menanyakan, apakah Si Alqamah memiliki orang tua?, Bapaknya sudah meninggal, tapi ibunya sudah tuarenta masih hidup jauh disana. Demikian jawaban beberapa sahabatnabi dari pertanyaan Rosulullah Saw.

Kemudian Rosululloh Saw, mengutus beberapa sahabat, untuk meng-khabarkan keadaanya, kepada Ibu AlQamah.

Singkatcerita, ibu Alqamah mendatangi Alqamah. Lalu rosulullah bertanya kpd Umi Alqamah. "Wahai umi Alqamah.. bagaimana keadaan Alqamah, menurutmu?

Ya.. rosulullah, dia itu ahli puasa, ahli bersedekah, ahli shalat. Dia itu banyak melakukan kebaikan. Akan tetapi aku marah kepadanya, tdk ridha, karena dia anakku tapi mengutamakan istrinya dari pada aku.

Bergegas, kumpulkan kayu bakar.lalu bakarlah dia. Mendengar sabdanabi yang dikatakan kpd beberapa sahabarnabi tersebut, ibu Alqamah mulai ibaa. Dia katakan kpd rosulullah, wahai rosulullah.. jangan lakukan demikian kpd anakku, buah~hatiku.

Inti.. Beliau bersabda kpd umi Alqamah, Adzab Alloh.. lebih pedih. Sungguh Alloh Swt tidak ridha, kecuali dengan ridhamu, dan shalat, sedekah, puasa-nya anakmu tdk akan diterima, selagi engkau marah/ jengkel kpdnya.

Ya rosulullah, aku bersaksi kpd Alloh. Bahwa aku ridha kepada anakku Alqamah. Berikut jawaban umi Alqamah.


Kemudian, Rosulullah mentalqin Alqamah, dan Alqamah-pun dengan bibir-nya lafalkan dua kalimah syahadat, teriring mata tertutup, ruh meninggalkan raganya.

Friday, October 17

KISAH KEUTAMAAN SHALAWAT

Qiila waqaala, dikatakan Kiai Nawawi Banten, dalam maqalah-nya yang lembut dan penuh kasih-sayang, dalam Kitab Kuning Tanqihul Qaul.
Berkata seorang sufistik ulung, bahwa beliau mempunyai tetangga, yang suka berlebihan dlm kehidupan-nya, malah terkadang suka mabuk²an, dan istrinya berulangkali memerintahkan sembuh dari kemaksiatan, akan tetapi dia tdk menggubris-nya.
Tiba ajal-nya seseorang tersebut datang, seorang sufi bermalam dan menjumpai tetangganya dlm mimpinya dlm keadaan penuh kegirangan, berlimpah ruah kegembiraan di syurga. Beliau katakan:
Apa gerangan amal kamu, wahai tetanggaku? Sehingga mendudukkanmu dalam kemuliaan dikehidupan setelah matimu?

Dia jawab:
Suatu ketika, aku pernah mendatangi majlis dzikir, disana aku mendengar seorang alim berkata:

مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَفَعَ صَوْتَهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ.
Artinya ±: Barangsiapa bershalawat atas Nabi Muhammad Saw, dan mengangkat suara-nya, maka wajib baginya Syurga.

Kemudian, orang alim tersebut meneriakkan bacaan shalawat dengan kencang, dan aku ikut membaca shalawat dengan kencang, kemudian diikuti semua para jamaah dimajelis mulia itu. Maka Alloh Swt Mengampuni semua dosa²-ku dihari itu juga, kemudian kami semua mendapatkan Rahmah Kasih-sayang Alloh Swt.
Lalu, setelah membaca kitab ini saya bacakan shalawat ini, dengan harapan seperti yang dialami, dlm kisah menarik diatas:

Tuesday, October 14

SHALAT AL-ISTISQA’

عن ابن عبّاسٍ - رضي الله عنهما - قالَ: خرَجَ النّبيُّ - صلى الله عليه وسلم - مُتواضعاً مُتبذِّلا مُتخشِّعاً مُترسِّلاً مُتضَرِّعاً فَصَلّى ركْعتين كما يُصلِّي في العيد لَمْ يخْطُبْ خُطبتَكم هذه. رواهُ الخمْسةُ، وصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وأَبُو عَوَانَةَ، و ابْنُ حِبَّانَ.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra, beliau katakan bahwa Nabi Saw keluar rumah, dengan tawadlu’, dan dengan mengenakan pakaian sehari-hari ( =bukan mewah), dengan khusyu’, dan melangkah dengan pelan, dan dengan merendahkandiri, kemudian beliau shalat dua raka’at, seperti shalat ‘Id, beliau tidak berkhutbah (untuk memberikan) khutbah pada kalian, (dalam shalat) ini.
Hadits ini diriwayatkan imam khamsah (semua tujuh imam besar hadits, kecuali Imam Bukhari & Muslim), hadits ini dishahihkan oleh Imam Tirmidzi, Abu ‘Awanah, dan Ibnu Hibban (radlialLahu ‘anhum).

