Friday, November 14

HIKMAH TIDAK MENURUTI SYAHWAT

Syaikh Ibrahim bin Adham, termasuk sufi yang nyeleneh. Beliau itu putra mahkota. Akan tetapi beliau salah suatu hari melepaskan atribut kerajaan-nya, hartanya diberikan kepada fakir miskin. Kemudian kerajaanya di serahkan pada patih kerajaan. Kemudian dia berkumpul dengan waliyullah Sufyan At-Tsauri.
Beliau berkata: Tidak akan mendapatkan derajat orang sufi. Kecuali melewati enam aqabah (jalan rumpil yang terletak dipinggir gunung).

1.       Mengunci, pintu-nya kemulyaan, dan membuka pintu kerendahan.
2.      Mengunci, pintu kenikmatan, dan membuka pintu kesulitan.
3.      Menguci, pintu istirahat, dan membuka pintu kepayahan.
4.     Menguci, pintu-nya tidur, dan membuka pintu-nya sadar.
5.      Mengunci, pintu-nya kaya dan membuka pintu kefakiran.
6.      Menguci, pintu-nya angan-angan, dan membuka pintu-nya persiapan setelah mati.
 Berkata Ibrahim Al Khawas, aku berada digunung lattam, aku melihat rumman (delima) yang membuatku syahwat (keinginan yang sangat) untuk memakan-nya , aku mendekati rumman, aku mengambil salah satu diantara-nya, kemudian membelah-nya, akan tetapi rumman tersebut masam. Kemudian aku meninggalkannya, setelah itu aku pergi meninggalkan rumman tersebut. Lalu aku menjumpai seorang gembel, tubuhnya yang sakit sampai dipenuhi belatung.
Aku ucapkan kepadanya, “Assalamu’alaikum”
Dia menjawab “Wa’alaikumussalam.. wahai ibrahim”.
Aku bertanya kepada-nya “Bagaimana kamu mengenalku”.
Man ‘arafa allah, lam yakhfa sya’un. jawab-nya!
Barangsiapa yang kenal dengan Alloh, maka tidak ada yang samar sedikit-pun.
Aku berkata: Aku melihatmu pada suasana ketuhanan bersama Alloh. Jika kamu memohon kepada Alloh, supaya menjaga Alloh, dari belatung-belatung itu.
Dia menjawab: kamu ini aneh, Aku melihat-mu dalam suasana ketuhanan bersama Alloh, mbok ya kamu memohon kepada Alloh, supaya  Alloh menjagamu dari syahwat-nya rumman. Karena sesungguhnya syahwat-nya rumman, seseorang akan menerima kekecewan yang mendalam kelak diakhirah. Dan sesungguhnya gigitan belatung hanya saya terima didunia saja.

Dan Berkata Syaikh Sirri As Saqathi berkata, sesungguhnya nafsuku menuntutku. Selama tiga puluh tahun, atau mungkin empat puluh tahun. Permintaannya supaya menyelupkan garpu pada manisan anggur. Maka aku tidak menuruti memakannya.

Ibrahim Al Khawwas ini, orang elit dalam tatanan menata hati, memutuskan syahwat. Tentunya terhitung cacat jika mengikuti syahwat (keinginan), meskipun hanya memakan rumman (delima). Seorang hamba tidak selayaknya putus asa dalam mencegah menuruti syahwat (keinginan). Setidaknya memakan apapun tidak didasarkan pada nafsu, syahwat.







BERGANTUNG PADA SESAMA MAKHLUK

Husain bin Hamdan  berkata: Aku berada di masjid Kiai Harun, dan duduk didekatku ada seseorang yang mendatangi-ku, lalu duduk didekatku. Lalu dia tanya, siapa namamu? dia menjawab: nama saya Sa’id. Kemudian saya bertanya, siapa panggilan kun'yah-mu?, dia menjawab; Abu Utsman.

Kemudian aku bertanya tentang cerita-nya sampai ditempat tersebut. Kemudian Sa’id berkata: Aku kehabisan kebutuhan-ku.
Lalu siapa yang kamu harapkan, jika kamu tertimpa kekurangan?
Dia menjawab: Kiai Yazid bin Harun.
Jika demikian, maka Kiai Yazid tidak akan menolongmu, dan harapa-mu takkan tercapai.
Lalu, dia tanya. Menurut sepengetahuanmu, bagaimana menyelesaikan permasalah-ku ini wahai Ki Sanak, semoga Alloh merahmati-mu?
Sungguh, aku telah membaca didalam sebagian kitab terdahulu, sesungguhnya Alloh berfirman:

“Demi keAgungan-Ku dan keAgungan-Ku, Kemurahan-Ku, kemurahan-Ku, Yang keluhurannya diatas ‘ArasKu. Didalam derajat-Ku yang Maha Tinggi. Pasti Aku akan memutus cita-cita seseorang yang mengharap selain Aku, dengan putus asa. Jika tidak demikian pasti Aku akan memberikan pakaian kehinanaan pada diri-nya dihadapan manusia, dan aku akan mengusir-nya dari taqarrubnya dihadapan-Ku.

Adakah seorang yang mengharap selain Aku pada kesulitannya? Padahal semua kerepotan itu kucinya, terdapat pada-Ku dan Aku adalah Maha Penyelamat. Pikiran mereka mengetuk-ketuk kemungkinan, padahal  seluruhnya itu adalah selain pintu-Ku dan pintu rahmat-Ku tidak pernah tertutup untuk siapa-pun.

Wahai...siapa yang berharap kepada-Ku pada kerepotan lalu Aku tidak menolong-nya?, dan siapa yang pernah mengetuk pintu rahmat-ku, lalu Aku tidak membukakan-nya?, akan tetapi Aku menjadikan harapan-nya kepada makhluk-makhluk-Ku itu terlihat sambung, maka kemudian menjadikan manusia menggantungkan harapan-nya  pada selain Aku. Dan aku jadikan harapan mereka simpanan disisi-Ku, akan tetapi mereka tidak ridla pada penjagaan-Ku. Dan aku telah memenuhi langit-langit-Ku dengan para Malaikat-malaikat-Ku yang selalu bertasbih kepada-Ku, dan Aku telah memerintahkan kepada mereka supaya tidak menutup pintu rahmat-Ku, akan tetapi mereka para manusia tidak percaya kepada ucapan-Ku, apakah mereka manusia tidak tahu bahwa cobaan sekecil apapun tak ada yang mampu menghilangkan kecuali Aku, maka mengapa mereka mempunyai harapan yang banyak sekali, akan tetapi ditunjukan kepada selain Aku.

Aku telah memberikan kepada mereka perkara yang belum dia pernah memohon kepada-Ku, tapi kenapa mereka meminta dikembalikan kepada selain Aku, apakah mereka tidak mengetahui bahwa Aku memberikan sesuatu sebelum mereka meminta, apakah mereka anggap bahwa Aku ini, Tuhan yang pelit. Apakah mereka tidak tahu bahwa yang Maha Dermawan dan Maha Memberi  itu Aku?, Apakah Aku bukan tempat meminta yang Maha Memberi.

Andaisaja Aku berkata kepada semua penduduk bumi dan langit supaya memohon kepada-Ku, dan setiap dari mereka Aku berikan pada tiap satu dari mereka, dengan pemberian yang mereka minta. Kemudian saya berikan lagi semua-nya seperti permintaannya, maka tidak mengurangi sedikitpun dari  kerajaan-Ku, kecuali bagaikan kurang-nya semut hitam.

