Wednesday, July 16

NIKMAT-NYA AMAL DENGAN HARAPAN RIDLA SANG KHOLIQ

Wujud, terselenggara-nya amal bukanlah jaminan dimasukkan-nya hamba kedalam syurga.

Firman Alloh Swt,-
“Masuklah kalian kedalam syurga sebab apa yang telah kalian kerjakan” [Q.S An Nahl: 32]
“Dan itulah syurga yang diwariskan kalian, sebab amal perbuatan yang telah kalian kerjakan” [Q.S Az-Zuhruf: 72]
Dan kemudian ayat-ayat lain yang memiliki kandungan esensi yang sama, akan tetapi dengan lafadz yang berbeda. Ibnu Katsir dalam tafsir-nya mengenai Q.S Az-Zukhruf, ayat: 72 diatas. Beliau menjelaskan bahwa amal-amal yang saleh dapat menjadikan seorang hamba mendapatkan rahmat Allah Swt,- tidak ada seorang-pun yang masuk syurga sebab amal perbuatan-nya. Akan tetapi seseorang dimasukkan kedalam syurga sebab rahmat dan fadlal Alloh Swt,-.

Berikut, dalam Sarh Al Hikam Athoiyah Li Ibni Athoilah Asakandary, menjelaskan penafsiran Q.S An Nahl, ayat :32 diatas, “Bahwa amal adalah sebab dzahir simultan dari fadlal/ keutamaan dari Alloh Swt,-. Selain itu mushanif juga menuturkan sebuah riwayat hadits shahih, yang diriwayatkan Imam Muslim radlialLahu ‘anh:

لَنْ يُدْخِلَ أَحَداً عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، قَالُوْا؛ وَلَا أَنْتَ يَا رَسُوْلُ الله؟، قَالَ؛ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ
“ Tidak dimasukkan seorang-pun sebab amal perbuatan-nya kedalam syurga, mereka para sahabat bertanya, dan bukan juga engkau wahai rosulullah?, beliau menjawab: begitujuga aku, kecuali Alloh Swt,- meliputi-ku dengan fadlal dan rahmat-Nya”. [HR. Muslim]

Bahkan, Imam Muslim membuat satu bab tersendiri dalam kitab shahih-nya, “Bab Tidak Dimasuk-nya Seorang Hamba-pun Kedalam Syurga, Kecuali Dengan Rahmat Alloh Ta’ala” pada Kitab Hari Qiyamat, Syurga dan Neraka.

Imam Nawawi rahimahulLah, dalam Sarh Muslim men-syarahi hadits ini dengan mengatakan, “Ini adalah Madhab Ahlus Sunnah, sedangkan Madhab Mu’tazilah adalah, mereka menetapkan akal sebagai pijakan menetapkan hukum, mewajibkan pahala pada setiap amal kebaikan, mewajibkan balasan kebaikan pada setiap amal”.

Oleh karena-nya para Ulama Sufi sangat-sangat mengisit tekankan, bahwa amal saleh diperintakan guna memperoleh ridla Alloh Swt,- bukan diperuntukkan syurga, yang nilai-nya jauh lebih kecil dari pada ridla Alloh ta’ala. Dalam pembukaan Al Hikam Ibnu Athoilah menggubahkan kalimat-nya:
مِنْ عَلَامَةِ الإعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ
“Sebagian tanda dari I’timad (mengandalkan amal, selain tujuan ridla Alloh), adalah berkurang-nya harapan ketika dilanda ada-nya kegagalan”.

Ini sangat penting dalam melakukan amal saleh apa-pun, karena itu diletakkan pada awal pembukaan gubahan Mushonif, orang yang mengandalkan Amal, atau bahkan menuhankan amal dengan tanpa mengharap ridla Alloh, ketika gagal cenderung putus asa, sedangkan orang yang beramal saleh dengan pijakan harapan ridla Alloh Swt,- ketika gagal dalam pencapaian masih berharap bahwa Alloh Maha Segala-Nya, dan balasan kebaikan selalu berupa kebaikan, bukan sebalik-nya.