1000
Doa Shalat Al-Istisqa'

Shalat Istisqa’, makna dzahir hadits meng-isyarat-kan di-syari’atkan-nya shalat Istisqa’ dalam hukum syar’i, akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah, tidak disyari’atkan shalat Istisqa’, akan tetapi Istisqa’ adalah berdoa memohon siraman air hujan. Kemudian para Ulama berselisih pendapat tentang kaifiyah (tata-cara) Shalat Istisqa’, dianatara-nya, mengatakan bahwa takbir dan bacaan-bacaan yang dibaca dalam shalat Istisqa’ seperti pelaksanaan shalat ‘Id, sebagaima yang dikatakan dalam nas Imam Syafi’i, yang merujuk pada makna hadits Ibnu Abbas diatas.

Ada beberapa pendapat yang mengatakan, shalat Istisqa’ dilaksanakan dengan dua rakaat, tidak berbeda dalam sifat pelaksanaan shalat ‘Id, Imam Malik mengatakan demikian dengan meng-isyarah-kan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari, dari riwayat sahabat Ali Ra (1), kemudian dari riwayat ‘Ubbad bin Tamim, bahwa beliau Rosulullah Saw shalat dua rakaat bersama jama’ah. Keterangan ini juga seperti hadits yang diriwayatkan Aisyah Ra (2), para Ulama yang sependapat dengan pendapat ini, mereka men-ta’wil hadits Ibnu Abbas diatas, bahwa shalat Istisqa’ dikatakan sama dengan shalat ‘Id, adalah dalam jumlah rakaat-nya, bukan sifat shalat-nya. Mereka tidak menganggap hadist yang diriwayatkan Imam Ad-Darquthni (3) bahwa hadits Ibnu Abbas mengatakan Nabi Muhammad Saw bertakbir dalam shalat-nya tujuh takbir (dalam rakaat pertama), dan lima takbir (dalam rakaat ke-dua), seperti pelaksanaan shalat ‘Id, dan beliau membaca surah, Al-A’laa dan Al-Ghatsiyah (pada rakaat ke-dua).
Imam Abu Hanifah dalam Istisqa’, tidak ada tuntunan shalat didalam-nya, merujuk pada hadits yang dikeluarkan Abu Dawud (4), dan At-Tirmidzi (5) bahwa Nabi Muhammad Saw Istisqa’ (berdoa memohon hujan) di Ahjariz Zaiti (6) dengan berdoa. Hadits yang dikeluarkan oleh Abu ‘Awanah dalam kitab At-Tahlish (7), bahwa ada sekelompok orang yang mengadukan kekeringan kepada Rosulullah Saw, kemudian beliau bersabda: berlututlah kalian diatas tunggangan dan katakanlah “yaa rabbu.. yaa rabbu” dan kemudian dikabulkan doa-nya. Dan tetap diperbolehkan shalat, dan meninggalkan (tidak shalat) bermakna jawaz (boleh), dan dalam kitab AL-‘Ahdin Nabawiy (8), dijelaskan berbagai macam kaifiyah rosulullah dalam Istisqa’ (memohon hujan), yaitu sbb:
1.      Nabi Muhammad Saw keluar ketempat shalat untuk shalat Istisqa’, beliau shalat dan berkhutbah.
2.      Beliau berdoa Istisqa’ (berdoa memohon hujan) pada hari Jum’ah diatas mimbar pada pertengahan khutbah jum’ah.
3.      Ketika di Madinah beliau berdoa diatas mimbar, pada selain hari jum’ah, dan beliau tidak melakukan shalat.
4.      Beliau duduk berdoa Istisqa’ (doa memohon hujan) didalam masjid, dengan mengangkat tangan beliau, dan memohon kepada Alloh Swt.
5.      Beliau berdoa Istisqa’ (memohon hujan) di Ahjariz Zaiti, didekat Zaura’ pada pintu masjid di Madinah.
6.      Beliau berdoa Istisqa’ (doa memohon hujan) dalam pertempuran perang, ketika kancah tentara musyrikin sampai pada perairan, beliau berulangkali dalam berdoa.

Khutbah Shalat Istisqa’
         Ada beberapa Ulama yang mengatakan tidak dianjurkan berkhutbah dalam shalat Istisqa’, hal ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Abbas diatas, dan sebagian lain berpendapat dianjurkan berkhutbah seperti khutbah jum’ah, hal ini berdasarkan hadits dari A’isyah Ra (2). Kemudian apakah khutbah shalat Istisqa’ dilakukan sebelum shalat atau sesudah shalat? Ada beberapa Ulama yang mengatakan khutbah shalat Istisqa’ sebelum Shalat Istisqa’, dan ada juga yang berpendapat sesudah shalat Istisqa’ sebagaimana pendapat Imam Syafi’i. Pendapat yang ke-dua berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad (9), riwayat Ibnu Majah (10), dan riwayat ‘Awanah (11), dan hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi (12), bahwa Nabi Muhammad Saw keluar shalat Istisqa’ dengan shalat dua rakaat, kemudian berkhutbah.

