Sunday, July 6

MENGGABUNGKAN DUA PUASA

Menggabungkan puasa yang dimaksud, melaksanakan dua puasa sekaligus, yakni melaksanakan puasa fardlu (Wajib) seperti qadla puasa ramadlan atau puasa nadzar dengan puasa sunah seperti puasa Senin-Kamis, puasa ‘Arafah, puasa Dawud dan seterus-nya. Bisajadi pelaksanaanya dua puasa tersebut sama-sama sunah, seperti menggabungkan puasa puasa ‘Arafah yang kebetulan bersamaan dengan puasa Senin-Kamis.

Ok, kita langsung saja ke poin pembahasan!
Dalam literatur Fiqh Syafi’iyah menggabungkan dua puasa baik puasa fardlu (Wajib) dengan puasa Sunah atau puasa Sunah dengan puasa sudah masyhur kebolehan-nya. Keterangan-keterangan yang menunjukkan ini hampir terdapat pada semua kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam bermadhab Syafi’iyah, seperti I’anatuth Thalibin, Fathul Wahab, Bughyatul Mustarsyidin dan lain seterus-nya.

وفي الكردي ما نصه: في الاسنى - ونحوه الخطيب الشربيني والجمال الرملي - الصوم في الايام المتأكد صومها منصرف إليها، بل لو نوى به غيرها حصلت إلخ: زاد في الايعاب ومن ثم أفتى البارزي بأنه لو صام فيه قضاء أو نحوه حصلا، نواه معه أو لا. وذكر غيره أن مثل ذلك ما لو اتفق في يوم راتبان كعرفة يوم الخميس. انتهي
Dalam kitab Fatawa Al-Kurdy nas yang ditetapkan dalam kitab Asnal Mathaalib, begitu juga Ulama lain-nya seperti Al-Khatib Asy-Syarbiny dan Imam Ramli bahwa puasa dihari-hari yang disunahkan pada puasa-puasa tertentu, jika niat pelaksanaan puasa tertentu dengan (digabungkan) dengan puasa lain-nya maka puasanya berhasil (Sah kedua-nya)… Dan seterus-nya. Keterangan lebih panjang dalam kitab Al-I’aab Sarh Al-‘Ubbad Li Ibni Hajar Al-Haitamy dijelaskan fatwa dari Al-Barazy bahwa jika seseorang puasa dalam puasa sunah (menggabungkan) puasa qadla atau puasa lain-nya maka puasa-nya sah, baik dia diniatkan melaksanakan puasa bersamaan atau tidak. Ulama lain-nya menuturkan bahwa seperti demikian juga jika bertepatan dalam suatu hari dua puasa sunah, seperti puasa ‘Arafah dan puasa Kamis. I’anatuth Thalibin, II/152


         Demikian juga ta’bir yang terdapat, baik dalam Bughyah atau Fathul Wahab, dan saya kira cukup keterangan dalam I’anatuth Thalibin diatas mewakili-nya. 

No comments:

Post a Comment

HIKMAH TIDAK MENURUTI SYAHWAT

Syaikh Ibrahim bin Adham, termasuk sufi yang nyeleneh. Beliau itu putra mahkota. Akan tetapi beliau salah suatu hari melepaskan atribut k...