A.
KEHIDUPAN NYAI ZAENAB
Nyai
Hj. Zainab Shiddiq lahir di Jember pada hari Ahad 22 Romadlan 1333 (1915).
Zainab adalah putri Mbah Shiddiq yang keempat dari ibu Nyai Maryam. Beliau
sudah menjadi piatu sejak kecil karena di tinggal wafat Nyai Maryam saat pulang
menunaikan haji.
Zainab
di didik mengenal agama, sholat, dan syariat agama yang langsung oleh abah dan
uminnya. Abah sendiri yang mengajar sistem kitab kuning pada Zainab di rumah
ibu Nyai Maryam. Rumah (ndalem) Mbah Shiddiq ada dua yaitu Ndalem Utara dimana
beliau tinggal bersama dengan Nyai Maryam. Di rumah inilah putra-putri Mbah
Shiddiq dan Nyai Maryam tinggal. Mereka antara lain; Mahfudz Halim, Zainab,
Abdulloh dan Achmad
Sedangkan
di Ndalem Selatan, tempat tinggal beliau dengan Nyai Mardliyah dan putrinya
yang semata mayang yaitu Zulaikho dan tiga orang anak tirinya yaitu putra-putri
Nyai Mardliyah dengan H. Masyhuri (Sholeh, Khotijah dan Zulaikhoh).
Pada
tahun 1928, Nyai Maryam mengajar mengaji santri putri. Para santri putri
tersebut di tempatkan di Musholla darurat yang bersebelahan dengan Ndalem
Utara, Murid-Muridnya antara. lain Cik Alimah (Ny. Hj. Abdullah). Saat itu
pengajaran lebih di tempakan pada amaliahnya atau ilmu praktek beribadah.
Pernah seorang santriwati bertanya “Mengapa berdo’a kok pakai tangan menengadah
terbuka”. ”Oh…, itu biar tidak bocor do’anya “, jawab Nyai Maryam berkelakar
tetapi filosofis. Zainab dinikahkan oleh Abanya dengan KH. Muhammad bin KH.
Hasyim dari Mojosari pada tanggal 17 Sva’ban 1351 H (16 Otober 1932).
Sebelum
menikah dengan Nyai Zainab, KH. Muhammad bin Hasyim sudah menikah dengan Nyai
Muniroh binti Ismail, Lasem. Mereka dikaruniai 5 orang putra yaitu: Hafsin,
Maulah, Muhammad, Roqib (wafat kecil) dan Zahroh (wafat kecil), dan akhimya
Nyai Muniroh wafat meninggalkan 3 putra yang masih kecil-kecil.
KH.
Muhammad adalah tokoh ulama yang aktif berjuang di NU. Pengabdiannya yang Lulus
ikhlas dan memiliki kealiman agama sehingga menghantarkannya dipercaya sebagai
salah seorang Awan HBNO pada periode Ro’is Akbar Hadratus Syech Hasyim Asy’ari
dan ketua Tanfidziah HBNO-nya adalah KH. Machfudz Shiddik. Kyai Machfudz akrab
sekali dengan Kyai Muhammad la tertarik pada Kyai Muhammad karena kecerdasan,
ulet dan guyonannya. Kyai Muhammad berkepribadian humoris sehingga banyak orang
suka padanya.
Profesi
Kyai Muhammad adalah Pokrol (Pengacara hukum) di samping, tugas rutinnya selaku
guru ngaji. Sebagai Pokrol, Kyai Muhammad banyak membela orang-orang yang
tertindas dalam hukum. Termasuk Kyai Wachab Chasbullah-pun sering dibela
dalam
pengadilan dulu. Ketika KH. Machfudz dan KH. Hasyim Asyari ditahan Jepang,
Pokrol Kyai Muhammad-lah yang getol melakukan pembelaan hukum. Sampai
dibebaskannya 2 tokoh teras NU itu, berkat keuletan diplomasi hukum Kyai
Muhammad Konon, Kyai Muhammad berpenampilan sangat wibawa. Tentu saja
kekyaiannya itulah yang menambah wibawa penampilannya. Setiap orang yang
berhadapan dengannya, pasti keder. Mungkin hidzib dan amalan wiridnya yang
ampuh sehingga berpenampilan wibawa.
“Kang, aku golekno
bojo…, Mosok Sampeyan gak saaken nang aku/Kang, aku carikan istri…, Masa
Sampeyan tidak kasihan padaku “, kata Kyai Muhammad suatu hari pada Kyai
Machfudz. Hanya pada kang Kyai Machfudz, la. berani mengutarakan isi hatinya
yang rahasia itu. “Ono. Sampeyan oleh adikku wahe/Ada, Sampeyan dapat adikku
saja “, jawab Kyai Machfudz disela-sela suasana santai dalam. kongres.
