Friday, October 24

TENTANG BIRR ALWALIDAIN.

Berkata Kiai Nawawi Banten, dlm kitab-nya Tanqihul Qaul, berkata Sahabat Anas bin Malik Ra:

Di era Zaman rosulullah, ada seorang laki-laki yang bernama AlQamah. Keadaanya banyak berijtihad, bersusah payah dalam mencari kebaikan dan dia juga banyak bersedekah.

Kemudian, suatu hari dia terjatuh sakit. Sakit yang sangat, dan bertambah parah sakitnya. Sehingga istri-nya mengirimkan utusan kpd Rosulullah Saw. (Sampai sekarang tradisi spt ini masih banyak dijumpai, ketika mengalami kerepotan, masyarakat pada umum-nya sowan kpd Kiai sekitar untuk diharapkan dapat mengurangi kerepotannya).

Berkata istri Alqamah, "Wahai rosulullah, sungguh.. suamiku dlm keadaan naza'.., aku berharap banyak, supaya engkau melihat keadaanya".

Kemudian, rosulullah-pun bersabda kepada para sahabat, "mari kita menjenguk, bagaimana keadaan-nya".

Lalu Sahabat Anas bin Malik, mengatakan juga: Ketika Rosulullah Saw memasuki rumahnya, beliau bersabda kpd-nya, "Wahai Alqamah, bagaimana keadaanmu?". Dia tdk mengatakan sepatah kata, beliau tahu kalaw dia lemah, tdk mampu berkata. Rosulullah men-talqin-nya, menuntun bacaan syahadat (ini juga dianjurkan ketika menjumpai seseorang yang naza'), akan tetapi Alqamah tdk mampu mengikuti talqinrosulullah, yang dilakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan beliau mengulanginya beberapa kali.

Beliau menanyakan, apakah Si Alqamah memiliki orang tua?, Bapaknya sudah meninggal, tapi ibunya sudah tuarenta masih hidup jauh disana. Demikian jawaban beberapa sahabatnabi dari pertanyaan Rosulullah Saw.

Kemudian Rosululloh Saw, mengutus beberapa sahabat, untuk meng-khabarkan keadaanya, kepada Ibu AlQamah.

Singkatcerita, ibu Alqamah mendatangi Alqamah. Lalu rosulullah bertanya kpd Umi Alqamah. "Wahai umi Alqamah.. bagaimana keadaan Alqamah, menurutmu?

Ya.. rosulullah, dia itu ahli puasa, ahli bersedekah, ahli shalat. Dia itu banyak melakukan kebaikan. Akan tetapi aku marah kepadanya, tdk ridha, karena dia anakku tapi mengutamakan istrinya dari pada aku.

Bergegas, kumpulkan kayu bakar.lalu bakarlah dia. Mendengar sabdanabi yang dikatakan kpd beberapa sahabarnabi tersebut, ibu Alqamah mulai ibaa. Dia katakan kpd rosulullah, wahai rosulullah.. jangan lakukan demikian kpd anakku, buah~hatiku.

Inti.. Beliau bersabda kpd umi Alqamah, Adzab Alloh.. lebih pedih. Sungguh Alloh Swt tidak ridha, kecuali dengan ridhamu, dan shalat, sedekah, puasa-nya anakmu tdk akan diterima, selagi engkau marah/ jengkel kpdnya.

Ya rosulullah, aku bersaksi kpd Alloh. Bahwa aku ridha kepada anakku Alqamah. Berikut jawaban umi Alqamah.


Kemudian, Rosulullah mentalqin Alqamah, dan Alqamah-pun dengan bibir-nya lafalkan dua kalimah syahadat, teriring mata tertutup, ruh meninggalkan raganya.

Friday, October 17

KISAH KEUTAMAAN SHALAWAT

Qiila waqaala, dikatakan Kiai Nawawi Banten, dalam maqalah-nya yang lembut dan penuh kasih-sayang, dalam Kitab Kuning Tanqihul Qaul.
Berkata seorang sufistik ulung, bahwa beliau mempunyai tetangga, yang suka berlebihan dlm kehidupan-nya, malah terkadang suka mabuk²an, dan istrinya berulangkali memerintahkan sembuh dari kemaksiatan, akan tetapi dia tdk menggubris-nya.
Tiba ajal-nya seseorang tersebut datang, seorang sufi bermalam dan menjumpai tetangganya dlm mimpinya dlm keadaan penuh kegirangan, berlimpah ruah kegembiraan di syurga. Beliau katakan:
Apa gerangan amal kamu, wahai tetanggaku? Sehingga mendudukkanmu dalam kemuliaan dikehidupan setelah matimu?

