Allah
Swt. menurunkan al-Quran ke muka
bumi sebagai petunjuk
bagi umat manusla. al-Quran dengan
ayat-ayatnya memberikan petunjuk kepada seluruh muslim
bagaimana beriman dengan akidah
yang benar dan
beribadah dengan cara
yang benar. Diantara
ayat-ayat tersebut ada
yang dengan mudah dipahami
tanpa memerlukan penafsiran yang
daqiq (mendalam) dan sebaliknya.
Inilah nantinya yang
dikenal dengan al-Muhkam dan al-Mutasyabih.
Pengertian al-muhkam dan al-mutasyabih
Dari
segi bahasa, kata
al-muhkam berasal dari kata
al-ihkam yang bermakna al-man’u. Sebagai contoh
kalimat ahkama al-amr bermakna atqanahu wa mana’ahu ‘an al-fasad.
Sedangkan
kata al-mutasyabih bermakna
serupa dari segi
bentuk dan sulit untuk
dibedakan. Atau dua
atau lebih yang serupa dari
segi kata, berbeda
dari segi makna. Seperti firman Allah
Swt. tentang sifat
buah-buahan di surga “wa utu bihi mutasyabiha” (penduduk syurga
diberi buah-buahan yang serupa bentuknya
namun beda rasanya).
Adapun
pemakaian keduanya dari segi
istilah, terdapat beberapa
pendapat ulama yaitu:
Pertama,
muhkam adalah sesuatu yang
diketahui maknanya, baik
secara langsung maupun
melalui takwil. Sedangkan mutasyabih adalah
sesuatu yang maknanya hanya
diketahui Allah Swt saja,
seperti hari kiamat,
datangnya Dajal, ahruf al-muqaththa’ah pada permulaan
beberapa surat dalam
al-Quran. Ahlussunnah menganggap inilah
pendapat yang benar.
Kedua,
muhkam adalah sesuatu yang hanya
mengandung satu makna
atau satu takwil sedangkan mutasyabih mengandung banyak makna. Ibnu
Abbas memilih pendapat ini, begitu juga kebanyakan ahli ushul.
Ketiga, muhkan adalah sesuatu yang dipahami
secara langsung tanpa perlu penjelasan. Sedangkan mutasyabih adalah sesuatu
yang membutuhkan penjelasan akibat berbedanya penakwilan. Dengan artian
mutasyabih bersifat kondisional. Pendapat ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Keempat, muhkam adalah sesuatu yang bagus
bentuk dan susunannya serta mengacu pada satu makna jelas. Sedangkan mutasyabih
adalah sesuatu yang maknanya hanya bisa diketahui jika terdapat petunjuk yang
mengacu pada makna yang dimaksud. Pendapat ini disnisbahkan kepada Imam
Haramain.
Kelima, muhkam adalah apa yang dalalahnya
rajih yaitu nash dan zahir. Sedangka mutasyabih adalah apa yang dalalahnya
tidak rajih, yaitu mujmal, muawwal dan musykil. Imam ar-Razy berpegang pada
pendapat ini.
Semua pendapat di atas tidak bertentangan
satu sama lain. Tetapi mayoritas ahli tahqiq berpendapat bahwa pendapat
terakhir adalah pendapat yang paling jelas.
Al-Quran dan Muhkam-Mutasyabih
Di dalam al-Quran terdapat ayat-ayat yang
menunjukkan bahwa Al-Quran itu seluruhnya muhkam, seperti firman Allah: كتاب أحكمت أياته Namun juga ada
ayat yang menunjukkan bahwa al-Quran itu seluruhnya mutasyabih, seperti firman
Allah: الله
نزل أحسن الحديث كتابا متشابها Namun di sisi
lain terdapat ayat yang menunjukkan bahwa ayat al-Quran sebagiannya muhkan dan
sebaginnya mutasyabih, seperti firman Allah: أنزل عليك الكتاب هن أم الكتاب وأخر متشابهات
Muncul
pertanyaan apakah ayat-ayat
ini saling bertentangan satu
dengan yang lainnya?