Bagaima berkurang kerajaan yang sempurna, dan Akulah yang menyempurnakan kerajaan-kerajaan manusia yang terlihat sempurna. Wahai.. buruk sekali, orang yang putus asa dari rahmat-Ku, buruk sekali orang yang bermaksiat kepadaKu, dan mereka tidak sadar bahwa Aku melihat-nya, dan mereka terus menerus melakukan maksiat kepada-Ku, dan mereka tidak merasa malu kepada-Ku ”.
۞۞۞۞۞

Cerita panjang ini, dikutip dari Sarh Hikam Athaiyah karya Ibnu 'Abbad An Nafary, men-sarah-i (mengomentari) kitab fenomenal, yang tidak pernah habis dikaji sepanjang masa,  Ibnu Athailah Assakandari. Ketika menjelaskan maqalah-nya:

من لا يستطيع أن يرفع حاجة عن نفسه فكيف يستطيع أن يكون لها عن غيره رافعا ؟
Artinya ±: Seseorang yang tidak mampu, mengangkat (menyelesaikan/ mencukupi) kebutuhan diri-nya, maka bagaimana seseorang mampu mengangkat kebutuhan dari orang lain?.
Seperti perkataan sebagian besar Ulama; Siapa yang bergantung pada selain Alloh, maka siap siaplah mereka tertipu.
Sedangkan Abu Yazid bin Hamdan, yang disebutkan diatas adalah guru-nya Ulama yang tidak asing lagi, yaitu guru Imam Ahmad bin Hambal, yang kezuhud-an-nya tidak pernah diperhitungkan, apalagi ke-aliman-nya.

۝۝۝
Semoga bermanfaat. Perlu sekiranya penulis tambahkan, bahwa Sa'id atau orang yang biasanya dipanggil Abu Utsman diatas tertegun lama setelah ndomblong keheranan begitu dalamnya ilmu yang disampaikan Syaikh Husain bin Hamdan. Bahkan setelah mengucapkan terimakasih dia meminta mendekte supaya ditulis olehnya. Dan yang  terakhir dikatakan kepada Syaikh Husain "Wallahi... saya tidak akan menulis hadits lagi, setelah ini".


Karena tercukupkan dengan hadits Qudsy, yang sangat bagus diatas.

Saturday, November 8

Nyai Hj. Zainab Shiddiq. Ibu Yang Melahirkan Banyak Tokoh


A. KEHIDUPAN NYAI ZAENAB

Nyai Hj. Zainab Shiddiq lahir di Jember pada hari Ahad 22 Romadlan 1333 (1915). Zainab adalah putri Mbah Shiddiq yang keempat dari ibu Nyai Maryam. Beliau sudah menjadi piatu sejak kecil karena di tinggal wafat Nyai Maryam saat pulang menunaikan haji.

Zainab di didik mengenal agama, sholat, dan syariat agama yang langsung oleh abah dan uminnya. Abah sendiri yang mengajar sistem kitab kuning pada Zainab di rumah ibu Nyai Maryam. Rumah (ndalem) Mbah Shiddiq ada dua yaitu Ndalem Utara dimana beliau tinggal bersama dengan Nyai Maryam. Di rumah inilah putra-putri Mbah Shiddiq dan Nyai Maryam tinggal. Mereka antara lain; Mahfudz Halim, Zainab, Abdulloh dan Achmad

Sedangkan di Ndalem Selatan, tempat tinggal beliau dengan Nyai Mardliyah dan putrinya yang semata mayang yaitu Zulaikho dan tiga orang anak tirinya yaitu putra-putri Nyai Mardliyah dengan H. Masyhuri (Sholeh, Khotijah dan Zulaikhoh).

Pada tahun 1928, Nyai Maryam mengajar mengaji santri putri. Para santri putri tersebut di tempatkan di Musholla darurat yang bersebelahan dengan Ndalem Utara, Murid-Muridnya antara. lain Cik Alimah (Ny. Hj. Abdullah). Saat itu pengajaran lebih di tempakan pada amaliahnya atau ilmu praktek beribadah. Pernah seorang santriwati bertanya “Mengapa berdo’a kok pakai tangan menengadah terbuka”. ”Oh…, itu biar tidak bocor do’anya “, jawab Nyai Maryam berkelakar tetapi filosofis. Zainab dinikahkan oleh Abanya dengan KH. Muhammad bin KH. Hasyim dari Mojosari pada tanggal 17 Sva’ban 1351 H (16 Otober 1932).

Sebelum menikah dengan Nyai Zainab, KH. Muhammad bin Hasyim sudah menikah dengan Nyai Muniroh binti Ismail, Lasem. Mereka dikaruniai 5 orang putra yaitu: Hafsin, Maulah, Muhammad, Roqib (wafat kecil) dan Zahroh (wafat kecil), dan akhimya Nyai Muniroh wafat meninggalkan 3 putra yang masih kecil-kecil.

KH. Muhammad adalah tokoh ulama yang aktif berjuang di NU. Pengabdiannya yang Lulus ikhlas dan memiliki kealiman agama sehingga menghantarkannya dipercaya sebagai salah seorang Awan HBNO pada periode Ro’is Akbar Hadratus Syech Hasyim Asy’ari dan ketua Tanfidziah HBNO-nya adalah KH. Machfudz Shiddik. Kyai Machfudz akrab sekali dengan Kyai Muhammad la tertarik pada Kyai Muhammad karena kecerdasan, ulet dan guyonannya. Kyai Muhammad berkepribadian humoris sehingga banyak orang suka padanya.

Profesi Kyai Muhammad adalah Pokrol (Pengacara hukum) di samping, tugas rutinnya selaku guru ngaji. Sebagai Pokrol, Kyai Muhammad banyak membela orang-orang yang tertindas dalam hukum. Termasuk Kyai Wachab Chasbullah-pun sering dibela

dalam pengadilan dulu. Ketika KH. Machfudz dan KH. Hasyim Asyari ditahan Jepang, Pokrol Kyai Muhammad-lah yang getol melakukan pembelaan hukum. Sampai dibebaskannya 2 tokoh teras NU itu, berkat keuletan diplomasi hukum Kyai Muhammad Konon, Kyai Muhammad berpenampilan sangat wibawa. Tentu saja kekyaiannya itulah yang menambah wibawa penampilannya. Setiap orang yang berhadapan dengannya, pasti keder. Mungkin hidzib dan amalan wiridnya yang ampuh sehingga berpenampilan wibawa.

“Kang, aku golekno bojo…, Mosok Sampeyan gak saaken nang aku/Kang, aku carikan istri…, Masa Sampeyan tidak kasihan padaku “, kata Kyai Muhammad suatu hari pada Kyai Machfudz. Hanya pada kang Kyai Machfudz, la. berani mengutarakan isi hatinya yang rahasia itu. “Ono. Sampeyan oleh adikku wahe/Ada, Sampeyan dapat adikku saja “, jawab Kyai Machfudz disela-sela suasana santai dalam. kongres.

Begitu selesai acara kongres mereka, berdua ke Jember. Lobbi kecil ini ternyata. bermanfaat. Jadilah Kyai Muhammad menikah dengan Nyai Zainab. Setelah 3 bulan pemikahannya barulah Kyai Muhammad memboyong 3 putranya yang sudah piatu: Hafsin, Maulah dan Muhammad.

Kepribadian Kyai Muhammad yang humoris menjadikan sangat dekat dengan saudara-saudar ipar dan tetangganya. Hobinya makan kue pisang goreng bersama-sama saudara. iparnya & Hanya untuk makan kue kesukaannya itu, ia panggil semua adik ipamya. (Nyai Zulaikho, Solikhah, Abdullah dan Achmad. Shiddiq). Bahkan sepulang dari tabligh, Kyai Muhammad sudah teriak-teriak (di pintu gerbang pondok) memanggil saudaranya itu, sambil menenteng oleh-oleh.

Kyai Muhammad juga mengajar mengaji membantu mertuanya. Dan saat itu juga, la menjabat sebagai kepala penghulu di Jember dan Ta’mir Masjid Jamik bersama Kyai Halim. Mengajar di rumahnya, sambil duduk di atas safrah (Amben/dipan kayu besar dan panjang). Yang banyak diajarkan adalah Fiqih dan Akhlaq (tasawwuf). Sering beliau bercerita tentang kisah Nabi-nabi dalam menjelaskan pelajarannya. Selingan cerita itulah yang banyak membekas pada santrinya.