Amal kebaikan adalah wasilah menuju ridla Alloh, sedang amal keburukan adalah salah satu sebab dari murka-nya Alloh. Lalu bagaimana seorang hamba memilih murka Alloh Swt dari pada ridla-Nya?

Jogjakarta, 16/07/2014.

NUZULUL QUR'AN DAN LAILATUL QODAR

Nuzulul Qur’an & Lailatul Qadar
Nuzulul Qur’an adalah awal diturunkan-nya kitab suci Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw,- sedangkan Lailatul Qadar adalah sepertiga malam terakhir diakhir bulan ramadalan, yaitu malam diturunkan-nya Al-Qur’an secara ijmaly (global) pada Baitul Izzah pada langit dunia.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Al-Qur’an diturunkan sebanyak tiga tahap:

1.      Ditrunkan-nya oleh Alloh ta’ala,- ke Lauhil Mahfudz.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Alloh ta’ala,- dalam Qur’an Surah Al-Buruj 21 & 22
بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ )٢١ (فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ) ٢٢ (
“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh”.
[Q.S Al-Buruj 21-22]

2.      Ditrunkan-nya oleh Alloh ta’ala,- ke-Baitul Izzah dilangit dunia pada Lailatul Qodar, dibulan suci Ramadlan secara Ijmaly (global), keseluruhan.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Alloh ta’ala,- dalam Qur’an Surah Al-Qodr:
 إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ 
“Sesungguh-nya kami telah menurunkan Al-Qur’an pada Lailatul Qodar” [Q.S Al-Qodr:1]

3.      Diturunkan-nya oleh Alloh ta’ala,- melalui Malaikat Jibril ‘alaihish shalatu wassalam dari Baitul ‘Izzah (langit dunia) kepada Nabi Muhammad Saw,- secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan, dalam kurun waktu selama 20tahun, ada juga yang berpendapat selama 23tahun, ada juga pendapat yang mengatakan selama 25tahun, hal ini terhitung dari setelah menetap-nya kanjeng rosul Saw,- di Makkah, setelah hijrah dari Madinah.
[Lihat Al-Itqan Lis Suyuthi I/158]
Bukti keterangan yang menjadi dasar keterangan ini adalah hadits shahih yang ditahrij oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqy dari jalur Abu Dawud dari riwayat Ikrimah, dari Ibnu Abbas radlialLahu ‘anhum.
أُنْزِلَ الْقُرْآن فِيْ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا لَيْلَةَ الْقَدَر، ثُمَ أُنْزِلَ بَعْدَ ذَلِكَ بِعِشْرِيْنَ سَنَةً

“Al-Qur’an diturunkan pada satu malam ke langit dunia dimalam mulia (Lailatul Qodar), kemudian setelah itu diturunkan selama dua puluh tahun”.

Tuesday, July 15

AYAT AL-MUHKAN DAN AL-MUTASYABUHAT

Allah  Swt. menurunkan  al-Quran ke muka bumi  sebagai  petunjuk  bagi umat manusla.  al-Quran  dengan  ayat-ayatnya memberikan  petunjuk  kepada seluruh  muslim  bagaimana  beriman dengan  akidah  yang  benar  dan  beribadah  dengan  cara  yang  benar.  Diantara  ayat-ayat  tersebut  ada  yang  dengan mudah  dipahami  tanpa  memerlukan penafsiran  yang  daqiq (mendalam) dan  sebaliknya. Inilah  nantinya  yang  dikenal  dengan  al-Muhkam dan al-Mutasyabih.

Pengertian al-muhkam dan al-mutasyabih

Dari  segi  bahasa,  kata  al-muhkam berasal  dari kata al-ihkam yang  bermakna  al-man’u. Sebagai  contoh  kalimat ahkama al-amr bermakna atqanahu wa mana’ahu ‘an  al-fasad.

