TRANSKRIF CERAMAH.
KH Said Aqil Siradj - Haul Sayyidina
Husein R.
Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ‘ala
maulana wa syafiina wa habibina rasulillah, Muhammad saw. Wa man tabai’a
sunnatahu wa jama’ana ila yaumina hadza, ila yaumil ba’tsi wa kafa.
Ashabal Fadhilah Sadatana Ahlal Baitil
Mushtafa, Habibabana wa hamzakumullah, Wa ‘ala ru’usihim Assayiid Hasan Alai
al-Idrus.
Hadratsus Syaikh KH. Mahfudzh, KH. Hassan
Kriyani, Rekan-Rekan Pengurus NU, Wawan Arwani, rekan-rekan pengurus PMII,
pimpinan Forum Umat Islam se wilayah III, Bapak Syaihu, Sadati wa Sayidati
ahlil kubur.
Alhamdulillah pada malam hari ini, saya
juga merasa berbahagia bisa menghadiri acara yang sangat mulia dzikra syahadati
sebeti rasulillah saw, sayidina wa imamina Abi Abdillah al-Hussein as.
Mudah-mudahan kita semua medapatkan
berkahnya, syafaatnya , sehingga kita menjadi umat yang selamat bahagia dunia
akhirat amin ya rabbal amin.
Soal ada halangan, tempatnya pindah, saya
harap kepada seluruh panitia, jangan marah. Maafkan mereka yang memindahkan tempat
acara ini. Maafkan yah, jangan marah, jangan dendam.
Allahummahdihim fainnahum la ya’lamun.
Alhamdulillahi al-ladzi ja’ala a’da’na umaqa.
Hadirin yang saya hormati, setelah
al-khalifah al-rasyid yang keempat, al-Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib
dibantai, dibunuh pagi Jum’at 17 Ramadhan th. 40 H. oleh seorang yang bernama Abdurrahman
ibn Muljam. Pembunuh Sayyidina Ali ini orangnya qiyamul lail wa shiyamun nahar,
hafidhul Qur’an. Orangnya tiap malam tahajud, sampai jidatnya hitam, tiap siang
puasa, dan hafal al-Qur’an.
Mengapa dia membunuh Sayyidina Ali? Karena
menurutnya Sayyidina Ali itu kafir? Apa Kafir? Keluar dari Islam.
Kenapa Ali kafir? Karena menurutnya, Ali
menerima hasil rapat manusia. Hukum atau keputusan rapat manusia. Padahal, la hukma
ilallah (tidak ada hukum selain hukum Allah), wa man lam yahkum bima anzalallah
faulaika humul kafirun (maka barang siapa menggunakan selain hukum Allah, maka
kafir).
Sayyidina Ali tidak menggunakan hukum
Allah, tetapi menggunakan hukum hasil kesepakatan rapat di Dummatul Jandal.
Kalau kafir, maka harus dibunuh.
Eh anak kemarin sore, mentang-mentang
jidatnya hitam dan jenggotnya panjang, mengkafirkan man aslama min al-shibyan,
shihru rasulillah, fatihu khaibar, min al-sabiqin al- mubasyirun bi al-jannah,
bab al-ilm.
Anak kemarin sore berani mengkafirkan
remaja yang pertama kali masuk Islam, yang pertama kali shalat jamaah di
masjidil haram.
Waktu itu ditertawakan oleh Abu Jahal dan
teman-temannya.
Waktu itu yang pertama kali shalat
jama’ah di masjidil haram tiga
orang. Saat itu imamnya Rasulillah,
makmumnya sayyidah khadijah al-kubra dan Sayyidina Ali. Tiga orang itulah yang
pertama kali shalat terang-terangan di dunia ini. Dikafirkan oleh anak kemarin
sore, maklum pernah ikut pesantren kilat dua minggu.