Sepeninggal Nyai Maryam, Nyai Zainab meneruskan pengajaran kitab kuning pada para santriwati. Kepribadiannya yang sabar dan telaten itulah, lambat laun jumlah santriwatinya bertambah banyak Dan Musholla kecil warisan Nyai Maryam itu sudah tidak muat menampung santriwati yang berdatangan dari desa-desa dan para tetangganya. Selanjutnya, dibangunlah gedung musholla dan empat kamar santriwati di sebelah barat rumahnya(lokasi sekarang). Bahkan pada peresmian musholla tersebut dihadirijuga oleh KH. Achmad Dahlan (Menteri Agama). Sejak itu diumumkan nama Pesantren itu “Pesantren Putri Alawiyah”. Nama Alawiyah adalah untuk mengenangiasa Haji Alwi yang mewaqofkan tanah itu

Gagasan besar untuk menjadikan Pesantren Alawiyah sebagai kawah Candra di muka muslimah di Jember menjadi angan-angan suami istri ini. Tapi rupanya Alloh Swt. masih mengujinya dengan wafatnya Kyai Muhammad pada tahun 1952. Kyai Muhammad wafat malam Selasa 10 Romadion 13…. H (tahun 1952 M). Beliau wafat dengan meninggalkan putra-putrinya yang masih kecil (yatim). Anak sulungnya (Hizbullah) masih berumur 12 tahun dan sekolah di SMI (Sekolah Menengah. Islam) Jember. Kyai Muhammad dimakamkan berkumpul dengan abah-mertuanya dan saudara-saudaranya di Turban Condro

Pernikahan Kyai Muhammad dengan Nyai Zainab dikaruniai sembilan putra-putri yaitu:

1. Hizbullah (H. Hizbullah Huda), beliau adalah aktivis NU dan PPP. Ialah ketua Ansor Wilayah Jawa Timur tahun 1965 – 1970 yang berani menggerakkan Banser (Barisan Serba Guna) Ansor menandingi dan membasmi PKI di Jatim. la juga yang mendirikan PMR (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), bersama 13 orang deklamator lainnya antara lain: Chalid Mawardi (Jakarta), Said Budairi (Jakarta), Shobih Ubaid (Jakarta), Ma’mun Sukri BA. (Bandung), Hilman (Bandung), H. Ismail Makki (Yogja), Munsif Nahrowi (Yogja), Nuril Huda Su’ adi HA. (Solo), Laili Mansur (Solo), Abdul Wahab Jailani (Semarang), M. Kholid Marbuko (Malang) dan Ahmad Husein (Ujung Pandang). Pengabdiannya yang lama di NU dan PPP mengantarkannya sebagai: a. Wakil Ketua DPR – GR Jatim (1968 – 1971) b. DPRD-Jatim /MPR-RI (1971-1977) c. DPR-RI/MPR-RI (1977-1987)

Gus Hiz ini wafat Hari Jum’at 28 April 1995 1995 dan di makamkan di kompleks Darus Sholah Tegal Besar Jember.

2. Faruq (KH. Faruq Muhammad), adalah muballigh terkenal di Jember dan pendiri Pesantren Riyadlus Sholihin Jember. Kyai Faruq mengabdi sebagai kepala Depag Jember, selanjutnya wafat tahun 1988 di makamkan di komplek pesantren Riyadush Sholihin Jember.

3. Fatchiyah (Dra. Nyai Hj. Fatchiyah), adalah dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogjakarta. Sekarang beliau sebagai ketua Muslimat NU Wilayah Yogja. Beliaulah salah seorang pendiri IPPNU (Ikatan Pelajar Putri NU).

4. Faridah (wafat kecil)

5. Nur Ajibah Indah (Dra. Nyai Hj. Endah Nizar, Lc.), adalah istri Alm. Drs. H. A. Nizar Hasyim (Dekan Fak Tarbiyah LAIN Jember). Profesi beliau sebagai dosen di IAIN Sunan Ampel dan UNSURI Surabaya. Nyai Endah aktif sebagai Wakil Ketua Muslimat NU Jawa Timur sampai sekarang.

6. Faichotul Himmah (Dra. Nyai. Hj. Elok Fajqotul Himmah), sekarang, mengasuh Pesantren Zainab Shiddiq. Beliau termasuk muballighah dan sekretaris Muslimat NU Jember. Duetnya bersama Dra. Nyai Hj. Nihayah Achmad Shiddiq dalam Muslimat telah berhasil mendirikan Rumah Bersalin Islam Muna Parahita di Jember.

7. Nadzir (Drs. KH. Nadzir Muhammad MA), adalah mantan ketua dewan Mahasiswa IAIN dan aktivis PMII Yogya. Kyai Nadzir meneruskan karir politiknya di PPP Jatim dan pernah menjabat sebagai anggota DPR-RI dari Fraksi PPP. Kemampuannya sebagai, intelektual dan politisi menjadikannya disegani oleh kawan dan lawan.Sekarang Beliau Pengasuh Pesantren Darus Sholah meneruskan perjuangan Alm. KH Yusuf Muhammad

8. Nur (wafat kecil)

Muhammad Yusuf Samsul Hidayah (Drs. KH. Yusuf Muhammad LML.), adalah pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Darus Sholah Jember. Mantan Pengurus Pusat IPNU dan PB PMII inilah yang menggalang Kyai-kyai dalam wadah LPAI (Lembaga Pembinaan AkhIaq Islamiyah) di Jember., beliau dipercaya sebagai Wakil Ketua Pusat Robithah Ma’ahid Islamiyah (RMI). Kyai Yusuf inilah yang menurut anggapan banyak orang mewarisi kharisma Kyai Achmad Shiddiq sebagai figur pemikir dan Muballigh kondang. beliau pernah menjabat sebagai anggota DPR-RI dari Fraksi PKB. Beliau meninggal dalam musibah kecelakaan pesawat Lion Air di Solo, bersama 26 korban yang lain. Kecelakaan itu terjadi sore hari di Bandara Adi Sumarmo, saat pesawat tergelincir sesaat sebelum berhasil mendarat di bandara yang berjarak beberapa kilometer dari lokasi Muktamar NU di Solo. Namun demikian, jenazah Gus Yus baru dapat dipastikan keberadaannya pukul 22.30 WIB.

Saat itu, beliau hendak hadir kembali dalam Muktamar NU ke 31. Sebelumnya, yakni pada waktu pembukaan Muktamar NU yang diselenggarakan di Asrama Haji Donohudan Boyolali, Jawa Tengah, Gus Yus sudah hadir, malah bersama istri, Siti Rosyidah dan putranya, Ahmad Syarif Cornel Aulawi. Hanya, beliau harus ke Jakarta hari itu lantaran melaksanakan tugas sebagai Ketua Komisi VIII DPR RI, untuk rapat bersama Mensos Bachtiar Chamsah. Sore hari itu, usai rapat dengan Mensos, (30/ 11), Gus Yus bermaksud ke Solo menghadiri sejumlah perternuan Muktamar. Rencananya, esok pagi (1/12), beliau berencana ke Jakarta kembali, untuk menghadiri rapat dengan Menteri Agama, Maftuh Basuni. Beliau di makamkan di kompleks Darus Sholah Tegal Besar Jember.

Kesulitan demi kesubtan dalam hidup menguji Nyai Zainab.Sepeninggal suami, membawa resiko bagi Nyai Zainab berperan anaknva yang menuntut untuk mencan’n’zqi sendiri. Disamping itu, la dituntut kesabarannya sebagai ibu rumah-tangga, yang mendidik anak anaknya. Bahkan Nyai Zainab mendidik para santri dan masyarakat. Alloh swt. jualah yang mengatur taqdir kehidupannya.

Mulailah Nyai Zainab berdagang kecil-kecilan. Setelah sholat subuh dan mengajar santri, Nyai membawa dagangannya keliling daerah-daerah dengan naik becak. Sore hari menjelang Ashar, barulah beliau datang. Begitulah dilakukan setiap hari.