Doa Shalat Istisqa’ (12)
الحمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، مَالِك يَوْمِ الدِّيْنِ، لَآ إِلَـهَ إلَّا اللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ، اَللَّهُمّ أَنْتَ اللهُ لَآ إِلَهَ إلّآ أَنْتَ، أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَآءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَآ أَنْزلْتَ عَلَيْنَا قُوَّةً وَبَلَاغاً إِلَى حِيْنٍ
Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seru seluruh alam, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang merajai hari kiyamat, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang melakukan apa yang Ia kehendaki. Ya Allah, Engkaulah Allah. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau Maha kaya dan kami (hamba-Mu) yang fakir. Semoga Engkau turunkan pada kami hujan, dan jadikan apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan bekal hingga suatu batas yang lama”.

Tanbih (pepiling)
         Disunahkan dalam Istisqa’ (berdoa memohon hujan), jika dalam suatu kelompok/ golongan, terdapat seseorang yang masyhur/ terkenal kesalehan-nya, agar berdoa kepada Alloh Swt, dengan berwasilah dengan kesalehan orang tersebut. Dengan mengatakan:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَسْقِيْ وَنَتَشَفَّعُ إِلَيْكَ بِعَبْدِكَ الْفُلَانٍ.
Artinya: Ya Alloh, sungguh kami memohon siraman hujan, dan memohon pertolongan kepada Engkau, dengan (wasilah/ perantara) hambamu, yaitu fulan (kata fulan diganti dengan nama seseorang yang masyhur kesalehan-nya) (14).

Dalam Al-Adkar, juga diriwayatkan banyak atsar tentang wasilah ini, diantara-nya wasilah Umar bin Khatab dengan Nabi Muhammad Saw dan kesalehan Ibnu Abbas Ra, dan Muawiyah Ra berwasilah dengan kesalehan Yazid bin Al-Aswad (15).
Wallahu a’lam.

Refrensi:
(1)  Lihat Shahih Bukhari II/ 514, hadits No: 1024, 1025, dan 1026.
(2)  Hadits Aisyah ra, adalah Sbb;
وعن عائشةَ - رضي الله عنها - قالت: شَكا النّاس إلى رسُولِ الله - صلى الله عليه وسلم - قُحُوطَ المطرِ فأَمَرَ بمنْبر فَوُضِعَ لَهُ بالمُصَلَّى وَوَعَد النّاسَ يَوْماً يخْرُجُون فيه، فَخَرَجَ حين بدا حاجِبُ الشّمس فَقَعَد على المنبرِ فَكَبّر وحمد الله ثمَّ قالَ: «إنكمُ شَكَوْتمْ جدْبَ دياركُم وقدْ أَمركُمُ الله أَن تَدْعُوهُ وَوَعدَكُمْ أَن يَسْتجيبَ لَكُمْ» ثمَّ قالَ: «الحمْدُ لله ربِّ العالمينَ، الرَّحمن الرَّحيم، مَالِك يَوْمِ الدينِ، لا إلـه إلّا الله يَفْعَلُ ما يُريدُ، اللهُمّ أَنْتَ الله لا إله إلّا أَنْتَ، أَنْتَ الْغنيُّ ونَحْنُ الْفُقَراءُ، أَنزل عَلَيْنا الْغَيْثَ واجْعَلْ مَا أَنْزلْتَ علينا قُوَّةً وبلاغاً إلى حين» ثمَّ رَفَعَ يدَيْهِ فلَمْ يزَلْ حتّى رُئِيَ بَيَاضُ إبْطَيْهِ، ثمَّ حَوَّلَ إلى الناس ظَهْرَهُ وقَلَبَ رِداءَهُ وهُو رافعٌ يديْهِ، ثمَّ أَقْبلَ على النّاسِ ونزَلَ فَصَلَّى رَكعتَيْنِ، فَأَنْشأَ الله تعالى سَحَابةً فَرَعَدَتْ وبَرقَتْ ثمَّ أَمْطرتْ. رواهُ أبو داودَ وقال غريبٌ وإسنَادُهُ جَيِّدٌ.
(3)  Lihat Sunan Ad-Darquthni, II/ 66, hadits no: 6
(4)  Lihat Sunan Abu Dawud, I/ 690, hadits no: 1168, dari hadits Umair Ra.
(5)  Lihat Sunan At-Tirmidzi,  II/ 443, hadits no: 557
(6)  Ahjariz Zaiti, adalah nama dari daerah di Madinah, dikatakan demikian karena bebatuan-nya yang hitam.
(7)  Kitab At-Tahlish Li Ibni Hajar Al-Asyqalani, II/ 94-95
(8)  Al-‘Ahdin Nabawi Li Ibi Qayyim II/ 480.
(9)  Lihat Musnad Imam Ahmad, II/ 362.
(10)        Sunan Ibnu Majah, I/ 403, hadits no: 1268.
(11)        At-Talhish, II/ 98.
(12)        As-Sunanul Kubra, III/ 347.
(13)        Doa shalat Istisqa’, berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud, dalam kitab Sunan-nya, I/ 692, hadits no: 1173.
(14)        Al-Adzkar Lin Nawawi, 149.
(15)        Ta’liq Al-Adzkar Lin Nawawi, Cet: Taha Putra Surabaya, dikatakan oleh Ibnu ‘Alan dalam Syarh Al-Adzkar, 149.


