Husain bin Hamdan berkata: Aku berada di masjid Kiai Harun, dan
duduk didekatku ada seseorang yang mendatangi-ku, lalu duduk didekatku. Lalu
dia tanya, siapa namamu? dia menjawab: nama saya Sa’id. Kemudian saya bertanya,
siapa panggilan kun'yah-mu?, dia menjawab; Abu Utsman.
Kemudian aku bertanya tentang cerita-nya
sampai ditempat tersebut. Kemudian Sa’id berkata: Aku kehabisan kebutuhan-ku.
Lalu siapa yang kamu harapkan, jika kamu
tertimpa kekurangan?
Dia menjawab: Kiai Yazid bin Harun.
Jika demikian, maka Kiai Yazid tidak akan
menolongmu, dan harapa-mu takkan tercapai.
Lalu, dia tanya. Menurut sepengetahuanmu,
bagaimana menyelesaikan permasalah-ku ini wahai Ki Sanak, semoga Alloh
merahmati-mu?
Sungguh, aku telah membaca didalam
sebagian kitab terdahulu, sesungguhnya Alloh berfirman:
“Demi keAgungan-Ku dan keAgungan-Ku,
Kemurahan-Ku, kemurahan-Ku, Yang keluhurannya diatas ‘ArasKu. Didalam
derajat-Ku yang Maha Tinggi. Pasti Aku akan memutus cita-cita seseorang yang
mengharap selain Aku, dengan putus asa. Jika tidak demikian pasti Aku akan
memberikan pakaian kehinanaan pada diri-nya dihadapan manusia, dan aku akan
mengusir-nya dari taqarrubnya dihadapan-Ku.
Adakah seorang yang mengharap selain Aku
pada kesulitannya? Padahal semua kerepotan itu kucinya, terdapat pada-Ku dan
Aku adalah Maha Penyelamat. Pikiran mereka mengetuk-ketuk kemungkinan,
padahal seluruhnya itu adalah selain
pintu-Ku dan pintu rahmat-Ku tidak pernah tertutup untuk siapa-pun.
Wahai...siapa yang berharap kepada-Ku
pada kerepotan lalu Aku tidak menolong-nya?, dan siapa yang pernah mengetuk
pintu rahmat-ku, lalu Aku tidak membukakan-nya?, akan tetapi Aku menjadikan
harapan-nya kepada makhluk-makhluk-Ku itu terlihat sambung, maka kemudian
menjadikan manusia menggantungkan harapan-nya
pada selain Aku. Dan aku jadikan harapan mereka simpanan disisi-Ku, akan
tetapi mereka tidak ridla pada penjagaan-Ku. Dan aku telah memenuhi
langit-langit-Ku dengan para Malaikat-malaikat-Ku yang selalu bertasbih
kepada-Ku, dan Aku telah memerintahkan kepada mereka supaya tidak menutup pintu
rahmat-Ku, akan tetapi mereka para manusia tidak percaya kepada ucapan-Ku,
apakah mereka manusia tidak tahu bahwa cobaan sekecil apapun tak ada yang mampu
menghilangkan kecuali Aku, maka mengapa mereka mempunyai harapan yang banyak
sekali, akan tetapi ditunjukan kepada selain Aku.
Aku telah memberikan kepada mereka
perkara yang belum dia pernah memohon kepada-Ku, tapi kenapa mereka meminta
dikembalikan kepada selain Aku, apakah mereka tidak mengetahui bahwa Aku
memberikan sesuatu sebelum mereka meminta, apakah mereka anggap bahwa Aku ini,
Tuhan yang pelit. Apakah mereka tidak tahu bahwa yang Maha Dermawan dan Maha
Memberi itu Aku?, Apakah Aku bukan
tempat meminta yang Maha Memberi.
Andaisaja Aku berkata kepada semua
penduduk bumi dan langit supaya memohon kepada-Ku, dan setiap dari mereka Aku
berikan pada tiap satu dari mereka, dengan pemberian yang mereka minta.
Kemudian saya berikan lagi semua-nya seperti permintaannya, maka tidak
mengurangi sedikitpun dari kerajaan-Ku,
kecuali bagaikan kurang-nya semut hitam.
Bagaima berkurang kerajaan yang sempurna,
dan Akulah yang menyempurnakan kerajaan-kerajaan manusia yang terlihat
sempurna. Wahai.. buruk sekali, orang yang putus asa dari rahmat-Ku, buruk
sekali orang yang bermaksiat kepadaKu, dan mereka tidak sadar bahwa Aku
melihat-nya, dan mereka terus menerus melakukan maksiat kepada-Ku, dan mereka
tidak merasa malu kepada-Ku ”.
۞۞۞۞۞
Cerita panjang ini, dikutip dari Sarh
Hikam Athaiyah karya Ibnu 'Abbad An Nafary, men-sarah-i (mengomentari) kitab
fenomenal, yang tidak pernah habis dikaji sepanjang masa, Ibnu Athailah Assakandari. Ketika menjelaskan
maqalah-nya:
من
لا يستطيع أن يرفع حاجة عن نفسه فكيف يستطيع أن يكون لها عن غيره رافعا ؟
Artinya ±: Seseorang yang tidak mampu,
mengangkat (menyelesaikan/ mencukupi) kebutuhan diri-nya, maka bagaimana
seseorang mampu mengangkat kebutuhan dari orang lain?.
Seperti perkataan sebagian besar Ulama;
Siapa yang bergantung pada selain Alloh, maka siap siaplah mereka tertipu.
Sedangkan Abu Yazid bin Hamdan, yang
disebutkan diatas adalah guru-nya Ulama yang tidak asing lagi, yaitu guru Imam
Ahmad bin Hambal, yang kezuhud-an-nya tidak pernah diperhitungkan, apalagi
ke-aliman-nya.
Semoga bermanfaat. Perlu sekiranya penulis
tambahkan, bahwa Sa'id atau orang yang biasanya dipanggil Abu Utsman diatas
tertegun lama setelah ndomblong keheranan begitu dalamnya ilmu yang disampaikan
Syaikh Husain bin Hamdan. Bahkan setelah mengucapkan terimakasih dia meminta
mendekte supaya ditulis olehnya. Dan yang
terakhir dikatakan kepada Syaikh Husain "Wallahi... saya tidak akan
menulis hadits lagi, setelah ini".
Karena tercukupkan dengan hadits Qudsy,
yang sangat bagus diatas.

No comments:
Post a Comment