Sedangkan  kata al-mutasyabih bermakna  serupa  dari  segi  bentuk  dan sulit  untuk  dibedakan.  Atau  dua  atau lebih  yang serupa  dari  segi  kata,  berbeda  dari segi makna.  Seperti  firman Allah  Swt.  tentang  sifat  buah-buahan  di surga  “wa utu bihi mutasyabiha” (penduduk syurga diberi buah-buahan yang serupa  bentuknya namun  beda  rasanya).

Adapun  pemakaian  keduanya  dari segi  istilah,  terdapat  beberapa  pendapat ulama  yaitu:

Pertama,  muhkam adalah sesuatu  yang diketahui  maknanya,  baik  secara  langsung  maupun  melalui  takwil.  Sedangkan mutasyabih  adalah  sesuatu  yang maknanya  hanya  diketahui  Allah  Swt saja,  seperti  hari  kiamat,  datangnya Dajal, ahruf al-muqaththa’ah pada  permulaan  beberapa  surat  dalam  al-Quran. Ahlussunnah  menganggap  inilah  pendapat  yang  benar.

Kedua,  muhkam adalah  sesuatu yang  hanya  mengandung  satu  makna  atau satu takwil sedangkan mutasyabih mengandung banyak makna. Ibnu Abbas memilih pendapat ini, begitu juga kebanyakan ahli ushul.

Ketiga, muhkan adalah sesuatu yang dipahami secara langsung tanpa perlu penjelasan. Sedangkan mutasyabih adalah sesuatu yang membutuhkan penjelasan akibat berbedanya penakwilan. Dengan artian mutasyabih bersifat kondisional. Pendapat ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Keempat, muhkam adalah sesuatu yang bagus bentuk dan susunannya serta mengacu pada satu makna jelas. Sedangkan mutasyabih adalah sesuatu yang maknanya hanya bisa diketahui jika terdapat petunjuk yang mengacu pada makna yang dimaksud. Pendapat ini disnisbahkan kepada Imam Haramain.

Kelima, muhkam adalah apa yang dalalahnya rajih yaitu nash dan zahir. Sedangka mutasyabih adalah apa yang dalalahnya tidak rajih, yaitu mujmal, muawwal dan musykil. Imam ar-Razy berpegang pada pendapat ini.

Semua pendapat di atas tidak bertentangan satu sama lain. Tetapi mayoritas ahli tahqiq berpendapat bahwa pendapat terakhir adalah pendapat yang paling jelas.

Al-Quran dan Muhkam-Mutasyabih

Di dalam al-Quran terdapat ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Al-Quran itu seluruhnya muhkam, seperti firman Allah: كتاب أحكمت أياته Namun juga ada ayat yang menunjukkan bahwa al-Quran itu seluruhnya mutasyabih, seperti firman Allah: الله نزل أحسن الحديث كتابا متشابها Namun di sisi lain terdapat ayat yang menunjukkan bahwa ayat al-Quran sebagiannya muhkan dan sebaginnya mutasyabih, seperti firman Allah: أنزل عليك الكتاب هن أم الكتاب وأخر متشابهات

Muncul  pertanyaan  apakah  ayat-ayat  ini saling  bertentangan  satu  dengan  yang lainnya?

Jawabannya adalah tidak. Penjelasannya adalah, maksud dari perkataan bahwa  al-Quran  seluruhnya muhkam adalah, al-Quran tersusun dengan sangat  rapi  dan  teliti  serta  tidak  terdapat kekurangan  dari  segi  lafaz maupun makna. Sedangkan yang dimaksud dengan  al-Quran  seluruhnya mutasyabih adalah  bahwa  ayat-ayat al-Quran  serupa dari segi  keindahan,  saling membenarkan  satu  dan yang  lainnya  dari segi makna,  juga serupa  secara  lafaz  serta maknanya  sebagai  sebuah  mukjizat.

Adapun  pernyataan ketiga  bahwa  al-Quran  sebagiannya muhkam dan  sebagiannya  lagi mutasyabih, maknanya  adalah  di dalam  al-Quran terdapat ayat-ayat yang  jelas maknanya yaitu muhkam dan dan ada  ayat-ayat yang  tidak  jelas maknanya  serta butuh penafsiran yaitu mutasyabih. Ulama  berbeda  pendapat  dalam  hal  ini sebagaimana  dijelaskan  dalam  pengertian muhkam dan mutasyabih dari segi istilah.