Wednesday, July 16

NIKMAT-NYA AMAL DENGAN HARAPAN RIDLA SANG KHOLIQ

Wujud, terselenggara-nya amal bukanlah jaminan dimasukkan-nya hamba kedalam syurga.

Firman Alloh Swt,-
“Masuklah kalian kedalam syurga sebab apa yang telah kalian kerjakan” [Q.S An Nahl: 32]
“Dan itulah syurga yang diwariskan kalian, sebab amal perbuatan yang telah kalian kerjakan” [Q.S Az-Zuhruf: 72]
Dan kemudian ayat-ayat lain yang memiliki kandungan esensi yang sama, akan tetapi dengan lafadz yang berbeda. Ibnu Katsir dalam tafsir-nya mengenai Q.S Az-Zukhruf, ayat: 72 diatas. Beliau menjelaskan bahwa amal-amal yang saleh dapat menjadikan seorang hamba mendapatkan rahmat Allah Swt,- tidak ada seorang-pun yang masuk syurga sebab amal perbuatan-nya. Akan tetapi seseorang dimasukkan kedalam syurga sebab rahmat dan fadlal Alloh Swt,-.

Berikut, dalam Sarh Al Hikam Athoiyah Li Ibni Athoilah Asakandary, menjelaskan penafsiran Q.S An Nahl, ayat :32 diatas, “Bahwa amal adalah sebab dzahir simultan dari fadlal/ keutamaan dari Alloh Swt,-. Selain itu mushanif juga menuturkan sebuah riwayat hadits shahih, yang diriwayatkan Imam Muslim radlialLahu ‘anh:

لَنْ يُدْخِلَ أَحَداً عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، قَالُوْا؛ وَلَا أَنْتَ يَا رَسُوْلُ الله؟، قَالَ؛ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ
“ Tidak dimasukkan seorang-pun sebab amal perbuatan-nya kedalam syurga, mereka para sahabat bertanya, dan bukan juga engkau wahai rosulullah?, beliau menjawab: begitujuga aku, kecuali Alloh Swt,- meliputi-ku dengan fadlal dan rahmat-Nya”. [HR. Muslim]

Bahkan, Imam Muslim membuat satu bab tersendiri dalam kitab shahih-nya, “Bab Tidak Dimasuk-nya Seorang Hamba-pun Kedalam Syurga, Kecuali Dengan Rahmat Alloh Ta’ala” pada Kitab Hari Qiyamat, Syurga dan Neraka.

Imam Nawawi rahimahulLah, dalam Sarh Muslim men-syarahi hadits ini dengan mengatakan, “Ini adalah Madhab Ahlus Sunnah, sedangkan Madhab Mu’tazilah adalah, mereka menetapkan akal sebagai pijakan menetapkan hukum, mewajibkan pahala pada setiap amal kebaikan, mewajibkan balasan kebaikan pada setiap amal”.

Oleh karena-nya para Ulama Sufi sangat-sangat mengisit tekankan, bahwa amal saleh diperintakan guna memperoleh ridla Alloh Swt,- bukan diperuntukkan syurga, yang nilai-nya jauh lebih kecil dari pada ridla Alloh ta’ala. Dalam pembukaan Al Hikam Ibnu Athoilah menggubahkan kalimat-nya:
مِنْ عَلَامَةِ الإعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ
“Sebagian tanda dari I’timad (mengandalkan amal, selain tujuan ridla Alloh), adalah berkurang-nya harapan ketika dilanda ada-nya kegagalan”.

Ini sangat penting dalam melakukan amal saleh apa-pun, karena itu diletakkan pada awal pembukaan gubahan Mushonif, orang yang mengandalkan Amal, atau bahkan menuhankan amal dengan tanpa mengharap ridla Alloh, ketika gagal cenderung putus asa, sedangkan orang yang beramal saleh dengan pijakan harapan ridla Alloh Swt,- ketika gagal dalam pencapaian masih berharap bahwa Alloh Maha Segala-Nya, dan balasan kebaikan selalu berupa kebaikan, bukan sebalik-nya.

Amal kebaikan adalah wasilah menuju ridla Alloh, sedang amal keburukan adalah salah satu sebab dari murka-nya Alloh. Lalu bagaimana seorang hamba memilih murka Alloh Swt dari pada ridla-Nya?