Ali adalah shihru rasulillah, menantu
rasul. Ia juga dijuluki bab al- Ilmu, sahabat yang intelek dan cerdas. Ali juga
adalah min al-sabiqin al-awwalin al-mubasyirun bi al-jannah, salah satu orang
yang sudah dikasih tahu pasti masuk surga.
Di samping sahabat Abu Bakar, Umar,
Utsman, Thaha, Zubair, Abdullah bin Auf, Abu Ubaidah, Amr bin Jarrah, sampai
orang sepuluh yang dikasih tahu pasti masuk surga.
Sayyidina Ali juga dipercaya sebagai
Fatihu Khaibar, yang memimpin perang mengalahkan benteng terakhirnya Yahudi di
Khaibar.
Dan Imam Ali juga selalu hadir dan ikut
bersama rasul dalam peperangan perjuangan jihad fi sabililillah. Yang begini dikafirkan
oleh anak kemarin sore, bernama Abdurrahman ibn Muljam.
Ini, penyakit seperti ini sudah mulai
masuk ke Cirebon. ”Alah baca
al-Qur’an juga plentang-plentong. Ngerti
nggak itu asbab al-nuzul? Ngerti nggak itu tafsir? Negerti nggak itu mushtalah
hadits? Shahih, hasan dan dha’if? Ngerti nggak itu qira’ah sab’ah?
Apalagi qira’ah sab’ah, qira’ah yang
biasa aja nggak bener kok!
Ngerti nggak ushul fiqh? Ngerti nggak itu
ilmu kalam? Tarikhu
Tamaddun? Tarikhu Hadharah wa Tsaqafah?
Ngerti nggak itu?
Tahu-tahu mudah sekali mengkafirkan dan
menyalah-nyalahkan orang. Alah, Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun,
Alhamdulillah al-ladzi ja’ala a’da’na
umaqa, juhala. Alah. ”
Setelah Sayyidina Ali terbunuh di Kuffah,
maka gubernur Syam,
Muawiyah ibn Abi Sufyan ibn Harb ibn
Umayyah ibn Abdi Syams ibn Hasyim merasa plong, tidak ada saingan. Tidak ada
yang diperhitungkan lagi. Maka ia mendeklarasikan diri sebagai
penguasa tunggal. Lalu setelah itu
buru-buru ia mengangkat anaknya yang bernama Yazid, diangkat menjadi putra
mahkota,
yang akan mewariskan tahta, artinya kalau
ia mati, langsung digantikan anaknya, yang bernama Yazid. Yazid sendiri adalah
anak seorang ibu yang bernama Maesun,
orang Badui pedalaman,
yang tidak suka tinggal di istana, dan
suka hidup di padang pasir
dan suka tidur di kemah. Yazid sendiri
tidak pernah belajar ngaji
dan belajar agama, ia hanya belajar
berburu, naik kuda, memanah dan memainkan senjata.
Setelah Muawiyah meninggal, Yazid
langsung menjadi penggantinya, penguasa umat Islam. Waktu itu diutus beberapa utusan
berangkat dari Damaskus ke seluruh provinsi untuk mengambil sumpah setia dari
tokoh-tokoh yang ada kepada Yazid. Utusan-utasan itu berangkat ke Mesir, ke
Basrah, ke Kuffah dan juga diantaranya ke Madinah. Sampai di Madinah, para
sahabat besar, seperti Abdullah ibn Umar dan lain-lainnya mau berbai’at karena
dipaksa dan dibawah intimidasi. Meski yang lain bai’at, Imamuna Sayidina Husein
meminta waktu untuk berfikir. ”Nanti saya fikir dulu malam ini”,katanya.
Lalu Sayyidina
Husein pulang ke rumah. Di dalam kegelapan malam, beliau beserta seluruh
keluarganya meninggalkan Madinah al-Munawarah berjalan kaki menuju Makkah al-Mukarramah.
