Friday, November 14

BERGANTUNG PADA SESAMA MAKHLUK

Husain bin Hamdan  berkata: Aku berada di masjid Kiai Harun, dan duduk didekatku ada seseorang yang mendatangi-ku, lalu duduk didekatku. Lalu dia tanya, siapa namamu? dia menjawab: nama saya Sa’id. Kemudian saya bertanya, siapa panggilan kun'yah-mu?, dia menjawab; Abu Utsman.

Kemudian aku bertanya tentang cerita-nya sampai ditempat tersebut. Kemudian Sa’id berkata: Aku kehabisan kebutuhan-ku.
Lalu siapa yang kamu harapkan, jika kamu tertimpa kekurangan?
Dia menjawab: Kiai Yazid bin Harun.
Jika demikian, maka Kiai Yazid tidak akan menolongmu, dan harapa-mu takkan tercapai.
Lalu, dia tanya. Menurut sepengetahuanmu, bagaimana menyelesaikan permasalah-ku ini wahai Ki Sanak, semoga Alloh merahmati-mu?
Sungguh, aku telah membaca didalam sebagian kitab terdahulu, sesungguhnya Alloh berfirman:

“Demi keAgungan-Ku dan keAgungan-Ku, Kemurahan-Ku, kemurahan-Ku, Yang keluhurannya diatas ‘ArasKu. Didalam derajat-Ku yang Maha Tinggi. Pasti Aku akan memutus cita-cita seseorang yang mengharap selain Aku, dengan putus asa. Jika tidak demikian pasti Aku akan memberikan pakaian kehinanaan pada diri-nya dihadapan manusia, dan aku akan mengusir-nya dari taqarrubnya dihadapan-Ku.

Adakah seorang yang mengharap selain Aku pada kesulitannya? Padahal semua kerepotan itu kucinya, terdapat pada-Ku dan Aku adalah Maha Penyelamat. Pikiran mereka mengetuk-ketuk kemungkinan, padahal  seluruhnya itu adalah selain pintu-Ku dan pintu rahmat-Ku tidak pernah tertutup untuk siapa-pun.

Wahai...siapa yang berharap kepada-Ku pada kerepotan lalu Aku tidak menolong-nya?, dan siapa yang pernah mengetuk pintu rahmat-ku, lalu Aku tidak membukakan-nya?, akan tetapi Aku menjadikan harapan-nya kepada makhluk-makhluk-Ku itu terlihat sambung, maka kemudian menjadikan manusia menggantungkan harapan-nya  pada selain Aku. Dan aku jadikan harapan mereka simpanan disisi-Ku, akan tetapi mereka tidak ridla pada penjagaan-Ku. Dan aku telah memenuhi langit-langit-Ku dengan para Malaikat-malaikat-Ku yang selalu bertasbih kepada-Ku, dan Aku telah memerintahkan kepada mereka supaya tidak menutup pintu rahmat-Ku, akan tetapi mereka para manusia tidak percaya kepada ucapan-Ku, apakah mereka manusia tidak tahu bahwa cobaan sekecil apapun tak ada yang mampu menghilangkan kecuali Aku, maka mengapa mereka mempunyai harapan yang banyak sekali, akan tetapi ditunjukan kepada selain Aku.

Aku telah memberikan kepada mereka perkara yang belum dia pernah memohon kepada-Ku, tapi kenapa mereka meminta dikembalikan kepada selain Aku, apakah mereka tidak mengetahui bahwa Aku memberikan sesuatu sebelum mereka meminta, apakah mereka anggap bahwa Aku ini, Tuhan yang pelit. Apakah mereka tidak tahu bahwa yang Maha Dermawan dan Maha Memberi  itu Aku?, Apakah Aku bukan tempat meminta yang Maha Memberi.

Andaisaja Aku berkata kepada semua penduduk bumi dan langit supaya memohon kepada-Ku, dan setiap dari mereka Aku berikan pada tiap satu dari mereka, dengan pemberian yang mereka minta. Kemudian saya berikan lagi semua-nya seperti permintaannya, maka tidak mengurangi sedikitpun dari  kerajaan-Ku, kecuali bagaikan kurang-nya semut hitam.

Bagaima berkurang kerajaan yang sempurna, dan Akulah yang menyempurnakan kerajaan-kerajaan manusia yang terlihat sempurna. Wahai.. buruk sekali, orang yang putus asa dari rahmat-Ku, buruk sekali orang yang bermaksiat kepadaKu, dan mereka tidak sadar bahwa Aku melihat-nya, dan mereka terus menerus melakukan maksiat kepada-Ku, dan mereka tidak merasa malu kepada-Ku ”.
۞۞۞۞۞

Cerita panjang ini, dikutip dari Sarh Hikam Athaiyah karya Ibnu 'Abbad An Nafary, men-sarah-i (mengomentari) kitab fenomenal, yang tidak pernah habis dikaji sepanjang masa,  Ibnu Athailah Assakandari. Ketika menjelaskan maqalah-nya:

من لا يستطيع أن يرفع حاجة عن نفسه فكيف يستطيع أن يكون لها عن غيره رافعا ؟
Artinya ±: Seseorang yang tidak mampu, mengangkat (menyelesaikan/ mencukupi) kebutuhan diri-nya, maka bagaimana seseorang mampu mengangkat kebutuhan dari orang lain?.
Seperti perkataan sebagian besar Ulama; Siapa yang bergantung pada selain Alloh, maka siap siaplah mereka tertipu.
Sedangkan Abu Yazid bin Hamdan, yang disebutkan diatas adalah guru-nya Ulama yang tidak asing lagi, yaitu guru Imam Ahmad bin Hambal, yang kezuhud-an-nya tidak pernah diperhitungkan, apalagi ke-aliman-nya.

۝۝۝
Semoga bermanfaat. Perlu sekiranya penulis tambahkan, bahwa Sa'id atau orang yang biasanya dipanggil Abu Utsman diatas tertegun lama setelah ndomblong keheranan begitu dalamnya ilmu yang disampaikan Syaikh Husain bin Hamdan. Bahkan setelah mengucapkan terimakasih dia meminta mendekte supaya ditulis olehnya. Dan yang  terakhir dikatakan kepada Syaikh Husain "Wallahi... saya tidak akan menulis hadits lagi, setelah ini".


Karena tercukupkan dengan hadits Qudsy, yang sangat bagus diatas.

No comments:

Post a Comment

HIKMAH TIDAK MENURUTI SYAHWAT

Syaikh Ibrahim bin Adham, termasuk sufi yang nyeleneh. Beliau itu putra mahkota. Akan tetapi beliau salah suatu hari melepaskan atribut k...