Jogjakarta, 16/07/2014.

NUZULUL QUR'AN DAN LAILATUL QODAR

Nuzulul Qur’an & Lailatul Qadar
Nuzulul Qur’an adalah awal diturunkan-nya kitab suci Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw,- sedangkan Lailatul Qadar adalah sepertiga malam terakhir diakhir bulan ramadalan, yaitu malam diturunkan-nya Al-Qur’an secara ijmaly (global) pada Baitul Izzah pada langit dunia.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Al-Qur’an diturunkan sebanyak tiga tahap:

1.      Ditrunkan-nya oleh Alloh ta’ala,- ke Lauhil Mahfudz.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Alloh ta’ala,- dalam Qur’an Surah Al-Buruj 21 & 22
بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ )٢١ (فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ) ٢٢ (
“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh”.
[Q.S Al-Buruj 21-22]

2.      Ditrunkan-nya oleh Alloh ta’ala,- ke-Baitul Izzah dilangit dunia pada Lailatul Qodar, dibulan suci Ramadlan secara Ijmaly (global), keseluruhan.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Alloh ta’ala,- dalam Qur’an Surah Al-Qodr:
 إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ 
“Sesungguh-nya kami telah menurunkan Al-Qur’an pada Lailatul Qodar” [Q.S Al-Qodr:1]

3.      Diturunkan-nya oleh Alloh ta’ala,- melalui Malaikat Jibril ‘alaihish shalatu wassalam dari Baitul ‘Izzah (langit dunia) kepada Nabi Muhammad Saw,- secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan, dalam kurun waktu selama 20tahun, ada juga yang berpendapat selama 23tahun, ada juga pendapat yang mengatakan selama 25tahun, hal ini terhitung dari setelah menetap-nya kanjeng rosul Saw,- di Makkah, setelah hijrah dari Madinah.
[Lihat Al-Itqan Lis Suyuthi I/158]
Bukti keterangan yang menjadi dasar keterangan ini adalah hadits shahih yang ditahrij oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqy dari jalur Abu Dawud dari riwayat Ikrimah, dari Ibnu Abbas radlialLahu ‘anhum.
أُنْزِلَ الْقُرْآن فِيْ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا لَيْلَةَ الْقَدَر، ثُمَ أُنْزِلَ بَعْدَ ذَلِكَ بِعِشْرِيْنَ سَنَةً

“Al-Qur’an diturunkan pada satu malam ke langit dunia dimalam mulia (Lailatul Qodar), kemudian setelah itu diturunkan selama dua puluh tahun”.

Tuesday, July 15

AYAT AL-MUHKAN DAN AL-MUTASYABUHAT

Allah  Swt. menurunkan  al-Quran ke muka bumi  sebagai  petunjuk  bagi umat manusla.  al-Quran  dengan  ayat-ayatnya memberikan  petunjuk  kepada seluruh  muslim  bagaimana  beriman dengan  akidah  yang  benar  dan  beribadah  dengan  cara  yang  benar.  Diantara  ayat-ayat  tersebut  ada  yang  dengan mudah  dipahami  tanpa  memerlukan penafsiran  yang  daqiq (mendalam) dan  sebaliknya. Inilah  nantinya  yang  dikenal  dengan  al-Muhkam dan al-Mutasyabih.

Pengertian al-muhkam dan al-mutasyabih

Dari  segi  bahasa,  kata  al-muhkam berasal  dari kata al-ihkam yang  bermakna  al-man’u. Sebagai  contoh  kalimat ahkama al-amr bermakna atqanahu wa mana’ahu ‘an  al-fasad.

Sedangkan  kata al-mutasyabih bermakna  serupa  dari  segi  bentuk  dan sulit  untuk  dibedakan.  Atau  dua  atau lebih  yang serupa  dari  segi  kata,  berbeda  dari segi makna.  Seperti  firman Allah  Swt.  tentang  sifat  buah-buahan  di surga  “wa utu bihi mutasyabiha” (penduduk syurga diberi buah-buahan yang serupa  bentuknya namun  beda  rasanya).

Adapun  pemakaian  keduanya  dari segi  istilah,  terdapat  beberapa  pendapat ulama  yaitu:

Pertama,  muhkam adalah sesuatu  yang diketahui  maknanya,  baik  secara  langsung  maupun  melalui  takwil.  Sedangkan mutasyabih  adalah  sesuatu  yang maknanya  hanya  diketahui  Allah  Swt saja,  seperti  hari  kiamat,  datangnya Dajal, ahruf al-muqaththa’ah pada  permulaan  beberapa  surat  dalam  al-Quran. Ahlussunnah  menganggap  inilah  pendapat  yang  benar.

Kedua,  muhkam adalah  sesuatu yang  hanya  mengandung  satu  makna  atau satu takwil sedangkan mutasyabih mengandung banyak makna. Ibnu Abbas memilih pendapat ini, begitu juga kebanyakan ahli ushul.