Begitu
selesai acara kongres mereka, berdua ke Jember. Lobbi kecil ini ternyata.
bermanfaat. Jadilah Kyai Muhammad menikah dengan Nyai Zainab. Setelah 3 bulan
pemikahannya barulah Kyai Muhammad memboyong 3 putranya yang sudah piatu:
Hafsin, Maulah dan Muhammad.
Kepribadian
Kyai Muhammad yang humoris menjadikan sangat dekat dengan saudara-saudar ipar
dan tetangganya. Hobinya makan kue pisang goreng bersama-sama saudara. iparnya
& Hanya untuk makan kue kesukaannya itu, ia panggil semua adik ipamya.
(Nyai Zulaikho, Solikhah, Abdullah dan Achmad. Shiddiq). Bahkan sepulang dari
tabligh, Kyai Muhammad sudah teriak-teriak (di pintu gerbang pondok) memanggil
saudaranya itu, sambil menenteng oleh-oleh.
Kyai
Muhammad juga mengajar mengaji membantu mertuanya. Dan saat itu juga, la
menjabat sebagai kepala penghulu di Jember dan Ta’mir Masjid Jamik bersama Kyai
Halim. Mengajar di rumahnya, sambil duduk di atas safrah (Amben/dipan kayu
besar dan panjang). Yang banyak diajarkan adalah Fiqih dan Akhlaq (tasawwuf).
Sering beliau bercerita tentang kisah Nabi-nabi dalam menjelaskan pelajarannya.
Selingan cerita itulah yang banyak membekas pada santrinya.
Sepeninggal
Nyai Maryam, Nyai Zainab meneruskan pengajaran kitab kuning pada para
santriwati. Kepribadiannya yang sabar dan telaten itulah, lambat laun jumlah
santriwatinya bertambah banyak Dan Musholla kecil warisan Nyai Maryam itu sudah
tidak muat menampung santriwati yang berdatangan dari desa-desa dan para
tetangganya. Selanjutnya, dibangunlah gedung musholla dan empat kamar santriwati
di sebelah barat rumahnya(lokasi sekarang). Bahkan pada peresmian musholla
tersebut dihadirijuga oleh KH. Achmad Dahlan (Menteri Agama). Sejak itu
diumumkan nama Pesantren itu “Pesantren Putri Alawiyah”. Nama Alawiyah adalah
untuk mengenangiasa Haji Alwi yang mewaqofkan tanah itu
Gagasan
besar untuk menjadikan Pesantren Alawiyah sebagai kawah Candra di muka muslimah
di Jember menjadi angan-angan suami istri ini. Tapi rupanya Alloh Swt. masih
mengujinya dengan wafatnya Kyai Muhammad pada tahun 1952. Kyai Muhammad wafat
malam Selasa 10 Romadion 13…. H (tahun 1952 M). Beliau wafat dengan
meninggalkan putra-putrinya yang masih kecil (yatim). Anak sulungnya
(Hizbullah) masih berumur 12 tahun dan sekolah di SMI (Sekolah Menengah. Islam)
Jember. Kyai Muhammad dimakamkan berkumpul dengan abah-mertuanya dan
saudara-saudaranya di Turban Condro
Pernikahan
Kyai Muhammad dengan Nyai Zainab dikaruniai sembilan putra-putri yaitu:
1. Hizbullah (H.
Hizbullah Huda), beliau adalah aktivis NU dan PPP. Ialah ketua Ansor Wilayah
Jawa Timur tahun 1965 – 1970 yang berani menggerakkan Banser (Barisan Serba
Guna) Ansor menandingi dan membasmi PKI di Jatim. la juga yang mendirikan PMR
(Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), bersama 13 orang deklamator lainnya
antara lain: Chalid Mawardi (Jakarta), Said Budairi (Jakarta), Shobih Ubaid
(Jakarta), Ma’mun Sukri BA. (Bandung), Hilman (Bandung), H. Ismail Makki
(Yogja), Munsif Nahrowi (Yogja), Nuril Huda Su’ adi HA. (Solo), Laili Mansur
(Solo), Abdul Wahab Jailani (Semarang), M. Kholid Marbuko (Malang) dan Ahmad
Husein (Ujung Pandang). Pengabdiannya yang lama di NU dan PPP mengantarkannya
sebagai: a. Wakil Ketua DPR – GR Jatim (1968 – 1971) b. DPRD-Jatim /MPR-RI
(1971-1977) c. DPR-RI/MPR-RI (1977-1987)
Gus
Hiz ini wafat Hari Jum’at 28 April 1995 1995 dan di makamkan di kompleks Darus
Sholah Tegal Besar Jember.