Masuk kota Makkah, ketika orang datang haji, orang-orang datang ke Minna,
beliau beserta keluarganya keluar dari Makkah. Beliau saat itu sudah sering
haji.
Ketika Sayyidina Husein keluar dari
Makkah, di tengah jalan ia dinasihati oleh seorang penasihat, bahwa kalau mau
melakukan perjuangan jangan pergi ke Kuffah. Karena orang Irak mudah berhianat.
Sebaiknya kamu ke Yaman, karena orang Yaman jujur dan mudah tidak hianat.
Ditengah jalan lagi, Sayyidina Husein
berjumpa seorang penyair bernama Farazdaq. Farazdaq bertanya mau kemana wahai
yang mulia? Beliau menjawab, saya mau ke Kuffah, saya menerima lebih dari
seratus surat, agar saya hijrah dan membangun peradaban di sana.
Farazdaq berkata; ”Jangan percaya orang Kuffah,
mulutnya bersama kita tetapi hatinya beserta Muawiyah”.
Sayyidina Husein menjawab, saya akan
tetap menuju Kuffah.
Farrazdaq berkata lagi: ”Kalau begitu,
perempuan dan anak-anak jangan kamu bawa”. Tetapi mereka tetap diajak bersama.
Rupanya Allah sudah menentukan mati
syahidnya Husein, sehingga Sayidina Husein tidak menerima masukan orang lain. Akhirnya
beliau tetap berjalan bersama keluarga dan pengikutnya.
Ada bukunya berjudul Ashabu Husein,
sedikit sekali, yang bersenjata hanya berjumlah 54 orang. Setelah Sayyidina
Husein meninggalkan Farrazdaq, lalu ada orang yang bertanya.
”Wahai Farrazdaq, tadi kamu berbicara
sama siapa, kok kelihatanya asyik banget”, tanya orang tersebut.
Farrazdaqpun menjawab dengan lantunan
bait-bait syair, yang artinya:
"Tadi yang saya ajak ngomong itu,
kamu ndak tahu? Kamu ndak
tahu?
Dia sudah dikenal seluruh umat manusia
Baik penduduk tanah halal dan tanah haram
Ka’bah pun sudah kenal dia Siapa dia itu?
Dia adalah anak orang yang paling mulia
(Sayyidina Ali)
Dia adalah orang yang bertakwa, bersih
dan suci
Kalau kamu ndak tahu? Dia putra Fatimah
Ketika orang Quraish melihatnya
Orang Quraish akan mengatakan, bahwa
orang inilah ujung orang
yang mendapat kemuliaan
Dengan kakeknyalah para Rasul dan Nabi di
akhiri Karena kakeknya Nabi yang terakhir".
Sayidina Husein beserta rombongan terus
melanjutkan perjalanan. Dan sesampainya di padang Karbala dihadanglah oleh 400 pasukan
penunggang kuda yang diperintah oleh Abdullah ibn Ziyad, yang dipimpin Umar ibn
Sa’ad ibn Abd al-Waqas.
Terjadi peperangan yang tidak seimbang,
termasuk hampir tentara Husein yang hanya berjumlah 54 orang. Semua yang ikut
Sayidina Husein mati syahid, kecuali Imam Ali Zainal Abidin, tidak meninggal
karena tidak keluar kemah karena sedang sakit demam. Dan juga istri Sayidina
Husein, Fatimah, adiknya juga Sayidah Zainab dan kakaknya lagi. Kira-kira ada 4
orang yang selamat.
Sebenarnya mudah sekali untuk membunuh
dan membantai Sayidina Husein, gampang. Tetapi tiap orang yang mendekat dan hendak
membunuh beliau, maka akan berusaha menjauh, dan mengatakan kalau bisa jangan
saya yang membunuh, tetapi yang lain saja.
Kalau datang waktu adzan, waktu shalat,
semuanya berhenti, lalu tidak ada yang berani menjadi Imam Shalat. Semua
sepakat Sayidina Husein yang mengimami shalat. Jadi yang memusuhi juga makmum
ke Sayidina Husein. Habis shalat lalu bertempur lagi.