Bentuk-bentuk mutasyabih

Ar-Raghib  mengatakan di dalam kitabnya Mufradat al-Quran bahwa  mutasyabih mempunyai  tiga bentuk: mutasyabih dari segi lafaz, mutasyabih dari segi makna, dan mutasyabih dari segi lafaz dan makna sekaligus.

l.  Mutasyabih dari segi  lafaz

a. Dari  segi  lafaz mufrad (tunggal) terbagi  dua:

-Disebabkan  keanehan  lafaznya, seperti  firman Allah  Swt. وفاكهة وأبا yang  artinya  rumput-rumputan, dengan  dalil  ayat  setelahnya متاعا لكم ولأنعامكم

-Disebabkan  lafaznya  mengandung banyak  makna  seperti  firman Allah Swt.  فراغ عليهم ضربا باليمين.

b. Dari  segi  lafaz murakkab (majemuk) terbagi  tiga  bentuk:

-Karpna  disebabkan  oleh  ringkasnya perkataan  seperti  firman  Allah  Swt.

وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم.

-Karena  disebabkan  oleh  panjangnya kalimat  seperti  firman Allah  Swt. ليس كمثله شيء mungkin  akan  lebih  jelas maknanya  seandainya  huruf  kaf  dihilangkan.

-Karena  disebabkan  oleh  susunan kalimatnya  seperti  firman Allah Swt.  الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا قيما

2.  Mutasyabih dari segi yaitu makna ayat-ayat tentang sifat Allah Swt, dan hari kiamat. Mutasyabih  lafaz dan  makna.

3.  Dari segi sekaligus, hal ini bisa dilihat dari lima segi:

a. Dari segi umum  dan khusus seperti dalam  firman  Allah Swt. فاقتلوا المشركين حيث وجدتموهم.

b. Dari  segi wajib dan  nadab seperti firman  Allah  Swt. فانكحوا ما طاب لكم من النساء

c. Dari  segi  waktu seperti  nasikh dan mansukh,  firman Allah  Swt. اتقوا الله حق تقاته

d. Dari  segi  tempat  dan perkara  yang menyebabkan  turunnya  ayat seperti firman  Allah  Swt.  إنما نسيء زيادة في الكفر akan  sulit mengetahui  makna ayat  ini  jika  tidak mengetahui  adat dan  kebiasaan  orang-orang  jahiliyah.

e, Dari  segi  syarat-syarat  sah  atau  tidaknya  suatu  perbuatan  seperti syarat-syarat  shalat  dan nikah.

Dari  bentuk-bentuk  mutasyabih  diatas  bisa  disimpulkan  bahwa  ayat-ayat mutasyabihat  di dalam  al-Quran terbagi ke  dalam tiga bagian:

1. Apa yang tidak mungkin diketahui ilmunya  oleh manusia  seperti  ilmu tentang  zat Allah Swt., sifatNya, ilmu tentang hari kiamat dan hal gaib lainnya  yang hanya diketahui oleh Allah Swt.  وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا الله

2. Apa yang  bisa diketahui  maknanya jalan oleh manusia  dengan  belajar dan  meneliti  seperti  mutasyabih yang  disebabkan oleh  ringkasnya kalimat atau susunannya.

3. Apa yang hanya dapat diketahui  oleh para  ulama melalui  tadabur dan ijtihad.

Ayat-Ayat  Sifat

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa  ayat-ayat  mutasyabihat  di  dalam al-Quran terbagi ke dalam beberapa bentuk.  Di antara  seluruh  bentuk  itu yang paling banyak  diperbincangkan adalah ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat Allah Swt (mutasyabih  ash-shifat) dan  ayat-ayat  dipermulaan surat yang terdiri dari kumpulan huruf hijaiyah (fawatih as-suwar). Ibnu al-Labban mengarang sebuah buku khusus  yang membahas tentang  mutasyabih  ash-shifat berjudul رد الشبهات إلى الأيات المحكمات

Para  ulama sepakat dalam  tiga hal mengenai  mutasyabih  ash-shifat yaitu;

1. Untuk menjaga makna  ayat mutasyabih ash-shifat terhindar dari makna yang mustahil, dengan meyakini bahwa Allah Swt. tidak mungkin memaknainya  dengan hal yang mustahil  itu.