Jawabannya adalah tidak. Penjelasannya
adalah, maksud dari perkataan bahwa
al-Quran seluruhnya muhkam
adalah, al-Quran tersusun dengan sangat
rapi dan teliti
serta tidak terdapat kekurangan dari
segi lafaz maupun makna.
Sedangkan yang dimaksud dengan
al-Quran seluruhnya mutasyabih
adalah bahwa ayat-ayat al-Quran serupa dari segi keindahan,
saling membenarkan satu dan yang
lainnya dari segi makna, juga serupa
secara lafaz serta maknanya sebagai
sebuah mukjizat.
Adapun
pernyataan ketiga bahwa al-Quran
sebagiannya muhkam dan
sebagiannya lagi mutasyabih,
maknanya adalah di dalam
al-Quran terdapat ayat-ayat yang
jelas maknanya yaitu muhkam dan dan ada
ayat-ayat yang tidak jelas maknanya serta butuh penafsiran yaitu mutasyabih.
Ulama berbeda pendapat
dalam hal ini sebagaimana dijelaskan
dalam pengertian muhkam dan
mutasyabih dari segi istilah.
Bentuk-bentuk mutasyabih
Ar-Raghib
mengatakan di dalam kitabnya Mufradat al-Quran bahwa mutasyabih mempunyai tiga bentuk: mutasyabih dari segi lafaz,
mutasyabih dari segi makna, dan mutasyabih dari segi lafaz dan makna sekaligus.
l.
Mutasyabih dari segi lafaz
a. Dari
segi lafaz mufrad (tunggal)
terbagi dua:
-Disebabkan
keanehan lafaznya, seperti firman Allah
Swt. وفاكهة
وأبا
yang artinya rumput-rumputan, dengan dalil
ayat setelahnya متاعا لكم ولأنعامكم
-Disebabkan
lafaznya mengandung banyak makna
seperti firman Allah Swt. فراغ عليهم ضربا باليمين.
b. Dari
segi lafaz murakkab (majemuk)
terbagi tiga bentuk:
-Karpna
disebabkan oleh ringkasnya perkataan seperti
firman Allah Swt.
وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم.
-Karena
disebabkan oleh panjangnya kalimat seperti
firman Allah Swt. ليس كمثله شيء mungkin akan
lebih jelas maknanya seandainya
huruf kaf dihilangkan.
-Karena
disebabkan oleh susunan kalimatnya seperti
firman Allah Swt. الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له
عوجا قيما
2.
Mutasyabih dari segi yaitu makna ayat-ayat tentang sifat Allah Swt, dan
hari kiamat. Mutasyabih lafaz dan makna.
3.
Dari segi sekaligus, hal ini bisa dilihat dari lima segi:
a. Dari segi umum dan khusus seperti dalam firman
Allah Swt. فاقتلوا
المشركين حيث وجدتموهم.
b. Dari
segi wajib dan nadab seperti
firman Allah Swt. فانكحوا ما طاب لكم من النساء
c. Dari
segi waktu seperti nasikh dan mansukh, firman Allah
Swt. اتقوا
الله حق تقاته
d. Dari
segi tempat dan perkara
yang menyebabkan turunnya ayat seperti firman Allah
Swt. إنما نسيء زيادة في الكفر akan sulit mengetahui makna ayat
ini jika tidak mengetahui adat dan
kebiasaan orang-orang jahiliyah.
e, Dari
segi syarat-syarat sah
atau tidaknya suatu
perbuatan seperti
syarat-syarat shalat dan nikah.
Dari
bentuk-bentuk mutasyabih diatas
bisa disimpulkan bahwa
ayat-ayat mutasyabihat di
dalam al-Quran terbagi ke dalam tiga bagian:
1. Apa yang tidak mungkin diketahui
ilmunya oleh manusia seperti
ilmu tentang zat Allah Swt.,
sifatNya, ilmu tentang hari kiamat dan hal gaib lainnya yang hanya diketahui oleh Allah Swt. وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا الله
2. Apa yang
bisa diketahui maknanya jalan
oleh manusia dengan belajar dan
meneliti seperti mutasyabih yang disebabkan oleh ringkasnya kalimat atau susunannya.
