Wednesday, July 16

NUZULUL QUR'AN DAN LAILATUL QODAR

Nuzulul Qur’an & Lailatul Qadar
Nuzulul Qur’an adalah awal diturunkan-nya kitab suci Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw,- sedangkan Lailatul Qadar adalah sepertiga malam terakhir diakhir bulan ramadalan, yaitu malam diturunkan-nya Al-Qur’an secara ijmaly (global) pada Baitul Izzah pada langit dunia.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Al-Qur’an diturunkan sebanyak tiga tahap:

1.      Ditrunkan-nya oleh Alloh ta’ala,- ke Lauhil Mahfudz.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Alloh ta’ala,- dalam Qur’an Surah Al-Buruj 21 & 22
بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ )٢١ (فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ) ٢٢ (
“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh”.
[Q.S Al-Buruj 21-22]

2.      Ditrunkan-nya oleh Alloh ta’ala,- ke-Baitul Izzah dilangit dunia pada Lailatul Qodar, dibulan suci Ramadlan secara Ijmaly (global), keseluruhan.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Alloh ta’ala,- dalam Qur’an Surah Al-Qodr:
 إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ 
“Sesungguh-nya kami telah menurunkan Al-Qur’an pada Lailatul Qodar” [Q.S Al-Qodr:1]

3.      Diturunkan-nya oleh Alloh ta’ala,- melalui Malaikat Jibril ‘alaihish shalatu wassalam dari Baitul ‘Izzah (langit dunia) kepada Nabi Muhammad Saw,- secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan, dalam kurun waktu selama 20tahun, ada juga yang berpendapat selama 23tahun, ada juga pendapat yang mengatakan selama 25tahun, hal ini terhitung dari setelah menetap-nya kanjeng rosul Saw,- di Makkah, setelah hijrah dari Madinah.
[Lihat Al-Itqan Lis Suyuthi I/158]
Bukti keterangan yang menjadi dasar keterangan ini adalah hadits shahih yang ditahrij oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqy dari jalur Abu Dawud dari riwayat Ikrimah, dari Ibnu Abbas radlialLahu ‘anhum.
أُنْزِلَ الْقُرْآن فِيْ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا لَيْلَةَ الْقَدَر، ثُمَ أُنْزِلَ بَعْدَ ذَلِكَ بِعِشْرِيْنَ سَنَةً

“Al-Qur’an diturunkan pada satu malam ke langit dunia dimalam mulia (Lailatul Qodar), kemudian setelah itu diturunkan selama dua puluh tahun”.

No comments:

Post a Comment

HIKMAH TIDAK MENURUTI SYAHWAT

Syaikh Ibrahim bin Adham, termasuk sufi yang nyeleneh. Beliau itu putra mahkota. Akan tetapi beliau salah suatu hari melepaskan atribut k...