2. Seandainya  pembelaan  terhadap agama sangat  tergantung kepada penafsiran  ayat mutasyabih ash-shifat maka diwajibkan untuk menafsirkannya dengan penafsiran  yang menghilangkan  keraguan.

3. Jika sebuah ayat mutasyabih ash-shifat mempunyai  satu penakwilan yang dekat  maknanya,  ulama sepakat untuk  memakai  penakwilan tersebut.

Seperti  fiman  Allah Swt. وهو معكم أين ما كنتم keberadaan Allah Swt. tidak mungkin sama dengan makhluk, dan hal ini sangat mustahil. Sehingga  yang tersisa  hanya satu penakwilan yaitu bahwa ilmu Allah Swt. melingkupi makhluk  dari  segi pendengaran, penglihatan, keinginan,  dan kemampuan.

Selain  tiga  hal di atas  para ulama berbeda  pendapat  mengenal  mutasyabih ash-shifat dalam  ayat-ayat  al-Quran, pendapat-pendapat ulama  terbagi  menjadi tiga:

Pertama, mazhab  salaf yang menyerahkan makna ayat-ayat  ini kepada Allah Swt.  setelah menjauhkannya  dari makna-makna yang mustahil. Dalil mazhab ini adalah:

a. Dalil  aqli, bahwa penentuan makna dari  ayat-ayat  ini bergantung  kepada kaidah-kaidah  bahasa  dan bagaimana orang Arab menggunakannya.  Hal  ini hanya  bersifat  zhan dan  bukan  yaqin. Sementara  sifat-sifat  Allah Swt.  termasuk bagian  dari akidah yang mengharuskan  dalil yang  qath’l  bukan zhanni.  Olen karena  itu  ayat-ayat  Ini tidak  ditafsirkan  dan maknanya  diserahkan  kepada Allah Swt.

b. Dalil naqli, mazhab  ini berpegang kepada  beberapa  hal:

Hadis Aisyah  ra. bahwa Rasulullah membaca ayat ini (Ali Imran:3)  lalu Rasulullah  bersabda فإذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فألئك الذين سمى الله فاحذروهم.
Ath-Thabrany  meriwayatkan  dari Abu Malik al-Asy’ary bahwa dia mendengar Rasulullah  Saw. bersabda “Aku tidak  khawatir  terhadap  umatku  kecuali  atas  tiga  perkara: mereka  mempunyai  banyak  harta  sehingga  saling iri  dan  saling  bunuh  dan  dibukakan kepada  mereka  kitab  lalu seorang mukmin menghendakinya dan ingin mentakwilkannya وما يعلم تأويله إلا الله .
Imam  Malik  ra. pernah ditanya  tentang makna “istiwa” dalam  firman Allah Swt. الرحمان على العرش استوى lalu beliau menjawab  الاستواء معلوم والكيف مجهول والأيمان به واجب والسؤال عنه بدعة وأظنك رجل سيء أخرجوه عني
Kedua,  mazhab  khalaf yang mencoba menakwilkan  ayat-ayat  sifat dengan makna  yang pantas bagi zat Allah Swt.

Ketiga,  mazhab  netral  adalah pendapat dengan menoleransikan  kedua mazhab di atas.  Ibn Daqiq al-Id  mengatakan2  “Kalau  ayat-ayat sifat  ditakwilkan  dengan  makna  yang  tidak asing bagi  orang  Arab  maka  makna ini  diterima. Tetapi jika maknanya jauh  dari makna yang dipahami orang Arab, maka tidak  perlu ditakwilkan.  Kewajiban kita cukup  beriman dengan makna yang diinginkan Allah Swt.