2. Faruq (KH. Faruq
Muhammad), adalah muballigh terkenal di Jember dan pendiri Pesantren Riyadlus
Sholihin Jember. Kyai Faruq mengabdi sebagai kepala Depag Jember, selanjutnya wafat
tahun 1988 di makamkan di komplek pesantren Riyadush Sholihin Jember.
3. Fatchiyah (Dra.
Nyai Hj. Fatchiyah), adalah dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogjakarta.
Sekarang beliau sebagai ketua Muslimat NU Wilayah Yogja. Beliaulah salah
seorang pendiri IPPNU (Ikatan Pelajar Putri NU).
4. Faridah (wafat
kecil)
5. Nur Ajibah Indah
(Dra. Nyai Hj. Endah Nizar, Lc.), adalah istri Alm. Drs. H. A. Nizar Hasyim
(Dekan Fak Tarbiyah LAIN Jember). Profesi beliau sebagai dosen di IAIN Sunan
Ampel dan UNSURI Surabaya. Nyai Endah aktif sebagai Wakil Ketua Muslimat NU
Jawa Timur sampai sekarang.
6. Faichotul Himmah
(Dra. Nyai. Hj. Elok Fajqotul Himmah), sekarang, mengasuh Pesantren Zainab
Shiddiq. Beliau termasuk muballighah dan sekretaris Muslimat NU Jember. Duetnya
bersama Dra. Nyai Hj. Nihayah Achmad Shiddiq dalam Muslimat telah berhasil
mendirikan Rumah Bersalin Islam Muna Parahita di Jember.
7. Nadzir (Drs. KH.
Nadzir Muhammad MA), adalah mantan ketua dewan Mahasiswa IAIN dan aktivis PMII
Yogya. Kyai Nadzir meneruskan karir politiknya di PPP Jatim dan pernah menjabat
sebagai anggota DPR-RI dari Fraksi PPP. Kemampuannya sebagai, intelektual dan
politisi menjadikannya disegani oleh kawan dan lawan.Sekarang Beliau Pengasuh
Pesantren Darus Sholah meneruskan perjuangan Alm. KH Yusuf Muhammad
8. Nur (wafat kecil)
Muhammad
Yusuf Samsul Hidayah (Drs. KH. Yusuf Muhammad LML.), adalah pendiri sekaligus
pengasuh Pesantren Darus Sholah Jember. Mantan Pengurus Pusat IPNU dan PB PMII
inilah yang menggalang Kyai-kyai dalam wadah LPAI (Lembaga Pembinaan AkhIaq
Islamiyah) di Jember., beliau dipercaya sebagai Wakil Ketua Pusat Robithah
Ma’ahid Islamiyah (RMI). Kyai Yusuf inilah yang menurut anggapan banyak orang
mewarisi kharisma Kyai Achmad Shiddiq sebagai figur pemikir dan Muballigh
kondang. beliau pernah menjabat sebagai anggota DPR-RI dari Fraksi PKB. Beliau
meninggal dalam musibah kecelakaan pesawat Lion Air di Solo, bersama 26 korban
yang lain. Kecelakaan itu terjadi sore hari di Bandara Adi Sumarmo, saat
pesawat tergelincir sesaat sebelum berhasil mendarat di bandara yang berjarak
beberapa kilometer dari lokasi Muktamar NU di Solo. Namun demikian, jenazah Gus
Yus baru dapat dipastikan keberadaannya pukul 22.30 WIB.
Saat
itu, beliau hendak hadir kembali dalam Muktamar NU ke 31. Sebelumnya, yakni
pada waktu pembukaan Muktamar NU yang diselenggarakan di Asrama Haji Donohudan
Boyolali, Jawa Tengah, Gus Yus sudah hadir, malah bersama istri, Siti Rosyidah
dan putranya, Ahmad Syarif Cornel Aulawi. Hanya, beliau harus ke Jakarta hari
itu lantaran melaksanakan tugas sebagai Ketua Komisi VIII DPR RI, untuk rapat
bersama Mensos Bachtiar Chamsah. Sore hari itu, usai rapat dengan Mensos, (30/
11), Gus Yus bermaksud ke Solo menghadiri sejumlah perternuan Muktamar.