Sampai akhirnya seorang yang menjadi
jausyan (tentara, algojo), dengan berani menarik Sayidina Husein dari kudanya.
Begitu jatuh, dinaikkin, diinjak, ditebas lehernya, dipisahkan kepala dan
badannya. Badanya diinjak-injak oleh kuda sampai rata dan menyatu dengan tanah
Karbala. Tinggallah kepalanya. Kepalanya ditancapkan di tombak, dibawa ke
Kuffah, diarak keliling kota Kuffah, bersama 4 keluarganya tadi. Dari Kuffah
lalu dibawa ke Syiria, Damaskus.
Di kereta itu isinya, istrinya, adiknya,
anaknya, dan saudaranya. Luar biasa sekali (kejamnya red.).
Sampai di Damaskus, kepala itu dipasang
di depan istana Yazid. Dan setiap orang yang lewat diperintahkan oleh tentara
untuk memaki-maki dan menjelek-jelekannya. Setelah kepala itu cukup lama
terpajang di depan istana Yazid, Sayidah Zaynab memberanikan diri agar dizinkan
membawa kepala itu pulang ke Madinah.
Yazid mengizinkan. Tetapi di tengah jalan
dicegat oleh tentara Yazid agar kepala tersebut tidak sampai ke Madinah. Karena
takut dapat membangkitkan dan membakar emosi penduduk Madinah. Makanya kemudian
kepala tersebut dibelokkan ke Mesir. Makanya makam Sayidina Husein ada di Kairo
di Mesir. Ali Zainal Abidin, putra beliau, dipulangkan ke Madinah.
Saudara-saudara dan para hadirin
sekalian, kenapa saya cerita demikian? Ini karena ideologi apa pun, agama apa
pun, keyakinan apa pun tidak bisa besar tanpa ada pengorbanan, tanpa ada
syahadah (kesyahidan). Ini terlepas dari agama apa saja. Kristen bisa maju
karena banyak pengirbanan. Budha dan Hindu masih tetap ada karena banyak
pengorbanan.
Demikian juga Islam, berkembang sampai
sekarang karena pengorbanan syuhada, banyak nyawa yang mengalir, demi
mempertahankan agama Islam.
Pertama kali yang syahid dalam agama
Islam adalah perempuan,
namanya Sumayah. Istrinya Yasir, ibunya
Amar bin Yasir, yang
dibunuh oleh Abu Jahal. Lalu seminggu
kemudian, suaminya dibunuh, Yasir. Seminggu kemudian, Amar akan dibunuh. Tetapi
selamat, karena dalam keadaan terpaksa ia pura-pura murtad.
Begitu pura-pura murtad, langsung
menghadap Rasulullah saw, dan menyatakan bahwa dalam keadaan terpaksa, diancam
dibunuh, ia pura-pura murtad, pura-pura mecaci maki Rasul.
Rasul menanyakan, bagaimana isi hati
Amar? Amar menjawab, hatinya tetap beriman. Rasul pun memaafkannya, karena
memang dalam keadaan terpaksa.
Jadi yang pertama syahid dalam Islam itu
perempuan. Kalau laki-laki itu biasanya omongnya saja yang besar. Kalau
perempuan itu buktinya ada.
Selanjutnya banyak lagi darah pengorbanan
para syuhada tercurah demi mempertahankan Islam. Syuhada Badar, syuhada Uhud.
Sayidina Hamzah ibn Abbas, Sayidina Hmzah ibn Abdi Muthalib, Mus’ab ibn Umay,
Sayidina Khalid ibn Walid, dan yang lainnya.
Darah syuhada mengalir demi melanggengkan
ajaran Islam. Syahadah Sayidina Husein tudak akan percuma, tidak sia-sia. Islam
bisa sampai di Indonesia itu antara lain, disebabkan oleh syahadah Sayidina
Husein.