Hikmah  Adanya  Ayat-ayat  Mutasyabihat

Sesungguhnya ayat-ayat mutasyabihat ini mengandung hikmah tersendiri.  Ketika ditadaburi memberi-kan efek berupa penambahan rasa yakin bahwa al-Quran merupakan  suatu mukjizat  yang  tidak  ada tandingannya.

 Diantara  hikmahnya  menurut  ulama adalah:

-Ayat-ayat  mutasyabihat  yang  mungkin diketahul maknanya:

1. Mendorong seorang pembaca  lebih berusaha untuk  mengetahui makna apa yang  dibacanya.  Semakin berusaha seseorang memahami maknanya  semakin  bertambah  pahala yang  didapatnya.

2.  Seseorang  yang membaca arat  mutasyabihat dan  ingin mengetahui maknanya akan  terdorong untuk mendalami  ilmu-ilmu yang lain, seperti  ilmu  bahasa, nahwu dan ilmu ushul  fiqh.

3.  Memperlihatkan  kelebihan orang yang berilmu dengan selainnya. Seseorang  yang telah mengetahui makna  satu  ayat mutasyabihat akan semakin bersemangat untuk mengetahui  makna  lainnya.

4.  Adanya ayat mutasyabihat mendorong  pembacanya  untuk menggunakan  nalar  akal  dalam  memahaminya.  Karena  seandainya  seluruh al-Quran  muhkam,  mungkin pembaca  al-Quran  akan  cenderung untuk memahami  apa  adanya  tanpa perlu mempelajari  dan meneliti makna ayat-ayat mutasyabih tersebut.

-Ayat-ayat  mutasyabihat yang maknanya  hanya  diketahui  Allah  swt.

1. Sebagai  rahmat  Allah  Swt.  bagi hamba-Nya  yang  tidak  mampu  mengetahui segala sesuatu. Karena  itulah Allah Swt tidak mengatakan di dalam al-Quran  kapan  akan  terjadinya kiamat sebagaimana Allah Swt tidak mengatakan  kapan  ajal  seseorang manusia  akan  datang.  Sehingga manusia tidak malas untuk mempersiapkan bekal menghadap-Nya.

2. Allah Swt. menurunkan  ayat-ayat mutasyabihat  sebagai ujian dan cobaan  bagi  hamba-Nya.  Apakah beriman  dengan  apa yang  maknanya  dikaburkan  oleh  Allah  Swt.dan  menyerahkan sepenuhnya  ke[ada-Nya atau  tetap bergelut  dengan ayat-ayat itu untuk memahami  maknanya?

3. Sebagai  dalil  bahwa  pada hakikatnya manusia  adalah  makhluk yang  lemah dan bodoh  walaupun memiliki ilmu  yang  banyak.  Juga  sebagai bukti akan kebesaran  kuasa  Allah  Swt.  Dan keluasan  ilmu-Nya  yang  mencakup segala  sesuatu  di  langit dan  di bumi.



Penutup

Dari  pembahasan  di atas  dapat dipahami  bahwa  mengetahui  muhkam dan mutasyabih  yang  terdapat  di dalam al-Quran  adalah  sebuah  kemestian. Karena ayat mutasyabihat harus  dipahami sesuai  dengan  bentuknya,  apakah ayat  tersebut  boleh  dipahami  apa adanya  atau  wajib  mengembalikan maknanya  ke makna  muhkam atau maknanya  diserahkan  sepenuhnya kepada  Allah  Swt. Wallahu A’lam.

Sunday, July 6

WABAH THO’UN DALAM ISLAM

Man shabara zhafira (من صبر ظفر) Ya.. sebuah pepatah dalam bahasa arab yang mengandung arti luar biasa, yaitu siapa yang bersabar maka ia akan beruntung.
-------

Maksud tujuan penulisan ini adalah supaya lebih sabar dalam melewati musibah atau supaya lebih tidak terlalu sering mengaduh pada kekurangan atau dalam hal yang kurang menyenangkan didalam hati. Karena musibah yang kita alami sekarang ini ini terhitung kecil jika dibandingkan dengan musibah-musibah yang terdahulu, Wabah Tho’un.