Dia jawab:
Suatu ketika, aku pernah mendatangi majlis dzikir, disana aku mendengar seorang alim berkata:

مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَفَعَ صَوْتَهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ.
Artinya ±: Barangsiapa bershalawat atas Nabi Muhammad Saw, dan mengangkat suara-nya, maka wajib baginya Syurga.

Kemudian, orang alim tersebut meneriakkan bacaan shalawat dengan kencang, dan aku ikut membaca shalawat dengan kencang, kemudian diikuti semua para jamaah dimajelis mulia itu. Maka Alloh Swt Mengampuni semua dosa²-ku dihari itu juga, kemudian kami semua mendapatkan Rahmah Kasih-sayang Alloh Swt.
Lalu, setelah membaca kitab ini saya bacakan shalawat ini, dengan harapan seperti yang dialami, dlm kisah menarik diatas:

Tuesday, October 14

SHALAT AL-ISTISQA’

عن ابن عبّاسٍ - رضي الله عنهما - قالَ: خرَجَ النّبيُّ - صلى الله عليه وسلم - مُتواضعاً مُتبذِّلا مُتخشِّعاً مُترسِّلاً مُتضَرِّعاً فَصَلّى ركْعتين كما يُصلِّي في العيد لَمْ يخْطُبْ خُطبتَكم هذه. رواهُ الخمْسةُ، وصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وأَبُو عَوَانَةَ، و ابْنُ حِبَّانَ.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra, beliau katakan bahwa Nabi Saw keluar rumah, dengan tawadlu’, dan dengan mengenakan pakaian sehari-hari ( =bukan mewah), dengan khusyu’, dan melangkah dengan pelan, dan dengan merendahkandiri, kemudian beliau shalat dua raka’at, seperti shalat ‘Id, beliau tidak berkhutbah (untuk memberikan) khutbah pada kalian, (dalam shalat) ini.
Hadits ini diriwayatkan imam khamsah (semua tujuh imam besar hadits, kecuali Imam Bukhari & Muslim), hadits ini dishahihkan oleh Imam Tirmidzi, Abu ‘Awanah, dan Ibnu Hibban (radlialLahu ‘anhum).

1000
Doa Shalat Al-Istisqa'

Shalat Istisqa’, makna dzahir hadits meng-isyarat-kan di-syari’atkan-nya shalat Istisqa’ dalam hukum syar’i, akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah, tidak disyari’atkan shalat Istisqa’, akan tetapi Istisqa’ adalah berdoa memohon siraman air hujan. Kemudian para Ulama berselisih pendapat tentang kaifiyah (tata-cara) Shalat Istisqa’, dianatara-nya, mengatakan bahwa takbir dan bacaan-bacaan yang dibaca dalam shalat Istisqa’ seperti pelaksanaan shalat ‘Id, sebagaima yang dikatakan dalam nas Imam Syafi’i, yang merujuk pada makna hadits Ibnu Abbas diatas.