Bagitu Sayidina Husein, sebagai ahlu bait
yang dibenci penguasa. Sayidina Husein memiliki putra, Ali Zainal Abidin.
Zainal Abidin punya putra Muhammad al-Baqir.
Muhammad al-Baqir punya putra Ja’far
al-Shadiq. Ja’far al-Shadiq punya putra Musa al-Kadzim, Ismail. Musa al-Kadzim punya
putra Ali al-Uraifi, yang kuburannya sekarang kuburannya di Madinah digusur dan
dijadikan jalan tol. Imam al-’Uraifi punya putra namanya, ’Isha. ’Isha punya
putra Ahmad. Ahmad hijrah dari Madinah ke Yaman. Dari Yamanlah Ahmad al-Muhajir
punya keturunan sampai ke Kamboja, sampai ke Cirebon, Gresik.
Para wali songo di pulau Jawa ini adalah
kuturunan dari al-’Uraifi. Seandainya ahlu bait itu hidupnya enak, tidak
dikejar-kejar mungkin Islam akan lambat datang ke Indonesia.
Syahadah Sayidina Husein tidak sia-sia.
Dengan syahadah Sayidina Husein mempercepat Islam tersebar ke Timur. Pada malam
hari ini kita mengenang kembali, menghormati pengorbanan cucu Rasul saw. Kita
ini bukan saudaranya, bukan cucunya, bukan besannya, tetapi menghormati saja
kok males banget. Malah ada yang tidak percaya, ”haul itu apa?”, ”kirim doa
itu apa?” ”ndak akan nyampe”, katanya.
Coba kalau kita balik doanya, doakan
bahwa: ”mudah-mudahan Bapak sampean masuk
neraka”. Nah kalau didoakan seperti ini
maka orang itu marah juga. Berarti percaya bahwa doa itu sampai dong.
Islam yang datang ke Jawa ini adalah
Islam ahli sunnah wal jama’ah, Islam yang selalu menjunjung tinggi tawasuth,
berfikir moderat. Tidak ekstrem. Islam yang dibawah para habaib, sayyid, dan
saddah, yang berdakwah dengan cara-cara damai. Dulu tidak ada para habaib yang
galak. Mereka berdakwah dengan cara dan sarana-sarana kebudayaan yang ramah.
Para wali dan Sunan itu kan para habaib, tidak ada yang galak. Tidak tahu kalau
sekarang,
dan akhir-akhir ini, apa ada habib yang
galak.
Yang jelas dulu tidak ada para habaib
kalau berdakwah pakai cara-cara mengobrak-abrik rumah orang. Saya tidak tahu,
kalau sekarang, mungkin ada habib yang berdakwah secara keras? Dakwah para
dakwah habib itu dengan cara-cara ramah, dan memasukkan bahasa dan budaya ke
sini. Banyak kata dalam bahasa Arab masuk ke bahasa Indonesia.
Dulu para ulama memoles sedemikian rupa,
melalui cara-cara budaya, bahasa,
yang damai. Tidak ada paksaan dalam
agama. Dan itu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Ada seorang namanya al-Hasyim
dari Bani Salim al-Khazraj. Ia
musyrik, punya dua anak beragama Kristen.
Sewaktu Nabi masuk Madinah, ia masuk Islam. Ia pun memaksa dua anaknya agar masuk
Islam. Lalu turunlah ayat al-Qur’an yang berbunyi:
”La ikraha din” (tidak ada paksaan dalam
agama).
Jadi asbab al-nuzul turunya ayat La
ikraha fi din adalah karena kondisi berikut.
Oleh karena itu, mari kita yang ahli
sunnah, dan para ahlu bait, dan para pecinta keluarga Nabi, kita tunjukkan
bahwa kita
berakhlak. Kita jauhi segala tindak
kekerasan, kita jauhi cara-caradakwah syiddah dan ikrah.