3. Apa yang hanya dapat diketahui oleh para
ulama melalui tadabur dan
ijtihad.
Ayat-Ayat
Sifat
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa ayat-ayat
mutasyabihat di dalam al-Quran terbagi ke dalam beberapa
bentuk. Di antara seluruh
bentuk itu yang paling banyak diperbincangkan adalah ayat-ayat yang
berhubungan dengan sifat Allah Swt (mutasyabih
ash-shifat) dan ayat-ayat dipermulaan surat yang terdiri dari kumpulan
huruf hijaiyah (fawatih as-suwar). Ibnu al-Labban mengarang sebuah buku
khusus yang membahas tentang mutasyabih
ash-shifat berjudul رد
الشبهات إلى الأيات المحكمات
Para
ulama sepakat dalam tiga hal
mengenai mutasyabih ash-shifat yaitu;
1. Untuk menjaga makna ayat mutasyabih ash-shifat terhindar dari
makna yang mustahil, dengan meyakini bahwa Allah Swt. tidak mungkin
memaknainya dengan hal yang
mustahil itu.
2. Seandainya
pembelaan terhadap agama
sangat tergantung kepada penafsiran ayat mutasyabih ash-shifat maka diwajibkan
untuk menafsirkannya dengan penafsiran
yang menghilangkan keraguan.
3. Jika sebuah ayat mutasyabih ash-shifat
mempunyai satu penakwilan yang
dekat maknanya, ulama sepakat untuk memakai
penakwilan tersebut.
Seperti
fiman Allah Swt. وهو معكم أين ما كنتم keberadaan
Allah Swt. tidak mungkin sama dengan makhluk, dan hal ini sangat mustahil.
Sehingga yang tersisa hanya satu penakwilan yaitu bahwa ilmu Allah
Swt. melingkupi makhluk dari segi pendengaran, penglihatan,
keinginan, dan kemampuan.
Selain
tiga hal di atas para ulama berbeda pendapat
mengenal mutasyabih ash-shifat
dalam ayat-ayat al-Quran, pendapat-pendapat ulama terbagi
menjadi tiga:
Pertama, mazhab salaf yang menyerahkan makna ayat-ayat ini kepada Allah Swt. setelah menjauhkannya dari makna-makna yang mustahil. Dalil mazhab
ini adalah:
a. Dalil
aqli, bahwa penentuan makna dari
ayat-ayat ini bergantung kepada kaidah-kaidah bahasa
dan bagaimana orang Arab menggunakannya.
Hal ini hanya bersifat
zhan dan bukan yaqin. Sementara sifat-sifat
Allah Swt. termasuk bagian dari akidah yang mengharuskan dalil yang
qath’l bukan zhanni. Olen karena
itu ayat-ayat Ini tidak
ditafsirkan dan maknanya diserahkan
kepada Allah Swt.
b. Dalil naqli, mazhab ini berpegang kepada beberapa
hal:
Hadis Aisyah
ra. bahwa Rasulullah membaca ayat ini (Ali Imran:3) lalu Rasulullah bersabda فإذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فألئك الذين سمى الله فاحذروهم.
Ath-Thabrany
meriwayatkan dari Abu Malik
al-Asy’ary bahwa dia mendengar Rasulullah
Saw. bersabda “Aku tidak
khawatir terhadap umatku
kecuali atas tiga
perkara: mereka mempunyai banyak
harta sehingga saling iri
dan saling bunuh
dan dibukakan kepada mereka
kitab lalu seorang mukmin
menghendakinya dan ingin mentakwilkannya وما يعلم تأويله إلا الله .