Ada beberapa pendapat yang mengatakan, shalat Istisqa’ dilaksanakan dengan dua rakaat, tidak berbeda dalam sifat pelaksanaan shalat ‘Id, Imam Malik mengatakan demikian dengan meng-isyarah-kan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari, dari riwayat sahabat Ali Ra (1), kemudian dari riwayat ‘Ubbad bin Tamim, bahwa beliau Rosulullah Saw shalat dua rakaat bersama jama’ah. Keterangan ini juga seperti hadits yang diriwayatkan Aisyah Ra (2), para Ulama yang sependapat dengan pendapat ini, mereka men-ta’wil hadits Ibnu Abbas diatas, bahwa shalat Istisqa’ dikatakan sama dengan shalat ‘Id, adalah dalam jumlah rakaat-nya, bukan sifat shalat-nya. Mereka tidak menganggap hadist yang diriwayatkan Imam Ad-Darquthni (3) bahwa hadits Ibnu Abbas mengatakan Nabi Muhammad Saw bertakbir dalam shalat-nya tujuh takbir (dalam rakaat pertama), dan lima takbir (dalam rakaat ke-dua), seperti pelaksanaan shalat ‘Id, dan beliau membaca surah, Al-A’laa dan Al-Ghatsiyah (pada rakaat ke-dua).
Imam Abu Hanifah dalam Istisqa’, tidak ada tuntunan shalat didalam-nya, merujuk pada hadits yang dikeluarkan Abu Dawud (4), dan At-Tirmidzi (5) bahwa Nabi Muhammad Saw Istisqa’ (berdoa memohon hujan) di Ahjariz Zaiti (6) dengan berdoa. Hadits yang dikeluarkan oleh Abu ‘Awanah dalam kitab At-Tahlish (7), bahwa ada sekelompok orang yang mengadukan kekeringan kepada Rosulullah Saw, kemudian beliau bersabda: berlututlah kalian diatas tunggangan dan katakanlah “yaa rabbu.. yaa rabbu” dan kemudian dikabulkan doa-nya. Dan tetap diperbolehkan shalat, dan meninggalkan (tidak shalat) bermakna jawaz (boleh), dan dalam kitab AL-‘Ahdin Nabawiy (8), dijelaskan berbagai macam kaifiyah rosulullah dalam Istisqa’ (memohon hujan), yaitu sbb:
1.      Nabi Muhammad Saw keluar ketempat shalat untuk shalat Istisqa’, beliau shalat dan berkhutbah.
2.      Beliau berdoa Istisqa’ (berdoa memohon hujan) pada hari Jum’ah diatas mimbar pada pertengahan khutbah jum’ah.
3.      Ketika di Madinah beliau berdoa diatas mimbar, pada selain hari jum’ah, dan beliau tidak melakukan shalat.
4.      Beliau duduk berdoa Istisqa’ (doa memohon hujan) didalam masjid, dengan mengangkat tangan beliau, dan memohon kepada Alloh Swt.
5.      Beliau berdoa Istisqa’ (memohon hujan) di Ahjariz Zaiti, didekat Zaura’ pada pintu masjid di Madinah.
6.      Beliau berdoa Istisqa’ (doa memohon hujan) dalam pertempuran perang, ketika kancah tentara musyrikin sampai pada perairan, beliau berulangkali dalam berdoa.

Khutbah Shalat Istisqa’
         Ada beberapa Ulama yang mengatakan tidak dianjurkan berkhutbah dalam shalat Istisqa’, hal ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Abbas diatas, dan sebagian lain berpendapat dianjurkan berkhutbah seperti khutbah jum’ah, hal ini berdasarkan hadits dari A’isyah Ra (2). Kemudian apakah khutbah shalat Istisqa’ dilakukan sebelum shalat atau sesudah shalat? Ada beberapa Ulama yang mengatakan khutbah shalat Istisqa’ sebelum Shalat Istisqa’, dan ada juga yang berpendapat sesudah shalat Istisqa’ sebagaimana pendapat Imam Syafi’i. Pendapat yang ke-dua berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad (9), riwayat Ibnu Majah (10), dan riwayat ‘Awanah (11), dan hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi (12), bahwa Nabi Muhammad Saw keluar shalat Istisqa’ dengan shalat dua rakaat, kemudian berkhutbah.

Doa Shalat Istisqa’ (12)
الحمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، مَالِك يَوْمِ الدِّيْنِ، لَآ إِلَـهَ إلَّا اللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ، اَللَّهُمّ أَنْتَ اللهُ لَآ إِلَهَ إلّآ أَنْتَ، أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَآءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَآ أَنْزلْتَ عَلَيْنَا قُوَّةً وَبَلَاغاً إِلَى حِيْنٍ
Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seru seluruh alam, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang merajai hari kiyamat, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang melakukan apa yang Ia kehendaki. Ya Allah, Engkaulah Allah. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau Maha kaya dan kami (hamba-Mu) yang fakir. Semoga Engkau turunkan pada kami hujan, dan jadikan apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan bekal hingga suatu batas yang lama”.

Tanbih (pepiling)
         Disunahkan dalam Istisqa’ (berdoa memohon hujan), jika dalam suatu kelompok/ golongan, terdapat seseorang yang masyhur/ terkenal kesalehan-nya, agar berdoa kepada Alloh Swt, dengan berwasilah dengan kesalehan orang tersebut. Dengan mengatakan:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَسْقِيْ وَنَتَشَفَّعُ إِلَيْكَ بِعَبْدِكَ الْفُلَانٍ.
Artinya: Ya Alloh, sungguh kami memohon siraman hujan, dan memohon pertolongan kepada Engkau, dengan (wasilah/ perantara) hambamu, yaitu fulan (kata fulan diganti dengan nama seseorang yang masyhur kesalehan-nya) (14).