Nyai Zainab membuat peraturan pada anak-anaknya Semua anak-anaknya wajib membantu usaha dagang ibunya Teknisnya diatur bergiliran. Senin adalah piketnya hizbullah, Selasa tugas si Faruq. Begitulah seterusnya jadwal piket membantu dagangan ibunya dilakukan bergiliran pada semua putranya. Dan bila ada yang melanggar (tidak piket) maka ganjaran cetolan (cubit) paha sudah disiapkan.

“Kowe yen gak kerja, gak iso sekolah! ” (Kamu kalau tidak kerja, tidak akan bisa bersekolah) begitulah nasihat Nyai pada anak-anaknya.

Pembagian tugas kerja diterapkan. Hizbullah dan Faruq membuat strimin kudung. Seringkali keduanya balapan “siapa yang paling cepat dan banyak hasilnya”. Faruq yang lugu itu membuat dari pagi hingga sore (ngoyo) sedang Hiz hanya kerja santai-santai. Tapi tanpa setahu Faruq, Hizbullah ngebut kerjanya pada malam hari hingga subuh.

Ternyata watak Faruq yang lugu itu menjadikannya sebagai ciri kekyai-annya Dan Hizbullah yang banyak akal dan ulet itu muncul sebagai politisi kawakan. Sebagai pedagang keliling, arealnya luas sekali. Pernah si bungsu Yusuf diperintah ibunya untuk (bersepeda) nagih uang dagangan ke Lengkong – Mumbulsari. Nadzir sering ditugaskan ke Tanggul, sehingga perlu naik kareta api.

Ternyata, Nyai Zainab tidak hanya sekedar dagang saja. Sambil berdagang dimanfaatkannya pula untuk berdakwah/tabligh. Banyak Majlis Ta’lim (kelompok pengajian) dan ranting-ranting Muslimat NU yang berdiri atas prakarsanya. Sambil berdagang, la kumpulkan beberapa orang dan diisi pengajian. Saat itu, beliaupun menjabat sebagai wakil ketua Muslimat NU.

Nyai Zainab-pun terlibat aktif dalam pendirian “Sekolah Muallimat” tahun 1953. Bersama Kyai Dzofir, KH. Ridwan, Imam Sukarsan, Pak Cholil Subari, KH. Shodiq Machmud di dirikan Madrasah yang khusus untuk mencetak calon guru-guru agama putri. Pada waktu yang bersamaan Mereka pun merintis berdirinya PGA (Pendidikan Guru Agama) di Gebang. Pada awalnya klas-klas dalam Mu’allimat ditempatkan di Ndalem Nyai Zainab dan rumah Kyai Makmun (sekarang rumah KH. Umar Ismail). Sekarang Madrasah Mu’ allimat itu diganti nama “Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Masyitoh”.

Selama mengajar santri, Nyai Zainab menekankan pada Fasholatan, Al-Qur’an dan Fiqih. Hanya untuk tartil Fatihah, seorang santri lulus dalam waktu 2 minggu. “Fatihah itu rukunnya sholat. Kalau tidak tartil bacaannya maka tidak sah sholatnya”, kata Nyai Zainab menerangkan tentang pentingnya bacaan Al Fatihah.

B. RESEP MENDIDIK ANAK Selain dikenal sabar, Nyai Zainab yang janda itu mempunyai kemauan keras mendidik anak anaknya setinggi mungkin. Dengan keras la pentingkan pendidikan anak-anaknya walaupun rizqIi”untuk makan sulit”. Tapi. Allahlah yang menolong hambanya. Semua putra-putrinya bisa menyelesaikan pendidikan formalnya secara memadai: 1. Hizbullah sampai ke Fakultas Hukum Unair Surabaya tingkat Akhir. la tak mnyelesaikan skripsinya karena sibuknya dalam pengabdian politik NU-nya. 2. Faruq bisa menyelesaikan sarjana mudanya, di Fakultas Kulliyatul Qodlo’ UNNU (Universitas NU) di Solo. 3. Fatchiyah dan Elok bisa menyelesaikan kuliahnya di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. 4. Endah bisa selesaikan Lc-nva di Al-Azhar Mesir 5. Nadhir setelah, menyelesaikan Drs-nya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta masih mampu mencapai MA-nya dari Universitas Cartoum Sudan Afrika. 6. Yusuf setelah menyelesaikan Drs-nya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta masih mampu mencapai mencapai LML-nya di Universitas Madinah – Arab Saudi.

Orang banyak menyoroti keberanian Nyai mengirim Endah ke Mesir. Saat itu hanya Endah satu-satunya wanita di Jawa Timur yang, kuliah di Mesir. “Awas Iho…, Apa Bu Nyai tidak khawatir anaknya jadi penari perut di Mesir”, diantara kritik banyak orang. Namur Nyai Zainab yakin anaknya tak akan membuat aib keluarga. Kebiasaannya (Istiqomahnya) tirakat tidak tidur malam hari, puasa, khatam Alqur’an dalam seminggu, baca dalail merupakan benteng, dan sekaligus motivasi kuat yang mendorong kesuksesan anak-anaknya.

Pada suatu. ketika, Fatonah (santrinya) bertanya sambil mijiti Nyai Zainab: “Nyai, dek remmah reseppah bisa ngagungi putrah sih deddih kabbih/Nyai, bagaimana resepnya panjenengan bisa memiliki putra-putri yang jadi tokoh semua .

ye prihatin odekna nahka ngandung. Ngemis do ‘a seongguh-ongguh ka Pangeran. Bisa terakat, bisa puasa, bisa hatam qur ‘an seminggu/la harus hidup prihatin ketika mengandung. Mengemis dalam do’a dengan sungguh sungguh pada Alloh Swt. Bisa berwujud tirakat, puasa, mengkhatam Alqur’an tiap minggu”, kata Nyai kalem sambil tetap tangannya bergerak-gerak menandakan hitungan dzlkir hatinva. Nyai Zainab memang ahli berdzikir dan membaca sholawat.

Tepat pada Selasa Subuh tanggal 22 Dzulhijjah/September 1981 M), Nyai Zainab wafat dengan senyuman surganya. Nyai Zainab Shiddiq dimakamkan di Turbah Condro, ditempatkan bersama makam Abah dan saudara-saudaranya. Beliau wafat setelah berhasil menvelesaikan tugas beratnya yaitu mendidik anak-anaknya sampai jenjang yang tinggi dan menghantarkan pada jenjang pengabdian ketokohannya di masyarakat. Dengan kesederhanaan, kesabaran dan keteguhan serta keistiqomahannya, Nyai Zainab Shiddiq telah melahirkan tokoh-tokoh besar pada zaman itu

Beberapa tahun kernudian, orang Banyak dikejutkan dari makamnya. Ketika itu orang sedang menggali makam Kyai Abdullah Shiddiq yang tempatnya bersebelahan dengan makam Nyai Zainab. Tanpa terduga, cangkul si penggali kubur mengenai kafan mayat Nyai Zainab, yang ternyata masih utuh dan berbau harum semerbak. Cepat-cepatlah ditutup tanah lembaran kafan yang muncul itu. Tetapi harumnya masih semerbak dan dapat tercium oleh pelayat yang lain.