Ketiga, muhkan adalah sesuatu yang dipahami secara langsung tanpa perlu penjelasan. Sedangkan mutasyabih adalah sesuatu yang membutuhkan penjelasan akibat berbedanya penakwilan. Dengan artian mutasyabih bersifat kondisional. Pendapat ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Keempat, muhkam adalah sesuatu yang bagus bentuk dan susunannya serta mengacu pada satu makna jelas. Sedangkan mutasyabih adalah sesuatu yang maknanya hanya bisa diketahui jika terdapat petunjuk yang mengacu pada makna yang dimaksud. Pendapat ini disnisbahkan kepada Imam Haramain.

Kelima, muhkam adalah apa yang dalalahnya rajih yaitu nash dan zahir. Sedangka mutasyabih adalah apa yang dalalahnya tidak rajih, yaitu mujmal, muawwal dan musykil. Imam ar-Razy berpegang pada pendapat ini.

Semua pendapat di atas tidak bertentangan satu sama lain. Tetapi mayoritas ahli tahqiq berpendapat bahwa pendapat terakhir adalah pendapat yang paling jelas.

Al-Quran dan Muhkam-Mutasyabih

Di dalam al-Quran terdapat ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Al-Quran itu seluruhnya muhkam, seperti firman Allah: كتاب أحكمت أياته Namun juga ada ayat yang menunjukkan bahwa al-Quran itu seluruhnya mutasyabih, seperti firman Allah: الله نزل أحسن الحديث كتابا متشابها Namun di sisi lain terdapat ayat yang menunjukkan bahwa ayat al-Quran sebagiannya muhkan dan sebaginnya mutasyabih, seperti firman Allah: أنزل عليك الكتاب هن أم الكتاب وأخر متشابهات

Muncul  pertanyaan  apakah  ayat-ayat  ini saling  bertentangan  satu  dengan  yang lainnya?

Jawabannya adalah tidak. Penjelasannya adalah, maksud dari perkataan bahwa  al-Quran  seluruhnya muhkam adalah, al-Quran tersusun dengan sangat  rapi  dan  teliti  serta  tidak  terdapat kekurangan  dari  segi  lafaz maupun makna. Sedangkan yang dimaksud dengan  al-Quran  seluruhnya mutasyabih adalah  bahwa  ayat-ayat al-Quran  serupa dari segi  keindahan,  saling membenarkan  satu  dan yang  lainnya  dari segi makna,  juga serupa  secara  lafaz  serta maknanya  sebagai  sebuah  mukjizat.

Adapun  pernyataan ketiga  bahwa  al-Quran  sebagiannya muhkam dan  sebagiannya  lagi mutasyabih, maknanya  adalah  di dalam  al-Quran terdapat ayat-ayat yang  jelas maknanya yaitu muhkam dan dan ada  ayat-ayat yang  tidak  jelas maknanya  serta butuh penafsiran yaitu mutasyabih. Ulama  berbeda  pendapat  dalam  hal  ini sebagaimana  dijelaskan  dalam  pengertian muhkam dan mutasyabih dari segi istilah.

Bentuk-bentuk mutasyabih

Ar-Raghib  mengatakan di dalam kitabnya Mufradat al-Quran bahwa  mutasyabih mempunyai  tiga bentuk: mutasyabih dari segi lafaz, mutasyabih dari segi makna, dan mutasyabih dari segi lafaz dan makna sekaligus.

l.  Mutasyabih dari segi  lafaz

a. Dari  segi  lafaz mufrad (tunggal) terbagi  dua:

-Disebabkan  keanehan  lafaznya, seperti  firman Allah  Swt. وفاكهة وأبا yang  artinya  rumput-rumputan, dengan  dalil  ayat  setelahnya متاعا لكم ولأنعامكم

-Disebabkan  lafaznya  mengandung banyak  makna  seperti  firman Allah Swt.  فراغ عليهم ضربا باليمين.

b. Dari  segi  lafaz murakkab (majemuk) terbagi  tiga  bentuk:

-Karpna  disebabkan  oleh  ringkasnya perkataan  seperti  firman  Allah  Swt.

وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم.

-Karena  disebabkan  oleh  panjangnya kalimat  seperti  firman Allah  Swt. ليس كمثله شيء mungkin  akan  lebih  jelas maknanya  seandainya  huruf  kaf  dihilangkan.