Memang belum jelas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan Wabah Tho’un, akan tetapi  dalam As-Shahih, Imam Muslim (Radliallaahu ‘anh), meriwayatkan sedikit penggambaran tentang Wabah Tho’un, beliau meriwayatkan dari Abdulloh bin Maslamah (Abdurrahman Al-Haritsy) sarat dengan perawinya bahwa Rosul Saw pernah bersabda:

اَلطَّاعُوْنُ آيَةٌ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ، فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوْا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوْا مِنْهُ 
Wabah Tho’un adalah suatu ayat, tanda kekuasaan Alloh Azza Wajall yang sangat menyakitkan, yang ditimpakan kepada orang-orang dari hambaNya. Jika kalian mendengar berita dengan adanya wabah Tho’un, maka jangan sekali-kali memasuki daerahnya, jika Tho’un telah terjadi pada suatu daerah dan kalian disana, maka janganlah kalian keluar darinya.

Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam kitabnya Zaadul Ma'aad (IV/37) berkata, "Tha'un adalah sejenis wabah penyakit. Menurut ahli medis, thaun adalah pembengkakan kronis dan ganas, sangat panas dan nyeri hingga melewat batas pembengkakan sehingga kulit yang ada di sekitarnya bisa berubah menjadi hitam, hijau, atau berwarna buram dan cepat bernanah. Biasanya pembengkakan ini muncul di tiga tempat: Ketiak, belakang telinga, puncak hidung dan disekitar daging lunak."

Kemudian ada juga yang mengatakan bahwa Wabah Tho’un itu semacam Wabah penyakit Kolera yang sangat, hingga tidak ada satu dokterpun yang mampun menjumpai obat yang mujarab untuk kesembuhannya. Wallahu a’lam

Sekali lagi, maksud tujuan penulisan ini, supaya lebih sabar dan mendapat pelajaran bahwa musibah manusia sekarang ini terhitung kecil jika dibandingkan dengan musibah-musibah yang terdahulu. Kemudian seberapa Wabah Tho’un yang terjadi terhitung setelah diutusnya Rosul Saw sebagai sebagai Rosululloh Saw. Al-Imam Nawawi dalam Sarah Muslim menjelaskan panjang lebar tentang Wabah Tho’un ini, kemudian beliau mengulang pembahasannya lebih Muhtashar (ringkas) satu bab khusus tentang "Wabah Tho'un" dalam kitabnya Al-Adzkar beliau meriwayatkan perkataan Abu Hasan Al-Madainy Sbb:

Abu Hasan Al-Madainy berkata: Kejadian besar wabah tha’un yang terkenal dalam peradapan islam ada lima, pertama: Tha’un Syirawaih, yang terjadi di Madinah pada masa Rosulullah saw pada tahun ke-Enam Hijriyah. Kemudian, Tha’un ‘Amawas dizaman Umar bin Khatab ra, yang ada di Syam, dalam kejadian itu ada sekitar 25.000 orang meninggaldunia.

Kemudian, Tha’un yang terjadi pada masa Ibnu Zubair, pada bulan Syawal pada tahun 69 Hijriyah,  kejadian ini selama tiga hari, pada tiap harinya  orang yang meninggaldunia 7000 oarang, termasuk didalamnya kematian putra Anas bin Malik sebanyak 83 orang. ada pendapat lain yang mengatakan sebanya 70 orang. kemudian juga mati pada waktu itu putra Abdurrahman bin Abi Bakar sebanyak 40 orang.

Kemudian, Tha’un yang terjadi pada bulan Syawal, pada tahun 87 Hijriyah. Kemudian, Thaun yang terjadi pada tahun 131 Hijriyah pada bulan Rajab, dan menjadi parah pada bulan Ramadlan.  Di Sikkatul Mirbad, pada tiap harinya terdapat 1000 orang menjadi korban. Kemudian, di Kufah Tha’un terjadi pada tahun 50 Hijriyah. Dalam kejadian ini, termasuk meninggalnya Al-Mughirah bin Syu’bah. Demikian ini akhir  penjelasan Al-Madaini.