Allah Swt. menunjukkan bahwa hambanya yang sholihah seperti Nyai Zainab, mengharomkan pada tanah dan binatang binatang melata, untuk mendekati mayat sucinya. Derajat itulah pertanda nyata bagi seorang Waliyullah. Untuk mengenang jasa beliau, sejak tahun 1981 namanya di abadikan pada penggantian nama PP Alawi’yah, yang sejak wafatnya hingga sekarang pesantren tersebut bemama “PP. Zainab Shiddiq”(Sumber ; Buku Biografi Mbah Shiddiq)

Tuesday, November 4

Beberapa Pendapat Ulama terhadap Aurat perempuan.


kesatu:

وعورة الحرة في الصلاة وعند الأجنبي ولو خارجها جميع بدنها إلا الوجه والكفين ظهرا وبطنا إلى الكوعين لقوله تعالى ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها قال ابن عباس وغيره ما ظهر منها وجهها وكفاها وإنما لم يكونا عورة لأن الحاجة تدعو إلى إبرازهما وإنما حرم النظر إليهما لأنهما مظنة الفتنة

Aurat perempuan dalam SHALAT dan terhadap AJNABI walaupun DILUAR SHALAT ialah seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan hingga jari2 dhahir ataupun batin, karena kata Allah “Janganlah mereka menampakkan hiasan mereka kecuali apa yang nampak daripadanya”. Ibnu Abbas dan lainnya berkata bahwa “Ma dhahara minha” ialah wajah dan dua telapak tangan hingga jari2.
(Asna al-Mathalib)

_________________

Kedua:

)و) عورة ( الحرة ) الصغيرة والكبيرة ( في صلاتها وعند الأجانب ) ولو خارجها ( جميع بدنها إلا الوجه والكفين ) ظهرا وبطنا إلى الكوعين لقوله تعالى { ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها } أي وما ظهر منها وجهها وكفاها وإنما لم يكونا عورة حتى يجب سترهما لأن الحاجة تدعوه إلى إبرازهما وحرمة نظرهما ونظر ما عدا بين السرة والركبة من الأمة ليس لأن ذلك عورة بل لأن النظر إليه مظنة للفتنة

Aurat perempuan merdeka baik kecil maupun dewasa dalam SHALAT dan terhadap AJNABI walaupun DILUAR SHALAT ialah seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan hingga jari2 dhahir ataupun batin,
(al-Manhajul Qawiem)
__________________

Ketiga:
وعورة الحرة في الصلاة ما عدا الوجه والكفين ، وبحضرة الأجانب جميع بدنها

Aurat perempuan dalam shalat ialah yang selain wajah dan dua telapak tangan sampai jari2nya. Aurat perempuan terhadap laki2 ajnabi ialah seluruh tubuh
(Tuhfatul Habib ala Syarah Khatib)

__________________

Keempat:

واعلم أن للحرة أربع عورات: فعند الاجانب جميع البدن. وعند المحارم والخلوة ما بين السرة والركبة، وعند النساء الكافرات ما لا يبدو عند المهنة، وفي الصلاح جميع بدنها ما عدا وجهها وكفيها

Ketahuilah bahwa perempuan ada 4 aurat: (1). Terhadap Laki2 ajnabi auratnya seluruh tubuh, (2) terhadap mahram dan ketika sedang sendirian auratnya antara pusar dan lutut. (3) terhadap perempuan kafir auratnya apa yang tidak nampak ketika beraktifitas, (4) dalam shalat auratnya seluruh tubuh selain wajah dan dua telapak tangan sampai jari2.
(I’anatuth Thalibin)

__________________

Kelima:

وعورة الحرة في الصلاة ما عدا الوجه والكفين ، وبحضرة الأجانب جميع بدنها

Aurat perempuan dalam shalat ialah yang selain wajah dan dua telapak tangan sampai jari2nya. Aurat perempuan terhadap laki2 ajnabi ialah seluruh tubuh
(Hasyiah Bujairimi ala Khatib)

___________________

Keenam:

وأما عورتها عند النساء المسلمات مطلقا وعند الرجال المحارم فما بين السرة والركبة ، وأما عند الرجال الأجانب فجميع البدن ، وأما عند النساء الكافرات فقيل جميع بدنها وقيل ما عدا ما يبدو عند المهنة كما سيأتي في النكاح وأما في الخلوة فكالمحارم وقيل كالرجل

Aurat perempuan terhadap perempuan muslimat dan terhadap mahram ialah antara pusar dan lutut. Terhadap Laki2 ajnabi auratnya seluruh tubuh, terhadap perempuan kafir auratnya seluruh tubuh pada satu pendapat, dan ada pendpat auratnya apa yang tidak nampak ketika beraktifitas.
(Hasyiah Jamal)

_________________

Ketujuh:

والحرة لها أربع عورات إحداها جميع بدنها إلا وجهها وكفيها ظهرا وبطنا وهو عورتها في الصلاة فيجب عليها ستر ذلك في الصلاة حتى الذراعين والشعر وباطن القدمين ثانيتها ما بين سرتها وركبتها وهي عورتها في الخلوة وعند الرجال المحارم وعند النساء المؤمنات ثالثتها جميع البدن إلا ما يظهر عند المهنة وهي عورتها عند النساء الكافرات رابعتها جميع بدنها حتى قلامة ظفرها وهي عورتها عند الرجال الأجانب فيحرم على الرجل الأجنبي النظر إلى شيء من ذلك ويجب على المرأة ستر ذلك عنه والمراهق في ذلك كالرجل فيلزم وليه منعه من النظر إلى الأجنبية ويلزمها الاحتجاب منه

Perempuan merdeka ada 4 aurat:
(1) dalam shalat auratnya seluruh tubuh selain wajah dan dua telapak tangan sampai jari2 dhahir dan batin. Maka wajib terhadap perempuan menutup tangan dalam shalat hingga dua siku, juga wajib menutup rambut dan telapak kaki.
(2) terhadap mahram dan ketika sedang sendirian juga saat bersama perempuan mukminat auratnya antara pusar dan lutut.
(3) terhadap perempuan kafir auratnya apa yang tidak nampak ketika beraktifitas,
(4) Terhadap Laki2 ajnabi auratnya seluruh tubuh hingga kuku. Maka haram bagi laki2 melihat kepada sesuatu dari tubuh perempuan dan WAJIB BAGI PEREMPUAN menutup seluruh tubuhnya terhadap laki2.

(Nihayatuz Zain)

MENGENANG PERISTIWA KARBALA 10 MUHARAM.

TRANSKRIF CERAMAH.
KH Said Aqil Siradj - Haul Sayyidina Husein R.

Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ‘ala maulana wa syafiina wa habibina rasulillah, Muhammad saw. Wa man tabai’a sunnatahu wa jama’ana ila yaumina hadza, ila yaumil ba’tsi wa kafa.

Ashabal Fadhilah Sadatana Ahlal Baitil Mushtafa, Habibabana wa hamzakumullah, Wa ‘ala ru’usihim Assayiid Hasan Alai al-Idrus.
Hadratsus Syaikh KH. Mahfudzh, KH. Hassan Kriyani, Rekan-Rekan Pengurus NU, Wawan Arwani, rekan-rekan pengurus PMII, pimpinan Forum Umat Islam se wilayah III, Bapak Syaihu, Sadati wa Sayidati ahlil kubur.

Alhamdulillah pada malam hari ini, saya juga merasa berbahagia bisa menghadiri acara yang sangat mulia dzikra syahadati sebeti rasulillah saw, sayidina wa imamina Abi Abdillah al-Hussein as.

Mudah-mudahan kita semua medapatkan berkahnya, syafaatnya , sehingga kita menjadi umat yang selamat bahagia dunia akhirat amin ya rabbal amin.
Soal ada halangan, tempatnya pindah, saya harap kepada seluruh panitia, jangan marah. Maafkan mereka yang memindahkan tempat acara ini. Maafkan yah, jangan marah, jangan dendam.

Allahummahdihim fainnahum la ya’lamun. Alhamdulillahi al-ladzi ja’ala a’da’na umaqa.

Hadirin yang saya hormati, setelah al-khalifah al-rasyid yang keempat, al-Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib dibantai, dibunuh pagi Jum’at 17 Ramadhan th. 40 H. oleh seorang yang bernama Abdurrahman ibn Muljam. Pembunuh Sayyidina Ali ini orangnya qiyamul lail wa shiyamun nahar, hafidhul Qur’an. Orangnya tiap malam tahajud, sampai jidatnya hitam, tiap siang puasa, dan hafal al-Qur’an.