-Karena  disebabkan  oleh  susunan kalimatnya  seperti  firman Allah Swt.  الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا قيما

2.  Mutasyabih dari segi yaitu makna ayat-ayat tentang sifat Allah Swt, dan hari kiamat. Mutasyabih  lafaz dan  makna.

3.  Dari segi sekaligus, hal ini bisa dilihat dari lima segi:

a. Dari segi umum  dan khusus seperti dalam  firman  Allah Swt. فاقتلوا المشركين حيث وجدتموهم.

b. Dari  segi wajib dan  nadab seperti firman  Allah  Swt. فانكحوا ما طاب لكم من النساء

c. Dari  segi  waktu seperti  nasikh dan mansukh,  firman Allah  Swt. اتقوا الله حق تقاته

d. Dari  segi  tempat  dan perkara  yang menyebabkan  turunnya  ayat seperti firman  Allah  Swt.  إنما نسيء زيادة في الكفر akan  sulit mengetahui  makna ayat  ini  jika  tidak mengetahui  adat dan  kebiasaan  orang-orang  jahiliyah.

e, Dari  segi  syarat-syarat  sah  atau  tidaknya  suatu  perbuatan  seperti syarat-syarat  shalat  dan nikah.

Dari  bentuk-bentuk  mutasyabih  diatas  bisa  disimpulkan  bahwa  ayat-ayat mutasyabihat  di dalam  al-Quran terbagi ke  dalam tiga bagian:

1. Apa yang tidak mungkin diketahui ilmunya  oleh manusia  seperti  ilmu tentang  zat Allah Swt., sifatNya, ilmu tentang hari kiamat dan hal gaib lainnya  yang hanya diketahui oleh Allah Swt.  وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا الله

2. Apa yang  bisa diketahui  maknanya jalan oleh manusia  dengan  belajar dan  meneliti  seperti  mutasyabih yang  disebabkan oleh  ringkasnya kalimat atau susunannya.

3. Apa yang hanya dapat diketahui  oleh para  ulama melalui  tadabur dan ijtihad.

Ayat-Ayat  Sifat

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa  ayat-ayat  mutasyabihat  di  dalam al-Quran terbagi ke dalam beberapa bentuk.  Di antara  seluruh  bentuk  itu yang paling banyak  diperbincangkan adalah ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat Allah Swt (mutasyabih  ash-shifat) dan  ayat-ayat  dipermulaan surat yang terdiri dari kumpulan huruf hijaiyah (fawatih as-suwar). Ibnu al-Labban mengarang sebuah buku khusus  yang membahas tentang  mutasyabih  ash-shifat berjudul رد الشبهات إلى الأيات المحكمات

Para  ulama sepakat dalam  tiga hal mengenai  mutasyabih  ash-shifat yaitu;

1. Untuk menjaga makna  ayat mutasyabih ash-shifat terhindar dari makna yang mustahil, dengan meyakini bahwa Allah Swt. tidak mungkin memaknainya  dengan hal yang mustahil  itu.

2. Seandainya  pembelaan  terhadap agama sangat  tergantung kepada penafsiran  ayat mutasyabih ash-shifat maka diwajibkan untuk menafsirkannya dengan penafsiran  yang menghilangkan  keraguan.

3. Jika sebuah ayat mutasyabih ash-shifat mempunyai  satu penakwilan yang dekat  maknanya,  ulama sepakat untuk  memakai  penakwilan tersebut.

Seperti  fiman  Allah Swt. وهو معكم أين ما كنتم keberadaan Allah Swt. tidak mungkin sama dengan makhluk, dan hal ini sangat mustahil. Sehingga  yang tersisa  hanya satu penakwilan yaitu bahwa ilmu Allah Swt. melingkupi makhluk  dari  segi pendengaran, penglihatan, keinginan,  dan kemampuan.

Selain  tiga  hal di atas  para ulama berbeda  pendapat  mengenal  mutasyabih ash-shifat dalam  ayat-ayat  al-Quran, pendapat-pendapat ulama  terbagi  menjadi tiga:

Pertama, mazhab  salaf yang menyerahkan makna ayat-ayat  ini kepada Allah Swt.  setelah menjauhkannya  dari makna-makna yang mustahil. Dalil mazhab ini adalah:

a. Dalil  aqli, bahwa penentuan makna dari  ayat-ayat  ini bergantung  kepada kaidah-kaidah  bahasa  dan bagaimana orang Arab menggunakannya.  Hal  ini hanya  bersifat  zhan dan  bukan  yaqin. Sementara  sifat-sifat  Allah Swt.  termasuk bagian  dari akidah yang mengharuskan  dalil yang  qath’l  bukan zhanni.  Olen karena  itu  ayat-ayat  Ini tidak  ditafsirkan  dan maknanya  diserahkan  kepada Allah Swt.

b. Dalil naqli, mazhab  ini berpegang kepada  beberapa  hal:

Hadis Aisyah  ra. bahwa Rasulullah membaca ayat ini (Ali Imran:3)  lalu Rasulullah  bersabda فإذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فألئك الذين سمى الله فاحذروهم.
Ath-Thabrany  meriwayatkan  dari Abu Malik al-Asy’ary bahwa dia mendengar Rasulullah  Saw. bersabda “Aku tidak  khawatir  terhadap  umatku  kecuali  atas  tiga  perkara: mereka  mempunyai  banyak  harta  sehingga  saling iri  dan  saling  bunuh  dan  dibukakan kepada  mereka  kitab  lalu seorang mukmin menghendakinya dan ingin mentakwilkannya وما يعلم تأويله إلا الله .
Imam  Malik  ra. pernah ditanya  tentang makna “istiwa” dalam  firman Allah Swt. الرحمان على العرش استوى lalu beliau menjawab  الاستواء معلوم والكيف مجهول والأيمان به واجب والسؤال عنه بدعة وأظنك رجل سيء أخرجوه عني
Kedua,  mazhab  khalaf yang mencoba menakwilkan  ayat-ayat  sifat dengan makna  yang pantas bagi zat Allah Swt.