Rasulullah ketika Fathu Makkah, begitu
masuk Makkah, lalu menyebarkan jargon bahwa hari ini adalah bukan hari
pembalasan
tetapi hari kembali membangun kasih
sayang (yaumul marhamah).
Dengan demikian sekonyong-konyong para
musuh Quraisy Makkah datang ke Muhammad saw. Maka kemudian turunlah ayat yang
menyeru agar Nabi pun memaafkan mereka dan meminta ampun mereka kepada Allah
Islam bukan hanya agama aqidah dan
syariah.
Tetapi Islam juga adalah agama Tamadun
dan Tsaqafah, Islam adalah agama
peradaban dan pengetahuan.
Globalisasi yang di bawah islam dari timur
ke Barat, adalah kemajuan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan. Bukan
globalisasi fitnah dan fawahisy, yang seperti kita laksanakan sekarang ini Oleh
karena itu, agama tidak akan maju, bila tidak dibarengi dengan peradaban. Agama
tidak akan maju bila tidak dibarengi dan diwarnai dengan budaya. Karena agama
itu suci dari langit, akan langgeng bila disosialisasikan, bila dibumikan
secara manusiawi, dan bukan melulu didoktrinkan.
Aqidah, Iman dan Shalat serta Puasa
memang dari ajaran langit. Tetapi tidak akan langgeng bila tidak dibarengi
dengan budaya.
Kita harus mempertahankan nilai ketuhanan
dengan aktifitas
manusia di bumi. Menjadikan peradaban
sebuah doktrin. Dulu kan ada tradisi sesajen, para ulama dan kyai tidak
langsung menyatakannya sebagai syirik. Tetapi menyatakanya bahwa kalau kamu
punya uang yah sedekahnya atau sesajennya jangan cuma di empat pojok.
Tetapi ayo menyembelih kambing saja.
Setelah kambing disembelih, lalu orang deramwan itu tanya mau taruh dipojok
mana daging kambing itu? Maka kyai akan menjawab jangan ditaruh tetapi mari
undang para tetangga untuk makan- makan dan doa serta tahlil bersama. Nah
dakwah semacam ini
kan ramah. Tidak langsung mengatakan ini
itu syirik dan bid’ah, nanti umat lari.
Jangan sekali-kali menuding ini itu
syirik atau bid’ah. Mengerti tidak apa itu bid’ah itu?.
Apa yang tidak dilakukan dan diajarkan Nabi
itu bid’ah Kalau tidak ngerti, diantara contoh bid’ah adalah tulisan Arab yang
ada titiknya itu bid’ah. Nah titik itu ditemukan oleh Abu Aswad al-Dualy pada
th. 65 H. Sudah ada titiknya juga masih banyak yang belum bisa baca al-Qur’an,
maka, Imam Khalil
ibn Ahmad al-Farahidi, gurunya Imam
Syibawaih, bikin syakal (harakah), fathah, kasrah dan dhammah.
Sudah ada titik dan syakal, nyatanya
masih banyak orang yang tidak bisa baca al-Qur’an, maka Imam Abu Ubay Qasim ibn
Salam w. 242 H menyusun ilmu Tajwid, agar benar dalam membaca al- Qur’an.
Mau bener baca al-Qur’an pakai ilmu
Tajwid. Ilmu Tajwid itu bid’ah, karena memang semua ilmu pengetahuan itu
bid’ah. Karena memang Rasul tidak mengajarkannya. Contoh lagi, ada seorang
gubernur dari Asia Tengah, Amir al-
Mahdi kirim surat pada Muhammad ibn Idris
ibn Syafi’i (Imam Syafi’i). Surat itu isinya tanya, saya kalau baca al-Qur’an
dan Hadits, itu isinya nampak bertentangan? Lalu untuk menjawab ini Imam
Syafi’i menyusun kitab Ar-Risalah, yang berisi kaidah- kaidah Ushul Fiqh. Serta
ada Ushul Fiqh baru kemudian ada Ilmu Fiqh.