Mengapa dia membunuh Sayyidina Ali? Karena menurutnya Sayyidina Ali itu kafir? Apa Kafir? Keluar dari Islam.
Kenapa Ali kafir? Karena menurutnya, Ali menerima hasil rapat manusia. Hukum atau keputusan rapat manusia. Padahal, la hukma ilallah (tidak ada hukum selain hukum Allah), wa man lam yahkum bima anzalallah faulaika humul kafirun (maka barang siapa menggunakan selain hukum Allah, maka kafir).
Sayyidina Ali tidak menggunakan hukum Allah, tetapi menggunakan hukum hasil kesepakatan rapat di Dummatul Jandal. Kalau kafir, maka harus dibunuh.
Eh anak kemarin sore, mentang-mentang jidatnya hitam dan jenggotnya panjang, mengkafirkan man aslama min al-shibyan, shihru rasulillah, fatihu khaibar, min al-sabiqin al- mubasyirun bi al-jannah, bab al-ilm.

Anak kemarin sore berani mengkafirkan remaja yang pertama kali masuk Islam, yang pertama kali shalat jamaah di masjidil haram.
Waktu itu ditertawakan oleh Abu Jahal dan teman-temannya.
Waktu itu yang pertama kali shalat jama’ah di masjidil haram tiga
orang. Saat itu imamnya Rasulillah, makmumnya sayyidah khadijah al-kubra dan Sayyidina Ali. Tiga orang itulah yang pertama kali shalat terang-terangan di dunia ini. Dikafirkan oleh anak kemarin sore, maklum pernah ikut pesantren kilat dua minggu.
Ali adalah shihru rasulillah, menantu rasul. Ia juga dijuluki bab al- Ilmu, sahabat yang intelek dan cerdas. Ali juga adalah min al-sabiqin al-awwalin al-mubasyirun bi al-jannah, salah satu orang yang sudah dikasih tahu pasti masuk surga.

Di samping sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Thaha, Zubair, Abdullah bin Auf, Abu Ubaidah, Amr bin Jarrah, sampai orang sepuluh yang dikasih tahu pasti masuk surga.
Sayyidina Ali juga dipercaya sebagai Fatihu Khaibar, yang memimpin perang mengalahkan benteng terakhirnya Yahudi di Khaibar.
Dan Imam Ali juga selalu hadir dan ikut bersama rasul dalam peperangan perjuangan jihad fi sabililillah. Yang begini dikafirkan oleh anak kemarin sore, bernama Abdurrahman ibn Muljam.

Ini, penyakit seperti ini sudah mulai masuk ke Cirebon. ”Alah baca
al-Qur’an juga plentang-plentong. Ngerti nggak itu asbab al-nuzul? Ngerti nggak itu tafsir? Negerti nggak itu mushtalah hadits? Shahih, hasan dan dha’if? Ngerti nggak itu qira’ah sab’ah?
Apalagi qira’ah sab’ah, qira’ah yang biasa aja nggak bener kok!
Ngerti nggak ushul fiqh? Ngerti nggak itu ilmu kalam? Tarikhu
Tamaddun? Tarikhu Hadharah wa Tsaqafah? Ngerti nggak itu?
Tahu-tahu mudah sekali mengkafirkan dan menyalah-nyalahkan orang. Alah, Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun,
Alhamdulillah al-ladzi ja’ala a’da’na umaqa, juhala. Alah. ”

Setelah Sayyidina Ali terbunuh di Kuffah, maka gubernur Syam,
Muawiyah ibn Abi Sufyan ibn Harb ibn Umayyah ibn Abdi Syams ibn Hasyim merasa plong, tidak ada saingan. Tidak ada yang diperhitungkan lagi. Maka ia mendeklarasikan diri sebagai
penguasa tunggal. Lalu setelah itu buru-buru ia mengangkat anaknya yang bernama Yazid, diangkat menjadi putra mahkota,
yang akan mewariskan tahta, artinya kalau ia mati, langsung digantikan anaknya, yang bernama Yazid. Yazid sendiri adalah
anak seorang ibu yang bernama Maesun, orang Badui pedalaman,
yang tidak suka tinggal di istana, dan suka hidup di padang pasir
dan suka tidur di kemah. Yazid sendiri tidak pernah belajar ngaji
dan belajar agama, ia hanya belajar berburu, naik kuda, memanah dan memainkan senjata.

Setelah Muawiyah meninggal, Yazid langsung menjadi penggantinya, penguasa umat Islam. Waktu itu diutus beberapa utusan berangkat dari Damaskus ke seluruh provinsi untuk mengambil sumpah setia dari tokoh-tokoh yang ada kepada Yazid. Utusan-utasan itu berangkat ke Mesir, ke Basrah, ke Kuffah dan juga diantaranya ke Madinah. Sampai di Madinah, para sahabat besar, seperti Abdullah ibn Umar dan lain-lainnya mau berbai’at karena dipaksa dan dibawah intimidasi. Meski yang lain bai’at, Imamuna Sayidina Husein meminta waktu untuk berfikir. ”Nanti saya fikir dulu malam ini”,katanya.

Lalu Sayyidina Husein pulang ke rumah. Di dalam kegelapan malam, beliau beserta seluruh keluarganya meninggalkan Madinah al-Munawarah berjalan kaki menuju Makkah al-Mukarramah. Masuk kota Makkah, ketika orang datang haji, orang-orang datang ke Minna, beliau beserta keluarganya keluar dari Makkah. Beliau saat itu sudah sering haji.

Ketika Sayyidina Husein keluar dari Makkah, di tengah jalan ia dinasihati oleh seorang penasihat, bahwa kalau mau melakukan perjuangan jangan pergi ke Kuffah. Karena orang Irak mudah berhianat. Sebaiknya kamu ke Yaman, karena orang Yaman jujur dan mudah tidak hianat.

Ditengah jalan lagi, Sayyidina Husein berjumpa seorang penyair bernama Farazdaq. Farazdaq bertanya mau kemana wahai yang mulia? Beliau menjawab, saya mau ke Kuffah, saya menerima lebih dari seratus surat, agar saya hijrah dan membangun peradaban di sana.

Farazdaq berkata; ”Jangan percaya orang Kuffah, mulutnya bersama kita tetapi hatinya beserta Muawiyah”.
Sayyidina Husein menjawab, saya akan tetap menuju Kuffah.
Farrazdaq berkata lagi: ”Kalau begitu, perempuan dan anak-anak jangan kamu bawa”. Tetapi mereka tetap diajak bersama.

Rupanya Allah sudah menentukan mati syahidnya Husein, sehingga Sayidina Husein tidak menerima masukan orang lain. Akhirnya beliau tetap berjalan bersama keluarga dan pengikutnya.

Ada bukunya berjudul Ashabu Husein, sedikit sekali, yang bersenjata hanya berjumlah 54 orang. Setelah Sayyidina Husein meninggalkan Farrazdaq, lalu ada orang yang bertanya.

”Wahai Farrazdaq, tadi kamu berbicara sama siapa, kok kelihatanya asyik banget”, tanya orang tersebut.
Farrazdaqpun menjawab dengan lantunan bait-bait syair, yang artinya:

"Tadi yang saya ajak ngomong itu, kamu ndak tahu? Kamu ndak
tahu?
Dia sudah dikenal seluruh umat manusia
Baik penduduk tanah halal dan tanah haram
Ka’bah pun sudah kenal dia Siapa dia itu?
Dia adalah anak orang yang paling mulia (Sayyidina Ali)
Dia adalah orang yang bertakwa, bersih dan suci
Kalau kamu ndak tahu? Dia putra Fatimah
Ketika orang Quraish melihatnya
Orang Quraish akan mengatakan, bahwa orang inilah ujung orang
yang mendapat kemuliaan
Dengan kakeknyalah para Rasul dan Nabi di akhiri Karena kakeknya Nabi yang terakhir".

Sayidina Husein beserta rombongan terus melanjutkan perjalanan. Dan sesampainya di padang Karbala dihadanglah oleh 400 pasukan penunggang kuda yang diperintah oleh Abdullah ibn Ziyad, yang dipimpin Umar ibn Sa’ad ibn Abd al-Waqas.