Ketiga,  mazhab  netral  adalah pendapat dengan menoleransikan  kedua mazhab di atas.  Ibn Daqiq al-Id  mengatakan2  “Kalau  ayat-ayat sifat  ditakwilkan  dengan  makna  yang  tidak asing bagi  orang  Arab  maka  makna ini  diterima. Tetapi jika maknanya jauh  dari makna yang dipahami orang Arab, maka tidak  perlu ditakwilkan.  Kewajiban kita cukup  beriman dengan makna yang diinginkan Allah Swt.

Hikmah  Adanya  Ayat-ayat  Mutasyabihat

Sesungguhnya ayat-ayat mutasyabihat ini mengandung hikmah tersendiri.  Ketika ditadaburi memberi-kan efek berupa penambahan rasa yakin bahwa al-Quran merupakan  suatu mukjizat  yang  tidak  ada tandingannya.

 Diantara  hikmahnya  menurut  ulama adalah:

-Ayat-ayat  mutasyabihat  yang  mungkin diketahul maknanya:

1. Mendorong seorang pembaca  lebih berusaha untuk  mengetahui makna apa yang  dibacanya.  Semakin berusaha seseorang memahami maknanya  semakin  bertambah  pahala yang  didapatnya.

2.  Seseorang  yang membaca arat  mutasyabihat dan  ingin mengetahui maknanya akan  terdorong untuk mendalami  ilmu-ilmu yang lain, seperti  ilmu  bahasa, nahwu dan ilmu ushul  fiqh.

3.  Memperlihatkan  kelebihan orang yang berilmu dengan selainnya. Seseorang  yang telah mengetahui makna  satu  ayat mutasyabihat akan semakin bersemangat untuk mengetahui  makna  lainnya.

4.  Adanya ayat mutasyabihat mendorong  pembacanya  untuk menggunakan  nalar  akal  dalam  memahaminya.  Karena  seandainya  seluruh al-Quran  muhkam,  mungkin pembaca  al-Quran  akan  cenderung untuk memahami  apa  adanya  tanpa perlu mempelajari  dan meneliti makna ayat-ayat mutasyabih tersebut.

-Ayat-ayat  mutasyabihat yang maknanya  hanya  diketahui  Allah  swt.

1. Sebagai  rahmat  Allah  Swt.  bagi hamba-Nya  yang  tidak  mampu  mengetahui segala sesuatu. Karena  itulah Allah Swt tidak mengatakan di dalam al-Quran  kapan  akan  terjadinya kiamat sebagaimana Allah Swt tidak mengatakan  kapan  ajal  seseorang manusia  akan  datang.  Sehingga manusia tidak malas untuk mempersiapkan bekal menghadap-Nya.

2. Allah Swt. menurunkan  ayat-ayat mutasyabihat  sebagai ujian dan cobaan  bagi  hamba-Nya.  Apakah beriman  dengan  apa yang  maknanya  dikaburkan  oleh  Allah  Swt.dan  menyerahkan sepenuhnya  ke[ada-Nya atau  tetap bergelut  dengan ayat-ayat itu untuk memahami  maknanya?

3. Sebagai  dalil  bahwa  pada hakikatnya manusia  adalah  makhluk yang  lemah dan bodoh  walaupun memiliki ilmu  yang  banyak.  Juga  sebagai bukti akan kebesaran  kuasa  Allah  Swt.  Dan keluasan  ilmu-Nya  yang  mencakup segala  sesuatu  di  langit dan  di bumi.



Penutup

Dari  pembahasan  di atas  dapat dipahami  bahwa  mengetahui  muhkam dan mutasyabih  yang  terdapat  di dalam al-Quran  adalah  sebuah  kemestian. Karena ayat mutasyabihat harus  dipahami sesuai  dengan  bentuknya,  apakah ayat  tersebut  boleh  dipahami  apa adanya  atau  wajib  mengembalikan maknanya  ke makna  muhkam atau maknanya  diserahkan  sepenuhnya kepada  Allah  Swt. Wallahu A’lam.

HIKMAH TIDAK MENURUTI SYAHWAT

Syaikh Ibrahim bin Adham, termasuk sufi yang nyeleneh. Beliau itu putra mahkota. Akan tetapi beliau salah suatu hari melepaskan atribut k...