Lalu kemudian ada penjelasan dalam Ilmu
Fiqh mengenai rukun shalat. Kalau mau shalatnya benar yah mengikuti Ilmu Fiqh, yang
susunannya ulama.Kalau Cuma lihat al-Qur’an dan Hadits tidak akan ketemu.
Contoh satu lagi, biar jelas saja. Contohnya
ada orang pergi haji, masuk hotel ambil kamar yang bagus. Begitu tanggal 8 mau
ke Arafah, ia mau cari tahu berapa jarak hotel ke Arafah, ke mana arahnya,
naiknya apa? Dia lalu buka al-Qur’an dan Hadits, yah tidak akan ketemu. Nah
sebaiknya bagaimana, yah ikut saja rombongan yang ke Arafah. Nah ikut saja itu
kan bahasa Indonesia, bahasa Arabnya yah taqlid saja.
Jadi kita tidak bisa melaksanakan ibadah
dengan baik tanpa ilmu
Fiqh, yang bukan bikinan Rasul, bukan
sahabat Abu Bakar, Utsman dan Ali. Sahabat Husein juga tidak bikin Ilmu Fiqh.
Nah bila ada orang shalatnya bagus
sekali, lalu kita tanya, Bapak kan shalatnya bagus sekali, dari mana belajarnya
Pak? Lalu bila ia jawab, ia belajar dari al-Qur’an dan Hadits, itu bohong.
Kalau mau jujur, ia sebenarnya belajar
dari ayah atau gurunya, yang mentok-mentoknya merujuk pada kitab Safinah. Atau
kalau Safinah terlalu besar, yah mentok merujuk pada Fashalatan, atau minimal
buku Petunjuk Shalat Lengkap.
Yang namanya ibadah itu harus dengan
ilmu. Sedangkan ilmu itu bukan karangan Rasul dan para sahabatnya. Ilmu
Mushtalah Hadits itu disusun oleh Imam Syihabuddin Arrahumuruzi atas perintah
Umar ibn Abd al-Aziz, setelah mengingat banyakanyaBhadits dha’if dan palsu.
Jadi Islam itu agama peradaban, akhlak dan
pengetahuan. Bukan hanya doktrin yang sering ditampilkan sangar itu.
Karena itu mari mulai malam hari ini,
tingkatkan ahlak kita, tingkatkan ilmu pengetahuan kita. Pahamilah Islan dengan
baik dan benar. Kalau mau memahami al-Qur’an tidak bisa langsung, polosan.
Harus mengerti asbab al-nuzul, ilmu tafsir, ilmu qira’ah, ilmu bahasa Arab,
nahwu sharafnya. Kalau ingin memahami ilmu hadits maka harus memahami ilmu
mushtalah al-hadits.
Pada kesempatan ini, mari kita rayakan
jasa para habaib dalam menyebarkan agama Islam. Seandainya tidak ada habaib dan
ahlu bait, mungkin kita akan jauh bisa meneladani akhlak Rasul saw.
Imam Syafii pernah menyatakan, bahwa
kalau ada orang yang mencintai Ahlu Bait, lalu dianggap Syiah, maka OK tidak
apa-apa, silahkan saya dianggap Syiah.
Sesungguhnya, tragedi pembantaian di
Karbala yang demikian bukan hanya tragedinya Syiah, tetapi tragedi kemanusiaan.
Seharusnya ini bukan hanya milik Syiah tetapi yang lain juga.
Tulisan ini adalah rekaman ceramah KH.
Said Aqiel Siradj [Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)] pada acara
peringatan 10 Muharam di Keraton Kasepuhan Cirebon, 07/01/2009, yang dibayang-bayangi
tindak intoleransi dan diskriminasi.