Terjadi peperangan yang tidak seimbang, termasuk hampir tentara Husein yang hanya berjumlah 54 orang. Semua yang ikut Sayidina Husein mati syahid, kecuali Imam Ali Zainal Abidin, tidak meninggal karena tidak keluar kemah karena sedang sakit demam. Dan juga istri Sayidina Husein, Fatimah, adiknya juga Sayidah Zainab dan kakaknya lagi. Kira-kira ada 4 orang yang selamat.

Sebenarnya mudah sekali untuk membunuh dan membantai Sayidina Husein, gampang. Tetapi tiap orang yang mendekat dan hendak membunuh beliau, maka akan berusaha menjauh, dan mengatakan kalau bisa jangan saya yang membunuh, tetapi yang lain saja.

Kalau datang waktu adzan, waktu shalat, semuanya berhenti, lalu tidak ada yang berani menjadi Imam Shalat. Semua sepakat Sayidina Husein yang mengimami shalat. Jadi yang memusuhi juga makmum ke Sayidina Husein. Habis shalat lalu bertempur lagi.

Sampai akhirnya seorang yang menjadi jausyan (tentara, algojo), dengan berani menarik Sayidina Husein dari kudanya. Begitu jatuh, dinaikkin, diinjak, ditebas lehernya, dipisahkan kepala dan badannya. Badanya diinjak-injak oleh kuda sampai rata dan menyatu dengan tanah Karbala. Tinggallah kepalanya. Kepalanya ditancapkan di tombak, dibawa ke Kuffah, diarak keliling kota Kuffah, bersama 4 keluarganya tadi. Dari Kuffah lalu dibawa ke Syiria, Damaskus.
Di kereta itu isinya, istrinya, adiknya, anaknya, dan saudaranya. Luar biasa sekali (kejamnya red.).

Sampai di Damaskus, kepala itu dipasang di depan istana Yazid. Dan setiap orang yang lewat diperintahkan oleh tentara untuk memaki-maki dan menjelek-jelekannya. Setelah kepala itu cukup lama terpajang di depan istana Yazid, Sayidah Zaynab memberanikan diri agar dizinkan membawa kepala itu pulang ke Madinah.
Yazid mengizinkan. Tetapi di tengah jalan dicegat oleh tentara Yazid agar kepala tersebut tidak sampai ke Madinah. Karena takut dapat membangkitkan dan membakar emosi penduduk Madinah. Makanya kemudian kepala tersebut dibelokkan ke Mesir. Makanya makam Sayidina Husein ada di Kairo di Mesir. Ali Zainal Abidin, putra beliau, dipulangkan ke Madinah.

Saudara-saudara dan para hadirin sekalian, kenapa saya cerita demikian? Ini karena ideologi apa pun, agama apa pun, keyakinan apa pun tidak bisa besar tanpa ada pengorbanan, tanpa ada syahadah (kesyahidan). Ini terlepas dari agama apa saja. Kristen bisa maju karena banyak pengirbanan. Budha dan Hindu masih tetap ada karena banyak pengorbanan.

Demikian juga Islam, berkembang sampai sekarang karena pengorbanan syuhada, banyak nyawa yang mengalir, demi mempertahankan agama Islam.
Pertama kali yang syahid dalam agama Islam adalah perempuan,
namanya Sumayah. Istrinya Yasir, ibunya Amar bin Yasir, yang
dibunuh oleh Abu Jahal. Lalu seminggu kemudian, suaminya dibunuh, Yasir. Seminggu kemudian, Amar akan dibunuh. Tetapi selamat, karena dalam keadaan terpaksa ia pura-pura murtad.

Begitu pura-pura murtad, langsung menghadap Rasulullah saw, dan menyatakan bahwa dalam keadaan terpaksa, diancam dibunuh, ia pura-pura murtad, pura-pura mecaci maki Rasul.
Rasul menanyakan, bagaimana isi hati Amar? Amar menjawab, hatinya tetap beriman. Rasul pun memaafkannya, karena memang dalam keadaan terpaksa.
Jadi yang pertama syahid dalam Islam itu perempuan. Kalau laki-laki itu biasanya omongnya saja yang besar. Kalau perempuan itu buktinya ada.

Selanjutnya banyak lagi darah pengorbanan para syuhada tercurah demi mempertahankan Islam. Syuhada Badar, syuhada Uhud. Sayidina Hamzah ibn Abbas, Sayidina Hmzah ibn Abdi Muthalib, Mus’ab ibn Umay, Sayidina Khalid ibn Walid, dan yang lainnya.

Darah syuhada mengalir demi melanggengkan ajaran Islam. Syahadah Sayidina Husein tudak akan percuma, tidak sia-sia. Islam bisa sampai di Indonesia itu antara lain, disebabkan oleh syahadah Sayidina Husein.
Bagitu Sayidina Husein, sebagai ahlu bait yang dibenci penguasa. Sayidina Husein memiliki putra, Ali Zainal Abidin. Zainal Abidin punya putra Muhammad al-Baqir.

Muhammad al-Baqir punya putra Ja’far al-Shadiq. Ja’far al-Shadiq punya putra Musa al-Kadzim, Ismail. Musa al-Kadzim punya putra Ali al-Uraifi, yang kuburannya sekarang kuburannya di Madinah digusur dan dijadikan jalan tol. Imam al-’Uraifi punya putra namanya, ’Isha. ’Isha punya putra Ahmad. Ahmad hijrah dari Madinah ke Yaman. Dari Yamanlah Ahmad al-Muhajir punya keturunan sampai ke Kamboja, sampai ke Cirebon, Gresik.

Para wali songo di pulau Jawa ini adalah kuturunan dari al-’Uraifi. Seandainya ahlu bait itu hidupnya enak, tidak dikejar-kejar mungkin Islam akan lambat datang ke Indonesia.

Syahadah Sayidina Husein tidak sia-sia. Dengan syahadah Sayidina Husein mempercepat Islam tersebar ke Timur. Pada malam hari ini kita mengenang kembali, menghormati pengorbanan cucu Rasul saw. Kita ini bukan saudaranya, bukan cucunya, bukan besannya, tetapi menghormati saja kok males banget. Malah ada yang tidak percaya, ”haul itu apa?”, ”kirim doa
itu apa?” ”ndak akan nyampe”, katanya.

Coba kalau kita balik doanya, doakan bahwa: ”mudah-mudahan Bapak sampean masuk
neraka”. Nah kalau didoakan seperti ini maka orang itu marah juga. Berarti percaya bahwa doa itu sampai dong.
Islam yang datang ke Jawa ini adalah Islam ahli sunnah wal jama’ah, Islam yang selalu menjunjung tinggi tawasuth, berfikir moderat. Tidak ekstrem. Islam yang dibawah para habaib, sayyid, dan saddah, yang berdakwah dengan cara-cara damai. Dulu tidak ada para habaib yang galak. Mereka berdakwah dengan cara dan sarana-sarana kebudayaan yang ramah. Para wali dan Sunan itu kan para habaib, tidak ada yang galak. Tidak tahu kalau sekarang,
dan akhir-akhir ini, apa ada habib yang galak.

Yang jelas dulu tidak ada para habaib kalau berdakwah pakai cara-cara mengobrak-abrik rumah orang. Saya tidak tahu, kalau sekarang, mungkin ada habib yang berdakwah secara keras? Dakwah para dakwah habib itu dengan cara-cara ramah, dan memasukkan bahasa dan budaya ke sini. Banyak kata dalam bahasa Arab masuk ke bahasa Indonesia.

Dulu para ulama memoles sedemikian rupa, melalui cara-cara budaya, bahasa,
yang damai. Tidak ada paksaan dalam agama. Dan itu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Ada seorang namanya al-Hasyim dari Bani Salim al-Khazraj. Ia
musyrik, punya dua anak beragama Kristen. Sewaktu Nabi masuk Madinah, ia masuk Islam. Ia pun memaksa dua anaknya agar masuk Islam. Lalu turunlah ayat al-Qur’an yang berbunyi:
”La ikraha din” (tidak ada paksaan dalam agama).
Jadi asbab al-nuzul turunya ayat La ikraha fi din adalah karena kondisi berikut.