Dalam Al-Adkar, juga diriwayatkan banyak atsar tentang wasilah ini, diantara-nya wasilah Umar bin Khatab dengan Nabi Muhammad Saw dan kesalehan Ibnu Abbas Ra, dan Muawiyah Ra berwasilah dengan kesalehan Yazid bin Al-Aswad (15).
Wallahu a’lam.

Refrensi:
(1)  Lihat Shahih Bukhari II/ 514, hadits No: 1024, 1025, dan 1026.
(2)  Hadits Aisyah ra, adalah Sbb;
وعن عائشةَ - رضي الله عنها - قالت: شَكا النّاس إلى رسُولِ الله - صلى الله عليه وسلم - قُحُوطَ المطرِ فأَمَرَ بمنْبر فَوُضِعَ لَهُ بالمُصَلَّى وَوَعَد النّاسَ يَوْماً يخْرُجُون فيه، فَخَرَجَ حين بدا حاجِبُ الشّمس فَقَعَد على المنبرِ فَكَبّر وحمد الله ثمَّ قالَ: «إنكمُ شَكَوْتمْ جدْبَ دياركُم وقدْ أَمركُمُ الله أَن تَدْعُوهُ وَوَعدَكُمْ أَن يَسْتجيبَ لَكُمْ» ثمَّ قالَ: «الحمْدُ لله ربِّ العالمينَ، الرَّحمن الرَّحيم، مَالِك يَوْمِ الدينِ، لا إلـه إلّا الله يَفْعَلُ ما يُريدُ، اللهُمّ أَنْتَ الله لا إله إلّا أَنْتَ، أَنْتَ الْغنيُّ ونَحْنُ الْفُقَراءُ، أَنزل عَلَيْنا الْغَيْثَ واجْعَلْ مَا أَنْزلْتَ علينا قُوَّةً وبلاغاً إلى حين» ثمَّ رَفَعَ يدَيْهِ فلَمْ يزَلْ حتّى رُئِيَ بَيَاضُ إبْطَيْهِ، ثمَّ حَوَّلَ إلى الناس ظَهْرَهُ وقَلَبَ رِداءَهُ وهُو رافعٌ يديْهِ، ثمَّ أَقْبلَ على النّاسِ ونزَلَ فَصَلَّى رَكعتَيْنِ، فَأَنْشأَ الله تعالى سَحَابةً فَرَعَدَتْ وبَرقَتْ ثمَّ أَمْطرتْ. رواهُ أبو داودَ وقال غريبٌ وإسنَادُهُ جَيِّدٌ.
(3)  Lihat Sunan Ad-Darquthni, II/ 66, hadits no: 6
(4)  Lihat Sunan Abu Dawud, I/ 690, hadits no: 1168, dari hadits Umair Ra.
(5)  Lihat Sunan At-Tirmidzi,  II/ 443, hadits no: 557
(6)  Ahjariz Zaiti, adalah nama dari daerah di Madinah, dikatakan demikian karena bebatuan-nya yang hitam.
(7)  Kitab At-Tahlish Li Ibni Hajar Al-Asyqalani, II/ 94-95
(8)  Al-‘Ahdin Nabawi Li Ibi Qayyim II/ 480.
(9)  Lihat Musnad Imam Ahmad, II/ 362.
(10)        Sunan Ibnu Majah, I/ 403, hadits no: 1268.
(11)        At-Talhish, II/ 98.
(12)        As-Sunanul Kubra, III/ 347.
(13)        Doa shalat Istisqa’, berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud, dalam kitab Sunan-nya, I/ 692, hadits no: 1173.
(14)        Al-Adzkar Lin Nawawi, 149.
(15)        Ta’liq Al-Adzkar Lin Nawawi, Cet: Taha Putra Surabaya, dikatakan oleh Ibnu ‘Alan dalam Syarh Al-Adzkar, 149.


HIKMAH TIDAK MENURUTI SYAHWAT

Syaikh Ibrahim bin Adham, termasuk sufi yang nyeleneh. Beliau itu putra mahkota. Akan tetapi beliau salah suatu hari melepaskan atribut k...