Ibnu Qutaibah, dalam kitabnya Al-Ma’arif dari riwayat Al-Asmu’i juga menjelaskan hal yang serupa, dikatakan Tha’un Fatayat, karena pada awalnya menyerang gadis-gadis di Basrah-Baghdad.

Kemudian Wasith, Syam dan Kufah. Dikatakan Tha’un Al-Asyraf, yang berarti mulia dikarenakan didalamnya yang meninggaldunia orang-orang mulia. Kemudian tidak menimpa wabah Tha’un di Madinah dan Makkah kecuali hanya sekali saja.

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu sabar dalam keadaan apapun. Semoga bermanfaat.

MENGGABUNGKAN DUA PUASA

Menggabungkan puasa yang dimaksud, melaksanakan dua puasa sekaligus, yakni melaksanakan puasa fardlu (Wajib) seperti qadla puasa ramadlan atau puasa nadzar dengan puasa sunah seperti puasa Senin-Kamis, puasa ‘Arafah, puasa Dawud dan seterus-nya. Bisajadi pelaksanaanya dua puasa tersebut sama-sama sunah, seperti menggabungkan puasa puasa ‘Arafah yang kebetulan bersamaan dengan puasa Senin-Kamis.

Ok, kita langsung saja ke poin pembahasan!
Dalam literatur Fiqh Syafi’iyah menggabungkan dua puasa baik puasa fardlu (Wajib) dengan puasa Sunah atau puasa Sunah dengan puasa sudah masyhur kebolehan-nya. Keterangan-keterangan yang menunjukkan ini hampir terdapat pada semua kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam bermadhab Syafi’iyah, seperti I’anatuth Thalibin, Fathul Wahab, Bughyatul Mustarsyidin dan lain seterus-nya.

وفي الكردي ما نصه: في الاسنى - ونحوه الخطيب الشربيني والجمال الرملي - الصوم في الايام المتأكد صومها منصرف إليها، بل لو نوى به غيرها حصلت إلخ: زاد في الايعاب ومن ثم أفتى البارزي بأنه لو صام فيه قضاء أو نحوه حصلا، نواه معه أو لا. وذكر غيره أن مثل ذلك ما لو اتفق في يوم راتبان كعرفة يوم الخميس. انتهي
Dalam kitab Fatawa Al-Kurdy nas yang ditetapkan dalam kitab Asnal Mathaalib, begitu juga Ulama lain-nya seperti Al-Khatib Asy-Syarbiny dan Imam Ramli bahwa puasa dihari-hari yang disunahkan pada puasa-puasa tertentu, jika niat pelaksanaan puasa tertentu dengan (digabungkan) dengan puasa lain-nya maka puasanya berhasil (Sah kedua-nya)… Dan seterus-nya. Keterangan lebih panjang dalam kitab Al-I’aab Sarh Al-‘Ubbad Li Ibni Hajar Al-Haitamy dijelaskan fatwa dari Al-Barazy bahwa jika seseorang puasa dalam puasa sunah (menggabungkan) puasa qadla atau puasa lain-nya maka puasa-nya sah, baik dia diniatkan melaksanakan puasa bersamaan atau tidak. Ulama lain-nya menuturkan bahwa seperti demikian juga jika bertepatan dalam suatu hari dua puasa sunah, seperti puasa ‘Arafah dan puasa Kamis. I’anatuth Thalibin, II/152


         Demikian juga ta’bir yang terdapat, baik dalam Bughyah atau Fathul Wahab, dan saya kira cukup keterangan dalam I’anatuth Thalibin diatas mewakili-nya. 

HIKMAH TIDAK MENURUTI SYAHWAT

Syaikh Ibrahim bin Adham, termasuk sufi yang nyeleneh. Beliau itu putra mahkota. Akan tetapi beliau salah suatu hari melepaskan atribut k...