Rencananya, esok pagi (1/12), beliau berencana ke Jakarta kembali, untuk menghadiri
rapat dengan Menteri Agama, Maftuh Basuni. Beliau di makamkan di kompleks Darus
Sholah Tegal Besar Jember.
Kesulitan
demi kesubtan dalam hidup menguji Nyai Zainab.Sepeninggal suami, membawa resiko
bagi Nyai Zainab berperan anaknva yang menuntut untuk mencan’n’zqi sendiri.
Disamping itu, la dituntut kesabarannya sebagai ibu rumah-tangga, yang mendidik
anak anaknya. Bahkan Nyai Zainab mendidik para santri dan masyarakat. Alloh
swt. jualah yang mengatur taqdir kehidupannya.
Mulailah
Nyai Zainab berdagang kecil-kecilan. Setelah sholat subuh dan mengajar santri,
Nyai membawa dagangannya keliling daerah-daerah dengan naik becak. Sore hari
menjelang Ashar, barulah beliau datang. Begitulah dilakukan setiap hari.
Nyai
Zainab membuat peraturan pada anak-anaknya Semua anak-anaknya wajib membantu
usaha dagang ibunya Teknisnya diatur bergiliran. Senin adalah piketnya
hizbullah, Selasa tugas si Faruq. Begitulah seterusnya jadwal piket membantu
dagangan ibunya dilakukan bergiliran pada semua putranya. Dan bila ada yang
melanggar (tidak piket) maka ganjaran cetolan (cubit) paha sudah disiapkan.
“Kowe yen gak kerja,
gak iso sekolah! ” (Kamu kalau tidak kerja, tidak akan bisa bersekolah)
begitulah nasihat Nyai pada anak-anaknya.
Pembagian
tugas kerja diterapkan. Hizbullah dan Faruq membuat strimin kudung. Seringkali
keduanya balapan “siapa yang paling cepat dan banyak hasilnya”. Faruq yang lugu
itu membuat dari pagi hingga sore (ngoyo) sedang Hiz hanya kerja santai-santai.
Tapi tanpa setahu Faruq, Hizbullah ngebut kerjanya pada malam hari hingga
subuh.
Ternyata
watak Faruq yang lugu itu menjadikannya sebagai ciri kekyai-annya Dan Hizbullah
yang banyak akal dan ulet itu muncul sebagai politisi kawakan. Sebagai pedagang
keliling, arealnya luas sekali. Pernah si bungsu Yusuf diperintah ibunya untuk
(bersepeda) nagih uang dagangan ke Lengkong – Mumbulsari. Nadzir sering
ditugaskan ke Tanggul, sehingga perlu naik kareta api.
Ternyata,
Nyai Zainab tidak hanya sekedar dagang saja. Sambil berdagang dimanfaatkannya
pula untuk berdakwah/tabligh. Banyak Majlis Ta’lim (kelompok pengajian) dan
ranting-ranting Muslimat NU yang berdiri atas prakarsanya. Sambil berdagang, la
kumpulkan beberapa orang dan diisi pengajian. Saat itu, beliaupun menjabat
sebagai wakil ketua Muslimat NU.
Nyai
Zainab-pun terlibat aktif dalam pendirian “Sekolah Muallimat” tahun 1953.
Bersama Kyai Dzofir, KH. Ridwan, Imam Sukarsan, Pak Cholil Subari, KH. Shodiq
Machmud di dirikan Madrasah yang khusus untuk mencetak calon guru-guru agama
putri. Pada waktu yang bersamaan Mereka pun merintis berdirinya PGA (Pendidikan
Guru Agama) di Gebang. Pada awalnya klas-klas dalam Mu’allimat ditempatkan di
Ndalem Nyai Zainab dan rumah Kyai Makmun (sekarang rumah KH. Umar Ismail).
Sekarang Madrasah Mu’ allimat itu diganti nama “Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah
Masyitoh”.
Selama
mengajar santri, Nyai Zainab menekankan pada Fasholatan, Al-Qur’an dan Fiqih.
Hanya untuk tartil Fatihah, seorang santri lulus dalam waktu 2 minggu. “Fatihah
itu rukunnya sholat. Kalau tidak tartil bacaannya maka tidak sah sholatnya”,
kata Nyai Zainab menerangkan tentang pentingnya bacaan Al Fatihah.
B.