Imam
Malik ra. pernah ditanya tentang makna “istiwa” dalam firman Allah Swt. الرحمان على العرش استوى lalu beliau
menjawab الاستواء معلوم والكيف مجهول والأيمان به واجب والسؤال
عنه بدعة وأظنك رجل سيء أخرجوه عني
Kedua,
mazhab khalaf yang mencoba
menakwilkan ayat-ayat sifat dengan makna yang pantas bagi zat Allah Swt.
Ketiga,
mazhab netral adalah pendapat dengan menoleransikan kedua mazhab di atas. Ibn Daqiq al-Id mengatakan2
“Kalau ayat-ayat sifat ditakwilkan
dengan makna yang
tidak asing bagi orang Arab
maka makna ini diterima. Tetapi jika maknanya jauh dari makna yang dipahami orang Arab, maka
tidak perlu ditakwilkan. Kewajiban kita cukup beriman dengan makna yang diinginkan Allah
Swt.
Hikmah
Adanya Ayat-ayat Mutasyabihat
Sesungguhnya ayat-ayat mutasyabihat ini
mengandung hikmah tersendiri. Ketika
ditadaburi memberi-kan efek berupa penambahan rasa yakin bahwa al-Quran
merupakan suatu mukjizat yang
tidak ada tandingannya.
Diantara
hikmahnya menurut ulama adalah:
-Ayat-ayat
mutasyabihat yang mungkin diketahul maknanya:
1. Mendorong seorang pembaca lebih berusaha untuk mengetahui makna apa yang dibacanya.
Semakin berusaha seseorang memahami maknanya semakin
bertambah pahala yang didapatnya.
2.
Seseorang yang membaca arat mutasyabihat dan ingin mengetahui maknanya akan terdorong untuk mendalami ilmu-ilmu yang lain, seperti ilmu
bahasa, nahwu dan ilmu ushul
fiqh.
3.
Memperlihatkan kelebihan orang
yang berilmu dengan selainnya. Seseorang
yang telah mengetahui makna
satu ayat mutasyabihat akan
semakin bersemangat untuk mengetahui makna lainnya.
4.
Adanya ayat mutasyabihat mendorong
pembacanya untuk menggunakan nalar
akal dalam memahaminya.
Karena seandainya seluruh al-Quran muhkam,
mungkin pembaca al-Quran akan
cenderung untuk memahami apa adanya
tanpa perlu mempelajari dan
meneliti makna ayat-ayat mutasyabih tersebut.
-Ayat-ayat
mutasyabihat yang maknanya
hanya diketahui Allah
swt.
1. Sebagai
rahmat Allah Swt.
bagi hamba-Nya yang tidak
mampu mengetahui segala sesuatu.
Karena itulah Allah Swt tidak mengatakan
di dalam al-Quran kapan akan
terjadinya kiamat sebagaimana Allah Swt tidak mengatakan kapan
ajal seseorang manusia akan
datang. Sehingga manusia tidak
malas untuk mempersiapkan bekal menghadap-Nya.
2. Allah Swt. menurunkan ayat-ayat mutasyabihat sebagai ujian dan cobaan bagi
hamba-Nya. Apakah beriman dengan
apa yang maknanya dikaburkan
oleh Allah Swt.dan
menyerahkan sepenuhnya ke[ada-Nya
atau tetap bergelut dengan ayat-ayat itu untuk memahami maknanya?
3. Sebagai
dalil bahwa pada hakikatnya manusia adalah
makhluk yang lemah dan bodoh walaupun memiliki ilmu yang
banyak. Juga sebagai bukti akan kebesaran kuasa
Allah Swt. Dan keluasan
ilmu-Nya yang mencakup segala sesuatu
di langit dan di bumi.
Penutup
Dari
pembahasan di atas dapat dipahami bahwa
mengetahui muhkam dan
mutasyabih yang terdapat
di dalam al-Quran adalah sebuah
kemestian. Karena ayat mutasyabihat harus dipahami sesuai dengan
bentuknya, apakah ayat tersebut
boleh dipahami apa adanya
atau wajib mengembalikan maknanya ke makna
muhkam atau maknanya
diserahkan sepenuhnya kepada Allah
Swt. Wallahu A’lam.