Syaikh Ibrahim bin Adham, termasuk sufi
yang nyeleneh. Beliau itu putra mahkota. Akan tetapi beliau salah suatu hari
melepaskan atribut kerajaan-nya, hartanya diberikan kepada fakir miskin. Kemudian
kerajaanya di serahkan pada patih kerajaan. Kemudian dia berkumpul dengan
waliyullah Sufyan At-Tsauri.
Beliau berkata: Tidak akan mendapatkan
derajat orang sufi. Kecuali melewati enam aqabah (jalan rumpil yang
terletak dipinggir gunung).
1.
Mengunci,
pintu-nya kemulyaan, dan membuka pintu kerendahan.
2.
Mengunci,
pintu kenikmatan, dan membuka pintu kesulitan.
3.
Menguci,
pintu istirahat, dan membuka pintu kepayahan.
4. Menguci, pintu-nya tidur, dan membuka
pintu-nya sadar.
5.
Mengunci,
pintu-nya kaya dan membuka pintu kefakiran.
6.
Menguci,
pintu-nya angan-angan, dan membuka pintu-nya persiapan setelah mati.
Berkata
Ibrahim Al Khawas, aku berada digunung lattam, aku melihat rumman (delima)
yang membuatku syahwat (keinginan yang sangat) untuk memakan-nya , aku
mendekati rumman, aku mengambil salah satu diantara-nya, kemudian
membelah-nya, akan tetapi rumman tersebut masam. Kemudian aku
meninggalkannya, setelah itu aku pergi meninggalkan rumman tersebut. Lalu
aku menjumpai seorang gembel, tubuhnya yang sakit sampai dipenuhi belatung.
Aku ucapkan kepadanya, “Assalamu’alaikum”
Dia menjawab “Wa’alaikumussalam.. wahai
ibrahim”.
Aku bertanya kepada-nya “Bagaimana kamu
mengenalku”.
Man ‘arafa allah, lam yakhfa sya’un. jawab-nya!
Barangsiapa yang kenal dengan Alloh,
maka tidak ada yang samar sedikit-pun.
Aku berkata: Aku melihatmu pada suasana
ketuhanan bersama Alloh. Jika kamu memohon kepada Alloh, supaya menjaga Alloh,
dari belatung-belatung itu.
Dia menjawab: kamu ini aneh, Aku
melihat-mu dalam suasana ketuhanan bersama Alloh, mbok ya kamu memohon kepada
Alloh, supaya Alloh menjagamu dari
syahwat-nya rumman. Karena sesungguhnya syahwat-nya rumman,
seseorang akan menerima kekecewan yang mendalam kelak diakhirah. Dan sesungguhnya
gigitan belatung hanya saya terima didunia saja.
Dan Berkata Syaikh Sirri As Saqathi
berkata, sesungguhnya nafsuku menuntutku. Selama tiga puluh tahun, atau mungkin
empat puluh tahun. Permintaannya supaya menyelupkan garpu pada manisan anggur. Maka
aku tidak menuruti memakannya.
Ibrahim Al Khawwas ini, orang elit
dalam tatanan menata hati, memutuskan syahwat. Tentunya terhitung cacat jika
mengikuti syahwat (keinginan), meskipun hanya memakan rumman (delima).
Seorang hamba tidak selayaknya putus asa dalam mencegah menuruti syahwat
(keinginan). Setidaknya memakan apapun tidak didasarkan pada nafsu, syahwat.
.jpg)
No comments:
Post a Comment