RESEP MENDIDIK ANAK Selain dikenal sabar, Nyai Zainab yang janda itu mempunyai
kemauan keras mendidik anak anaknya setinggi mungkin. Dengan keras la pentingkan
pendidikan anak-anaknya walaupun rizqIi”untuk makan sulit”. Tapi. Allahlah yang
menolong hambanya. Semua putra-putrinya bisa menyelesaikan pendidikan formalnya
secara memadai: 1. Hizbullah sampai ke Fakultas Hukum Unair Surabaya tingkat
Akhir. la tak mnyelesaikan skripsinya karena sibuknya dalam pengabdian politik
NU-nya. 2. Faruq bisa menyelesaikan sarjana mudanya, di Fakultas Kulliyatul
Qodlo’ UNNU (Universitas NU) di Solo. 3. Fatchiyah dan Elok bisa menyelesaikan
kuliahnya di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. 4. Endah bisa selesaikan Lc-nva
di Al-Azhar Mesir 5. Nadhir setelah, menyelesaikan Drs-nya di IAIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta masih mampu mencapai MA-nya dari Universitas Cartoum Sudan
Afrika. 6. Yusuf setelah menyelesaikan Drs-nya di IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta masih mampu mencapai mencapai LML-nya di Universitas Madinah – Arab
Saudi.
Orang
banyak menyoroti keberanian Nyai mengirim Endah ke Mesir. Saat itu hanya Endah
satu-satunya wanita di Jawa Timur yang, kuliah di Mesir. “Awas Iho…, Apa Bu
Nyai tidak khawatir anaknya jadi penari perut di Mesir”, diantara kritik banyak
orang. Namur Nyai Zainab yakin anaknya tak akan membuat aib keluarga.
Kebiasaannya (Istiqomahnya) tirakat tidak tidur malam hari, puasa, khatam
Alqur’an dalam seminggu, baca dalail merupakan benteng, dan sekaligus motivasi
kuat yang mendorong kesuksesan anak-anaknya.
Pada
suatu. ketika, Fatonah (santrinya) bertanya sambil mijiti Nyai Zainab: “Nyai,
dek remmah reseppah bisa ngagungi putrah sih deddih kabbih/Nyai, bagaimana
resepnya panjenengan bisa memiliki putra-putri yang jadi tokoh semua .
ye
prihatin odekna nahka ngandung. Ngemis do ‘a seongguh-ongguh ka Pangeran. Bisa
terakat, bisa puasa, bisa hatam qur ‘an seminggu/la harus hidup prihatin ketika
mengandung. Mengemis dalam do’a dengan sungguh sungguh pada Alloh Swt. Bisa
berwujud tirakat, puasa, mengkhatam Alqur’an tiap minggu”, kata Nyai kalem
sambil tetap tangannya bergerak-gerak menandakan hitungan dzlkir hatinva. Nyai
Zainab memang ahli berdzikir dan membaca sholawat.
Tepat
pada Selasa Subuh tanggal 22 Dzulhijjah/September 1981 M), Nyai Zainab wafat
dengan senyuman surganya. Nyai Zainab Shiddiq dimakamkan di Turbah Condro,
ditempatkan bersama makam Abah dan saudara-saudaranya. Beliau wafat setelah
berhasil menvelesaikan tugas beratnya yaitu mendidik anak-anaknya sampai
jenjang yang tinggi dan menghantarkan pada jenjang pengabdian ketokohannya di
masyarakat. Dengan kesederhanaan, kesabaran dan keteguhan serta
keistiqomahannya, Nyai Zainab Shiddiq telah melahirkan tokoh-tokoh besar pada
zaman itu
Beberapa
tahun kernudian, orang Banyak dikejutkan dari makamnya. Ketika itu orang sedang
menggali makam Kyai Abdullah Shiddiq yang tempatnya bersebelahan dengan makam
Nyai Zainab. Tanpa terduga, cangkul si penggali kubur mengenai kafan mayat Nyai
Zainab, yang ternyata masih utuh dan berbau harum semerbak. Cepat-cepatlah
ditutup tanah lembaran kafan yang muncul itu. Tetapi harumnya masih semerbak
dan dapat tercium oleh pelayat yang lain.
Allah
Swt. menunjukkan bahwa hambanya yang sholihah seperti Nyai Zainab, mengharomkan
pada tanah dan binatang binatang melata, untuk mendekati mayat sucinya. Derajat
itulah pertanda nyata bagi seorang Waliyullah. Untuk mengenang jasa beliau,
sejak tahun 1981 namanya di abadikan pada penggantian nama PP Alawi’yah, yang
sejak wafatnya hingga sekarang pesantren tersebut bemama “PP. Zainab
Shiddiq”(Sumber ; Buku Biografi Mbah Shiddiq)

No comments:
Post a Comment