Oleh karena itu, mari kita yang ahli sunnah, dan para ahlu bait, dan para pecinta keluarga Nabi, kita tunjukkan bahwa kita
berakhlak. Kita jauhi segala tindak kekerasan, kita jauhi cara-caradakwah syiddah dan ikrah.

Rasulullah ketika Fathu Makkah, begitu masuk Makkah, lalu menyebarkan jargon bahwa hari ini adalah bukan hari pembalasan
tetapi hari kembali membangun kasih sayang (yaumul marhamah).
Dengan demikian sekonyong-konyong para musuh Quraisy Makkah datang ke Muhammad saw. Maka kemudian turunlah ayat yang menyeru agar Nabi pun memaafkan mereka dan meminta ampun mereka kepada Allah
Islam bukan hanya agama aqidah dan syariah.
Tetapi Islam juga adalah agama Tamadun dan Tsaqafah, Islam adalah agama
peradaban dan pengetahuan.

Globalisasi yang di bawah islam dari timur ke Barat, adalah kemajuan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan. Bukan globalisasi fitnah dan fawahisy, yang seperti kita laksanakan sekarang ini Oleh karena itu, agama tidak akan maju, bila tidak dibarengi dengan peradaban. Agama tidak akan maju bila tidak dibarengi dan diwarnai dengan budaya. Karena agama itu suci dari langit, akan langgeng bila disosialisasikan, bila dibumikan secara manusiawi, dan bukan melulu didoktrinkan.

Aqidah, Iman dan Shalat serta Puasa memang dari ajaran langit. Tetapi tidak akan langgeng bila tidak dibarengi dengan budaya.

Kita harus mempertahankan nilai ketuhanan dengan aktifitas
manusia di bumi. Menjadikan peradaban sebuah doktrin. Dulu kan ada tradisi sesajen, para ulama dan kyai tidak langsung menyatakannya sebagai syirik. Tetapi menyatakanya bahwa kalau kamu punya uang yah sedekahnya atau sesajennya jangan cuma di empat pojok.

Tetapi ayo menyembelih kambing saja. Setelah kambing disembelih, lalu orang deramwan itu tanya mau taruh dipojok mana daging kambing itu? Maka kyai akan menjawab jangan ditaruh tetapi mari undang para tetangga untuk makan- makan dan doa serta tahlil bersama. Nah dakwah semacam ini
kan ramah. Tidak langsung mengatakan ini itu syirik dan bid’ah, nanti umat lari.

Jangan sekali-kali menuding ini itu syirik atau bid’ah. Mengerti tidak apa itu bid’ah itu?.

Apa yang tidak dilakukan dan diajarkan Nabi itu bid’ah Kalau tidak ngerti, diantara contoh bid’ah adalah tulisan Arab yang ada titiknya itu bid’ah. Nah titik itu ditemukan oleh Abu Aswad al-Dualy pada th. 65 H. Sudah ada titiknya juga masih banyak yang belum bisa baca al-Qur’an, maka, Imam Khalil
ibn Ahmad al-Farahidi, gurunya Imam Syibawaih, bikin syakal (harakah), fathah, kasrah dan dhammah.

Sudah ada titik dan syakal, nyatanya masih banyak orang yang tidak bisa baca al-Qur’an, maka Imam Abu Ubay Qasim ibn Salam w. 242 H menyusun ilmu Tajwid, agar benar dalam membaca al- Qur’an.

Mau bener baca al-Qur’an pakai ilmu Tajwid. Ilmu Tajwid itu bid’ah, karena memang semua ilmu pengetahuan itu bid’ah. Karena memang Rasul tidak mengajarkannya. Contoh lagi, ada seorang gubernur dari Asia Tengah, Amir al-
Mahdi kirim surat pada Muhammad ibn Idris ibn Syafi’i (Imam Syafi’i). Surat itu isinya tanya, saya kalau baca al-Qur’an dan Hadits, itu isinya nampak bertentangan? Lalu untuk menjawab ini Imam Syafi’i menyusun kitab Ar-Risalah, yang berisi kaidah- kaidah Ushul Fiqh. Serta ada Ushul Fiqh baru kemudian ada Ilmu Fiqh.
Lalu kemudian ada penjelasan dalam Ilmu Fiqh mengenai rukun shalat. Kalau mau shalatnya benar yah mengikuti Ilmu Fiqh, yang susunannya ulama.Kalau Cuma lihat al-Qur’an dan Hadits tidak akan ketemu.

Contoh satu lagi, biar jelas saja. Contohnya ada orang pergi haji, masuk hotel ambil kamar yang bagus. Begitu tanggal 8 mau ke Arafah, ia mau cari tahu berapa jarak hotel ke Arafah, ke mana arahnya, naiknya apa? Dia lalu buka al-Qur’an dan Hadits, yah tidak akan ketemu. Nah sebaiknya bagaimana, yah ikut saja rombongan yang ke Arafah. Nah ikut saja itu kan bahasa Indonesia, bahasa Arabnya yah taqlid saja.

Jadi kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan baik tanpa ilmu
Fiqh, yang bukan bikinan Rasul, bukan sahabat Abu Bakar, Utsman dan Ali. Sahabat Husein juga tidak bikin Ilmu Fiqh.

Nah bila ada orang shalatnya bagus sekali, lalu kita tanya, Bapak kan shalatnya bagus sekali, dari mana belajarnya Pak? Lalu bila ia jawab, ia belajar dari al-Qur’an dan Hadits, itu bohong.

Kalau mau jujur, ia sebenarnya belajar dari ayah atau gurunya, yang mentok-mentoknya merujuk pada kitab Safinah. Atau kalau Safinah terlalu besar, yah mentok merujuk pada Fashalatan, atau minimal buku Petunjuk Shalat Lengkap.

Yang namanya ibadah itu harus dengan ilmu. Sedangkan ilmu itu bukan karangan Rasul dan para sahabatnya. Ilmu Mushtalah Hadits itu disusun oleh Imam Syihabuddin Arrahumuruzi atas perintah Umar ibn Abd al-Aziz, setelah mengingat banyakanyaBhadits dha’if dan palsu.

Jadi Islam itu agama peradaban, akhlak dan pengetahuan. Bukan hanya doktrin yang sering ditampilkan sangar itu.
Karena itu mari mulai malam hari ini, tingkatkan ahlak kita, tingkatkan ilmu pengetahuan kita. Pahamilah Islan dengan baik dan benar. Kalau mau memahami al-Qur’an tidak bisa langsung, polosan. Harus mengerti asbab al-nuzul, ilmu tafsir, ilmu qira’ah, ilmu bahasa Arab, nahwu sharafnya. Kalau ingin memahami ilmu hadits maka harus memahami ilmu mushtalah al-hadits.

Pada kesempatan ini, mari kita rayakan jasa para habaib dalam menyebarkan agama Islam. Seandainya tidak ada habaib dan ahlu bait, mungkin kita akan jauh bisa meneladani akhlak Rasul saw.
Imam Syafii pernah menyatakan, bahwa kalau ada orang yang mencintai Ahlu Bait, lalu dianggap Syiah, maka OK tidak apa-apa, silahkan saya dianggap Syiah.

Sesungguhnya, tragedi pembantaian di Karbala yang demikian bukan hanya tragedinya Syiah, tetapi tragedi kemanusiaan. Seharusnya ini bukan hanya milik Syiah tetapi yang lain juga.


Tulisan ini adalah rekaman ceramah KH. Said Aqiel Siradj [Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)] pada acara peringatan 10 Muharam di Keraton Kasepuhan Cirebon, 07/01/2009, yang dibayang-bayangi tindak intoleransi dan diskriminasi.

HIKMAH TIDAK MENURUTI SYAHWAT

Syaikh Ibrahim bin Adham, termasuk sufi yang nyeleneh. Beliau itu putra mahkota. Akan tetapi beliau salah suatu hari melepaskan atribut k...